Tampilkan postingan dengan label sanggar seni cirebon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanggar seni cirebon. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2020

Mengenal Lebih Jauh Apa itu Tari Topeng


Indonesia adalah Negara yang kaya akan kebudayaan tradisional. Negara yang mempunyai kesenian tradisional yang sangat beragam, seperti tarian-tarian daerah. Tarian pada setiap daerah memiliki keunikan sendiri-sendiri. Salah satu tarian asli dari Indonesia yang cukup unik adalah Tari Topeng.

Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java mendeskripsikan bahwa kesenian topeng Cirebon merupakan penjabaran dari cerita Panji dimana dalam satu kelompok kesenian topeng terdiri dari dalang (yang menarasikan kisahnya) dan enam orang pemuda yang mementaskannya diiringi oleh empat orang musisi gamelan.

SERBA-SERBI TARI TOPENG

1. TEMPAT PAGELARAN
Tari Topeng Cirebon pada zaman dahulu biasanya dipentaskan menggunakan tempat pagelaran yang terbuka berbentuk setengah lingkaran, misalnya di halaman rumah, di blandongan (tenda pesta) atau di bale  (panggung) dengan obor sebagai penerangannya, tetapi dengan berkembangnya zaman dan teknologi, tari Topeng Cirebon pada masa modern juga dipertunjukan di dalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya.

2. TUJUAN PAGELARAN
Tujuan diselenggarakan suatu pagelaran tari Topeng Cirebon secara garis besar dibagi kedalam tiga tujuan utama yaitu:

1. Pagelaran komunal, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk kepentingan bersama masyarakat, sehingga hampir seluruh masyarakat ditempat tersebut berpartisipasi dalam pagelaran ini, acara yang dipertunjukan pun sangat spektakuler dengan adanya arak-arakan dalang, atraksi seni dan sebagainya serta digelar lebih dari satu malam, contoh dari pagelaran komunal diantaranya adalah hajatan desa, ngarot kasinoman (acara kepemudaan), ngunjungan (ziarah kubur).

2. Pagelaran individual, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk memeriahkan hajatan perorangan, contohnya adalah pernikahan, khitanan atau khaulan (melaksanakan nazar atau janji).

3. Pagelaran bebarangan, merupakan acara pagelaran keliling kampung yang inisiatifnya datang dari dalang topeng itu sendiri,biasanya dilakukan oleh dalang topeng ke wilayah - wilayah desa yang sudah panen, wilayah desa yang ramai atau datang ke berkeliling di kota dikarenakan desanya belum panen, sedang mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.

3. STRUKTUR PAGELARAN
Struktur pagelaran dalam tari Topeng Cirebon bergantung pada kemampuan rombogan, fasilitas gong yang tersedia, jenis penyajian topeng dan lakon (cerita) yang dibawakannya. Secara umum, struktur pertunjukan tari Topeng Cirebon dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu:

1. Topeng alit, memiliki struktur yang minimalis baik dari segi dalang, peralatan, kru dan sajiannya. Jumlah rata-rata kru dalam struktur pagelaran topeng alit biasanya hanya terdiri dari lima sampai tujuh orang yang kesemuanya bersifat multi peran, dalam artian tidak hanya seorang dalang Topeng saja yang membawakan babak topeng, tetapi para wiyaganya juga ikut membantu dengan memberikan guyonan-guyonan ringan. Dialog dalam topeng alit dilakukan secara spontan berdasarkan situasi yang ada.

2. Topeng gede, memiliki struktur yang lebih besar dan baku jika dibandingkan dari penyajian topeng alit. Hal tersebut dikarenakan topeng gede merupakan bentuk penyempurnaan dari topeng alit, struktur topeng besar diantaranya, adanya musik pengiring (tetaluan) yang lengkap, adanya lima babak tarian yang berurutan seperti panji, samba, rumyang, tumenggung dan klana, adanya lakonan serta jantuk (basihat) yang diberikan pada akhir pagelaran topeng gede.

4. JENIS TARI TOPENG
Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng kelana kencana wungu merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan  yang menceritakan ratu Kencana wungu yang dikejar-kejar oleh prabu Minakjingga yang tergila-tergila padanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru ,ewakili karakter yang lincah namun anggun. Minakjingga (disebut juga kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, tempramental dan tidak sabaran. Tari ini merupakan karya Nugraha Soeradiredja.

5. TOPENG PELENGKAP
Pada era sebelum tahun 70-an, menurut Ki Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) terdapat juga topeng-topeng lainnya yang menjadi pelengkap babak dalam pagelaran tari Topeng Cirebon, mereka adalah:

1. Tembem, Patrajaya, Prasanta, Sabdapalon.
2. Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng.
3. Sentingpraya bapaknya Jinggananom (dipercaya sebagai tokoh berdarah Tionghoa).
4. Ngabehi Subakrama ayah Tumenggung Magangdiraja.

Pada era sekitar tahun 60-70-an topeng-topeng pelengkap seperti Sentingpraya masih dipentaskan pada pagelaran dinaan (pagelaran siang) tari Topeng Cirebon, pada periode tersebut menurut Ki Waryo, babak tumenggung Mangangdiraja melawan Jinggananom akan diteruskan adegannya dengan mementaskan adegan Aki-aki perangan dimana tokohnya adalah Sentingpraya, ayah dari Jinggananom, dikarenakan Sentingpraya diwujudkan sebagai seorang tokoh berdarah Tionghoa, maka pada pagelaran tari Topeng Cirebon Sentingpraya disebut juga dengan nama Babah Sentingpraya.

6. PROSES PEWARISAN
Pada tari Topeng Cirebon, yang dimaksud proses pewarisan keahlian adalah mewariskan kemampuan dari generasi yang lebih tua kepada yang lebih muda, proses pewarisan atau pengalihan pengetahuan ini erat hubungannya dengan praktik adat istiadat dalam konteks sebuah desa dan sesuai dengan lingkungan, adat, serta kepercayaan setempat. Secara garis besar proses pewarisan keahlian dalam tari Topeng Cirebon dibagi kedalam dua metode, yakni:

1. Proses pewarisan secara tradisional, proses pengalihan pengetahuan ini biasanya tidak dilakukan melalui pembelajaran yang spesifik, melainkan melalui pengalaman sehari-hari, pengamatan, dongeng-dongeng nenek moyang. Murid dalam proses tradisional ini biasanya selalu mengikuti pagelaran tari topeng yang dilakukan oleh gurunya, sehingga ia dituntut untuk mendengarkan dan melihat apa yang dilakukan gurunya diatas panggung pagelaran, pada proses ini, murid belajar dengan cara mendengarkan, melihat dan kemudian mengembangkan sendiri pola-pola gerakan tari Topengnya miliknya.

2. Proses pewarisan secara modern, proses pengalihan pengetahuan ini biasanya dilakukan di sanggar-sanggar tari milik para dalang Topeng Cirebon, murid tidak hanya mendengarkan dan melihat gurunya mementaskan tari Topeng Cirebon saja, tetapi juga diajarkan pola-pola gerakan yang didapat gurunya secara turun temurun mulai dari kuda-kuda, gerakan tangan, tatapan wajah dan lainnya, sehingga pada proses ini bisanya memunculkan pola gerakan yang kurang lebih sama antara murid yang satu dengan yang lain di dalam satu sanggar tari.

7. PERKEMBANGAN
Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang  dan rebab merupakan ciri khas lain dari tari topeng.

Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya.

Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, indramayu. Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, tetapi ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.


Sabtu, 04 Januari 2020

Serupa Namun Tak Sama, inilah 5 Perbedaan Tari Topeng di Nusantara




Assalamuaalaikum wr.wb teman-teman semuanya!

Balik lagi nih sama saya kali ini saya akan membahas artikel tentang perbedaan tari topeng dari berbagai daerah. Oke langsung saja ya, selamat membaca!

Indonesia merupakan surga bagi budaya dan setiap jengkal dari Indonesia memiliki adat istiadat yang unik dan berbeda-beda setiap daerahnya loh!. Nah, dari adat istiadat dan budaya tersebut terurai kembali jadi ragam seni yang sangat memukau. Seni Tari adalah salah satunya. Sudah bukan rahasia lagi jika negara ini punya banyak sekali tarian yang memiliki gerakan-gerakan memukau. Terlihat sederhana tapi penuh makna.

Tari Topeng – Indonesia adalah Negara yang kaya akan kebudayaan tradisional. Negara yang mempunyai kesenian tradisional yang sangat beragam, seperti tarian-tarian daerah. Tarian pada setiap daerah memiliki keunikan sendiri-sendiri. Salah satu tarian asli dari Indonesia yang cukup unik adalah Tari Topeng.

Salah satu tari yang jadi ciri khas Indonesia adalah tari topeng. Eits, jangan salah, di antara tari-tari yang lain bisa dibilang tari topeng nusantara ini paling punya variasi yang sangat beragam. Terganung dari siapa dan dari mana sang penari berasal. Tari topeng yang berasal dari Jakarta akan jauh berbeba dengan tari topeng yang berasal dari Bali. Begitu juga tari topeng yang berasal dari Cirebon akan jauh berbeda dengan tari topeng yang berasal dari Magelang. Kekayaan itu lah yang mesti kita pelajari. Setidaknya kalau kita tak sempat belajar menari, kita bisa mengerti perbedaan-perbedaan tari topeng dari satu daerah dan daerah lain. Nah, karena itulah saya akan coba sajikan beberapa macam tari topeng nusantara dari berbagai daerah di indonesia, supaya kamu dapat membedakan tari topeng yang satu dan yang lain.

1. Tari Topeng Betawi

Kita mulai dari Ibukota Jakarta dahulu ya. Masyarakat Betawi memang memiliki kesenian tari tradisional yang cukup termasyhur di Indonesia. Selain kesenian Lenong, kesenian Tari Topeng juga masuk ke dalam list budaya unggulan orang-orang betawi. Tari Topeng Betawi biasanya dimulai dengan alunan musik yang dimainkan. Setelah itu para penari masuk dalam keadaan sudah mengenakan topeng. Topeng-topeng ini disematkan diwajah dengan cara digigit. Mereka menari sesuai dengan tema yang dibawakan. Mulai dari legenda, kritik sosial, sampai dengan kehidupan masyarakat. Tari ini memang seperti memiliki cerita.  Kini Tari Topeng Betawi banyak dipentaskan sebagai pertunjukan budaya. Keunikan dan kekayaan gerakan membuat tarian ini tetap digemari oleh masyarakat sekitar.

2. Tari Topeng Bali

Lalu kita beranjak ke pulau Dewata. Pulau seribu wisata ini juga menyimpan banyak sekali keanekaragaman budaya. Salah satunya Tari topeng Bali. Tari topeng Bali adalah salah satu daya pikat bagi provinsi yang beribukota di Denpasar itu. Nah, Tari Topeng Bali ini mirip dengan pagelaran drama, yakni ada jalan ceritanya. Meski begitu semua dilakukan dengan menggunakan gerakan. Terlebih, Tari Topeng Bali ini memang memiliki alur cerita tersendiri. Biasaya ada seorang narator yang menjabarkan tentang lakon cerita tari topeng Bali ini. Seorang yang berperan menjadi narator juga harus mengenakan topeng. Tapi ada perbedaan antara topeng yang digunakan oleh narator dengan topeng yang digunakan oleh penari, bedanya topeng yang dipakai oleh narator ini adalah topeng separuh wajah saja. Nah, Tari Topeng Bali ini dimainkan dengan menggunakan latar belakang alat musik gamelan. Penggunaan topeng dalam tarian khas Bali ini adalah sebagai wujud dari pemujaan untuk para leluhur masyarakat Bali. Setiap kali tari topeng bali ini dipentaskan, maka jaminannya adalah banyaknya penonton yang hadir untuk menikmati acara pementasan tari topeng Bali ini.

3. Tari Topeng Cirebon

Kota udang ini juga memiliki kesenian dalam bidang pementasan tarian yang menggunakan properti topeng. Bahkan bisa dibilang kesenian tari topeng menjadi tontonan budaya andalan yang ada di Kota paling timur Jawa Barat ini. Tari Topeng Cirebon memang memiliki banyak sekali variasi. Mulai dari variasi daerah sampai dengan variasi topeng. Ya, gerakan tarian topeng ini ditentukan dari topeng apa yang akan dipakai. Ada lima macam topeng yang biasanya dikenakan yaitu:  Topeng Panji, Topeng Patih, Topeng Rumiyang, Topeng Samba dan tentu saja yang paling terkenal adalah Topeng Kelana. Kelima topeng tersebut memiliki filosofinya masing-masing. Filosofi itu akan masuk pula dan memengaruhi gerakan pada tarian. Kesenian tari Topeng Cirebon juga pernah di tulis oleh Thomas Stamford Rafflesh dalam bukunya yang berjudul The History of Java.

4. Tari Topeng Magelang

Kota Magelang juga punya karya tarinya tersendiri juga, salah satunya adalah tari topeng yang menjadi bagian dari kota Magelang yang tidak bisa dilepaskan. Tari Topeng Magelang atau biasa orang menyebutnya juga Tari Topeng Ireng adalah tarian yang dilakukan dengan beramai-ramai, bisa sampai 10 orang atau lebih. Salah satu daya pikat dari tari topeng ini adalah kostum yang dipakai oleh para penari. Benar-benar di luar pakaian atau kostum Jawa. Kostum yang dipakai ini justru lebih identik dengan pakaian dari adat suku Dayak di Kalimantan. Nah, Tari Topeng Magelang ini adalah sebagai sarana hiburan bagi masyarakat sekitar. Jika tari ini sudah mulai menetas, maka keriuhan akan terjadi. Dalam tarian ini, mulut para penari akan berteriak-teriak dengan kencang. Kaki mereka para penari yang sudah disematkan benda seperti gelang akan terus dihentakkan sehingga timbul suara gemerincing yang berisik. Belum lagi tepukan tangan dari para penonton sebagai apresiasi. Tari Topeng Magelang ini memang selalu seru untuk ditonton pertunjukannya.

5. Tari Topeng Malang

Kota Apel ini juga memiliki kesenian khas tari bertopeng. Kota yang terletak di Jawa Timur ini memiliki kesenian Tari Topeng Malangan. Tari topeng ini juga memiliki alur cerita seperti halnya dengan tari topeng yang berasal dari Bali. Tapi, jika dilihat tari ini juga mirip dengan kesenian adat Jawa lain yaitu wayang orang. Ya, dalam Tari Topeng Malangan, terdapat seorang dalang yang mengatur jalan cerita. Selain itu, ada empat sesi untuk mementaskan tarian ini. Sesi pertama adalah Gending Giro. Sesi ini adalah sesi di mana alat musik seperti gamelan dimainkan. Gending giro dilakukan untuk mengundang masyarakat untuk menyaksikan. Kedua ada salam pembukaan. Sesi ini dilakukan untuk menceritakan sinopsis dari lakon yang akan dimainkan oleh para penari. Ketiga ada sesajen. Hal ini adalah ritual permohonan agar acara bisa berjalan dengan baik. Dan yang keempat adalah acara inti dari pagelaran. Meski unik dan terbilang cukup epic, Kesenian asli Malang ini kini mulai sepi pementasan dan terancam akan punah. Karena itu, sudah selayaknya sebagai masyarakat asli Indonesia kita turut melestarikan dan menjaga agar segala budaya kita dapat terus abadi.

Nah... Gimana nih teman-teman sudah tau kan perbedaannya.. terimakasih sidah membaca..

Wassalamualaikum wr.wb

Selasa, 24 Desember 2019

NILAI ESTETIK TARI TOPENG




Assalamualaikum wr.wb halo teman-teman semuanya! Kali ini kita bakal ngebahas apa aja sih nilai estetika dari tari topeng ini...
mau tau? Yuk kita baca...

Topeng merupakan benda yang dipakai di atas wajah. Pada umumnya topeng dipakai untuk mengiringi musik kesenian daerah yang melambangkan nilai-nilai penghormatan, sesembahan atau memperjelas watak serta karakter dalam mengiringi kesenian. Topeng telah ada di Indonesia sejak zaman prasejarah. Secara luas digunakan dalam tari topeng yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur.
Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Pada masa modern saat ini topeng merupakan salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, namun sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit diterjemahkan dengan bahasa logika.
Sama halnya dengan topeng Cirebon Jawa barat, terbuat dari kayu hasil bumi hutan Cirebon seperti kayu pule dan kayu sengon yang memiliki kriteria lunak dalam pengerjaannya awet dan kuat, akan tetapi harus membutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta waktu yang cukup dalam proses penciptaannya. Secara turun temurun kerajianan khas topeng Cirebon yang merupakan hasil kebudayaan Kota Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok, topeng atau penutup wajah. Sejarah menunjukkan kemunculan seni karya Topeng Cirebon di mulai pada masa kesultanan Cirebon yang bermuatan seni bernafaskan ajaran agama islam dan dipergunakan untuk kepentingan dakwah.
Menurut literatur, Topeng Cirebon merupakan gambaran sangat puitik mengenai hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangan berbeda-beda sifatnya.
Topeng Cirebon pada awalnya berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon dengan cepat mengalami transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaan yang terjadi pada saat ini, yakni berkembangnya berbagai gaya Topeng Cirebon seperti, Losari, Selangit, Kalianyar, Kreo, Palimanan serta berkembang di pelosok-pelosok Kecamatan Klangenan, Plumbon, serta Arjawinangun.
Topeng Cirebon dikenal sebagai Panca Wanda (Lima Rupa) yang merupakan alat bantu Tarian Topeng Cirebon. Berdasarkan kepercayaan dari sejarah dan budaya Cirebon, Topeng Babakan Lima Wanda memiliki fakta-fakta yang dapat diukur dengan pendekatan spiritual dan sifat-sifat manusia di Cirebon, sehingga di dalamnya memiliki muatan makna keilmuan yang dimiliki oleh peradaban budaya asli Cerebon seperti yang pernah kita bahas sebelumnya... pada masing - masing topeng memiliki arti dan makna yag berbeda - beda.
Simbol yang kuat dalam karekter penciptaan Topeng Cirebon adalah bentuk nyata dari ragam penciptaan semesta berdasarkan kepercayaan Indonesia purba dimasa peradaban Hindu-Budha-Majapahit, yang mampu memahami segala bentuk dari ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal, yang telah menyempurnakan umat manusia di muka bumi ini. Secara khusus, Topeng Cirebon membangun pahamisme dari diri manusia itu sendiri tentang gambaran yang sangat puitik, dari hadirnya alam semesta serta umat manusia. Kemudian ditangkap oleh akal manusia bahwa, Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya, bergerak lambat dan pasti mampu menghasilkan kolaborasi seni dari rupa berkarakter unsur kemanusiaan, yang tersusun dari kerajianan seni berbentuk topeng yang dikenal saat ini dengan penggambaran yang sangat menarik.

Implementasi nyata yang dikembangkan dalam dimensi Topeng Cirebon yang dikomunikasikan kepada masyarakat adalah dengan menggunakan media pendukung seperti olah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu, diiringi oleh tetabuhan atau bunyi-bunyian, dan disebut musik sebagai pengiring gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan oleh para penari. Ekspresi tari yang terbalut dengan karakter penokohan topeng menjadi alat utama komunikasi untuk menyampaikan pesan sakral dan yang mampu menjiwai diseluruh benak para penikmat seni olah gerak tari topwng ini.

Rekontruksi Topeng Cirebon dilihat dari kacamata sejarah dan budaya, tidak terlepas dari unsur kesenian tari. Dapat dipastikan bahwa, serpihan-serpihan tarian yang saat ini ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Artinya gerakan tari bermuatan dari unsur karakter penokohan yang terdapat dalam penjiwaan bentuk topeng tersebut sehingga, simbol yang memadukan unsur tari dan seni musiknya tidak terlepas dari dimensi keharmonisasian wajah topeng yang di komunikasikan kepada publik diatas pentas seni khasa kecirebonan.

Tari Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sangat sakral. Bukanlah sebuah hiasan semata saja ataupun sekedar tontonan maupun hiburan rakyat tapi, berdasarkan catatan kitab-kitab lama seperti Babatan Jawa menjelaskan bahwa dimana ketika seni tari di pertunjukanan didalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya di kalangan bangsawan kerajaan, dan untuk menarikan topeng ini diperlukan pula laku puasa, pantangan, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

Sejak terciptanya Tari Topeng Cirebon, dimasa lalu menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh kalangan bangsawan atau kerajaan.

Namun, di zaman modernisassi saat ini, kesenian khas kota Cirebon terwariskan secara alamian dan tu.topeng Cirebon ini, telah mampu membangun sistem ekonomi kelompok seni yang telah menguasai seni keceribonan secara menyeluruh dan diperkuat dengan adanya tingkat kesadaran masyarakatnya yang tinggi akan menjunjung harkat derajat serta martaban dari peradaban seni budaya lokal khas Cirebon ini. Hingga kini seni Tari Topeng Cirebon mulai dikenal diseluruh penjuru tanah Pasundan, khususnya wilayah Utara Jawa Barat. Pengembangan seni budaya terus digiatkan oleh sinergi berkuatan dari Pemerindah Daerah (pemda) Kota Cirebon (Agus Sukmadi).

Wassalamualaikum wr.wb
Terimakasih telah membaca teman-teman :)

Selasa, 17 Desember 2019

SEJARAH TARI TOPENG KLANA



Assalamualaikum wr.wb
Hallo teman-teman! Kali ini kita bakal bahas tentang apasih tari topeng kelana itu? Berhubung di SANGGAR PURBASARI ini lebih sering menampilkan tari topeng kelana. Yuk kita baca...

Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Cirebon, termasuk Indramayu, Losari, Jatibarang, dan Brebes. Tarian ini salah satu tarian di tatar Parahyangan. Di Cirebon, tari topeng ini banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan ataupun cerita yang ingin disampaikan oleh para penari. Terkadang tari topeng akan dimainkan oleh satu penari dengan tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa penari.

Salah satu dari jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon  yang paling sering dimainkan adalah Tari Topeng Klana. Tari topeng klana ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu seperti Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan secara bersama-sama atau digabungkan dan biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.

Tari Topeng Klana ini merupakan salah satu gerakan tari yang menceritakan sang Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan dari sang Ratu Kencana Wungu, sampai kemudian sang prabu minakjingga (klana) mulai berusaha mendapatkan sang pujaan hatinya Sang Ratu Kencana Wungu. Akan tetapi upaya untuk pengejarannya tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya. Sang Prabu minakjingga ( klana ) ini pun sangat marah dan kecewa. Kemudian kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikannya dan dibendung memutuskan untuk membeberkan segala tabiat buruk dari Sang Ratu Kencana Wungu.

Pada dasarnya tari topeng klana ini bentuk serta warna topeng akan mewakili sebuah karakter atau watak dari tokoh yang dimainkannya. Klana, dengan topeng dan busana yang didominasi oleh warna merah mewakili karakter yang sangat tempramental. Pada tarian ini, Klana yang merupakan orang yang memiliki watak serakah, penuh amarah, serta tidak dapat menjaga hawa nafsu yang dimilikinya akan divisualisasikan ke dalam gerakan - gerakan tubuh seperti langkah kaki yang panjang-panjang dan juga menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka dengan jari-jari yang selalu mengepal.

Sebagian dari gerak tari klana ini menggambarkan seseorang yang sangat gagah, mudah marah, seseorang yang mabuk, atau seseorang yang tertawa terbahak-bahak. Tarian ini dapat pula dipadukan dengan irama Gonjing yang kemudian dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya yang terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) serta bagian ngedok (tari yang memakai topeng).
Beberapa dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang. Bagian kedua, adalah Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.


Sejarah Tari Topeng Kelana
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana ini. Yang pasti, tari topeng klana ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam sejarah Kerajaan Singasari yang terdapat pada Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk yang sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.

Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dapat dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan saja. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada para perempuan dalam lingkungan sekitar kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai sarana hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika para penari belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh seorang laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, tari topeng klana pun juga mengalami perkembangan dari zaman ke zamannya, kini perempuan juga diperbolehkan mempelajari tari topeng klana dan  banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari topeng klana ini cenderung lebih energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan tubuh untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran dari seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.

Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana ini merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana, para raja di Pulau Jawa sebelum kemudian mulai berkembang di daerah Cirebon.

Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari topeng klana ini sebagai sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton masyarakat sekitar.

Tari topeng Klana sering pula disebut dengan topeng Rowana. Sebutan itu mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh wayang Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji. Di Cirebon, topeng Klana dan Rowana kadang-kadang diartikan sebagai tarian yang sama, namun bagi beberapa dalang topeng, misalnya Sujana dan Keni dari Slangit; Sutini dari Kalianyar dan Tumus dari Kreo; membedakan kedua tarian tersebut, hanya kedoknya saja yang sama. Jika kedok Klana yang ditarikan itu memakai kostum irah-irahan atau makuta Rahwana di bagian kepalanya dan di bagian punggungnya memakai badong atau praba, maka itulah yang disebut topeng Rowana. Kostumnya jauh berbeda dengan topeng Klana dan kelihatan sangat mirip dengan kostum tokoh Rahwana dalam wayang wong.

Dalam pertunjukan topeng hajatan, yakni setelah tari topeng tersebut selesai, penari biasanya melakukan nyarayuda atau ngarayuda, yakni meminta uang kepada para penonton, tamu undangan, pemangku dan panitia hajat, para pedagang, dan lain-lain. Ia berkeliling seraya mengasong-asongkan kedok yang dipegang terbalik–bagian dalamnya terbuka dan bagian wajahnya menghadap ke bawah–dan kedok berubah fungsi menjadi wadah uang. Mereka memberikan uang seikhlasnya tanpa merasa ada suatu paksaan. Setelah merasa cukup, penari kembali ke panggung dan sebagai rasa terima kasih, ia kembali mempersembahkan beberapa gerakan tari topeng Klana, sebagai tarian ekstra.

Nyarayuda atau ngarayuda adalah sebuah pesan moral atau simbol yang mengingatkan kita tentang bagaimana sebaiknya beretika di masyarakat. Klana adalah seorang raja yang kaya raya, yang tak kurang suatu apapun, namun ia masih merasa kekurangan, merasa segalanya belum cukup, sehingga ia tetap berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya harta tanpa memperdulikan apakah itu hak atau batil. Itulah sebenarnya pesan yang ingin disampaikan nyarayuda, yang artinya bukan semata-mata mengemis. Hidup, sebaiknya lebih banyak memberi daripada lebih banyak meminta. Itulah pesan yang ingin disampaikan pada tari topeng klana ini.

Terimakasih sudah membaca! Wassalamualaikum wr.wb

Minggu, 15 Desember 2019

PROSES PEMBUATAN TOPENG



Assalamuaalaikum wr.wb
Hallo teman – teman balik lagi nih sama kita jangan bosen – bosen yah! Kali ini kita bakal bikin artikel tentang proses pembuatan topeng itu sendiri yuk kita baca...

Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang  sangat tepat,  serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya loh.  Bahkan ada juga seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga memakan waktu sampai  satu hari, menurut keterangan dari Ki Kandeg (ahli pembuat topeng Cirebon) pada masa lalu kayu yang biasa digunakan untuk pembuatan topeng adalah kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga dan kayu Lame. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok ( bahasa Indonesia : topeng ) diantaranya adalah kesenian tari Topeng khas Cirebon. Topeng Cirebon ini dibuat oleh seorang ahli kedok yang cukup mumpuni, biasanya keahlian para ahli kedok berkembang seiring dengan perkembangan kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok tersebut dimana keahliannya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu ahli pembuat kedok atau topeng yang terkenal diantaranya adalah Ki Waryo putera dari maestro kesenian Cirebon Ki Empek.

Filosofi topeng Cirebon

Topeng dalam filosofi kebudayaan Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok atau topeng  dalam artian penutup wajah, namun topeng juga dipandang sebagai hiasan yang dipasang menempel pada bagian depan sorban atau biasa disebut juga sebagai penutup kepala,  hal tersebut terbukti dengan adanya ungkapan di masyarakat Cirebon yang berbunyi ketop-ketop gopeng yang memiliki arti hiasan pada bagian depan sorban yang dibenarkan oleh mimi Wangi Indriya (maestro tari Topeng Cirebon gaya Tambi).

Sejarah topeng Cirebon

Pada masa awal munculnya kesenian topeng khas Cirebon terutama pada masa kesultanan Cirebon kesenian yang berkaitan dengan topeng atau kedok merupakan kesenian yang bernafaskan Islam karena digunakan sebagai sarana dakwah dalam penyiaran agama Islam.
Topeng pada masa kesultanan Cirebon
Pada masa kekuasaan Sunan Gunung Jati di kesultanan Cirebon kesenian topeng dikaitkan dengan sarana dakwah Islam,  Sunan Gunung Jati melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif dengan masyarakat daerah sekitar  salah satunya adalah dengan kesenian Topeng Cirebon.
Pada masa yang sama atau pada tahun yang sama, Sunan Kalijaga juga membantu penyebaran dakwah Islam dengan menggunakan kesenian tari  topeng Cirebon,  menurut para ahli budayawan Cirebon Toto Suanda, Sunan Kalijaga mengajarkan kepada murid-muridnya yaitu Pangeran Bagusan, Ki buyut Trusmi dari desa Trusmi, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon dan Pangeran Losari tentang kesenian topeng Cirebon, dari merekalah kemudian kesenian tari topeng Cirebon menyebar ke berbagai wilayah seperti wilayah Indramayu, Majalengka dan wilayah-wilayah lainnya yang kemudian berkembang menjadi pelengkap penampilan dari gaya-gaya tari Topeng Cirebon.

Cara Pembuatan topeng khas Cirebon



Langkah-langkah pembuatan topeng Cirebon adalah sebagai berikut:

1. Kayu gelondongan atau kayu yang masih utuh dan sudah dipotong – potong dibentuk menjadi bentuk segitiga  dan dihaluskan permukaannya
2. Mulai dipahat sedikit demi sedikit terutama untuk peletakan bagian - bagian wajah seperti mata, pipi, dan bibir. Jangan lupa  bagian hidung harus lebih timbul dari bagian lainnya.
3. Setiap permukaan wajah mulai dibentuk dengan menggunakan alat ukir seperti pahat
4. Setelah bentuk mulai  cukup rapih, kemudian seluruh permukaan wajah diolesi oleh cat dasar,  kemudian diamplas.
5. Diamkan cat hingga cat mulai mengering, jika cat  mulai kering,  langkah selanjutnya adalah mulailah bentuk wajah topeng itu  dan didandani dengan menggunakan cat warna.  Tentu saja disesuaikan dengan jenis topeng yang ingin dibuatnya.

Semua jenis topeng yang di buat ini akan dikenakan pada saat pementasan tari topeng khas daerah Cirebonan yang diiringi dengan alat musik  gamelan.

Jenis –jenis Topeng Cirebon yang paling pokok atau paling utama ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda yaitu sbb:

1. Topeng Panji
Topeng Panji yang berwarna putih bersih ini melambangkan kesucian bayi yang baru lahir.
2. Topeng Samba (Pamindo)
Topeng Samba ini  menggambarkan topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah
3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang ini wajahnya menggambarkan seorang remaja
4. Topeng  Tumenggung atau Patih
Topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab
5. Topeng Kelana ( Rahwana )
 Topeng Kelana ini topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah
Menurut Hasan Nawi, salah seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.

Selain lima topeng yang ada biasa ditampilkan, menurut Ki Waryo (seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan ) pada masa lalu didalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu yang dibuktikan dengan keberadaan topeng ini yang tersimpan pada dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan.

Proses pembuatan topeng Kencana Wungu:
Proses Awal pembuatan topeng Kencana Wungu oleh Ki Waryo ( seorang ahli pembuat topeng sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan ) dengan bahan baku dari kayu Jaran.

Pewarisan keahlian
Pewarisan keahlian dari pembuatan topeng khas Cirebon ini biasanya dilakukan secara turun temurun dari generasi tua ke generasi muda yang sudah berjalan selama ratusan tahun dan ada pula proses pewarisan keahlian yang dilakukan dengan cara bertahap seperti  pembelajaran dari guru kepada muridnya.

Tukang kedok

Ki Sujana Priya salah satu seorang seniman dari beberapa tukang kedok (bahasa Indonesia : ahli pembuat topeng) di Cirebon, beliau mengatakan jika  keterampilan membuat kedok beliau pelajari dari Ki Kandeg sekaligus sebagai seorang pelaku Wayang Wong gaya khas daerah Cirebon.
Ki Waryo, putera dari Ki Empek ( atau yang biasa disebut maestro kesenian daerah Cirebon ). Ki Waryo mewarisi bakat dari keluarganya sebagai seorang seniman multitalent kesenian di Cirebon,  salah satu dari keahlian Ki Waryo adalah membuat kedok khas daerah Cirebon.

Tentunya membuat sebuah karya seni seperti topeng butuh keahlian dan ketelitian yang sangat dibutuhkan dalam proses pembuatannya. Jadi teamn – teman tidak sembarang orang yang dapat melakukan pembuatan topeng ini yah.. perlu keahlian khusus.

Bagaimana nih ... informasi dari artikel yang kita sajikan ini? Cukup menarik bukan ... sekian dulu yang dapat kita informasikan mengenai topeng khas daerah cirebon ini yah... mohon maaf jika ada salah- salah dalam penulisan atau hal – hal yang tidak sesuai. Terimakasih telah membaca! :)

Wassalamualaikum Wr.Wb

FILOSOFI TOPENG DI CIREBON


               FILOSOFI TOPENG DI CIREBON

Assalamualaikum wr.wb teman-teman! Balik lagi nih sama blog kita, Kali ini kita bakal ngebahas tentang aneka ragam jenis Topeng pada Tari Tradisional tari topeng ini. Selamat membaca!..

Kesenian Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu warisan budaya dan sejara di Kawasan atau daerah sekitaran pintura. Di Cirebon tari topeng memiliki dua varian, yaitu Topeng Babakan Lima Wanda dan Topeng Lakon. Lazimnya berbagai daerah di Nusantara, Cirebon juga memiliki tarian tradisional yakni tari topeng yang memiliki berbagai jenis dengan keunikannya dan makna yang terkandung di dalmanyya pada setiap masing-masing tarian.
Topeng sendiri sebenarnya memiliki makna atau simbol dari perjalanan hidup manusia jadi jenis-jenisnya itu maknanya sbegai perjalanan hidup
Berikut ini ragam jenis Topeng pada Tari Topeng Cirebon yang kini mulai langka loh…
1. Topeng Panji
Topeng Panji ( Mapan Ingkan Siji ) atau yang berarti  senantiasa bergantung pada sang pencipta hingga kematian seseorang itu tiba ) .
Tarian ini melambangkan kesucian anak yang baru lahir, putih, bersih, tabularasa ibarat bayi yang baru lahir. Warna pada topeng panji ini adalah putih polos serta hanya terdapat mata, hidung, mulut tanpa guratana lainnya hingga pakaian juga berwarna serba putih, seperti kata pepatah yang mengatakan jika semua orang atau manusia terlahir bagai selembar kertas putih, bersih tanpa noda sekecil apapun.  Gerakan pada tari topeng ini sangatlah hemat, sederhana dan tenang meskipun tarian tari topeng panji ini diiringi denagn suara alat musik yang penuh dengan dinamika. Tari topeng panji ini juga memiliki makna juga loh yaitu tarian yang menunjukan manusia yang sangat suci dan tidak mudah dapat tersentuh oleh hiruk pikuk masalah duniawi yang mengarah pada hal-hal yang negative atau mengarah kepada hal yang buruk. Tari topeng panji ini terkadang sedikit membosankan karena waktunya yang sangat lama dan gerakannya yang tidak banyak dan sangat sederhana hanya Gerakan “ adeg-adeg ”  tapi... jangan salah loh, tari topeng Panji ini justru memiliki makna yang sangat dalam jika kita mampu memahaminya.
2. Topeng Samba
Topeng Samba ( Saban Dina ) atau yang memiliki arti menyembah atau ibadah setiap hari. Untuk jenis topeng samba ini, kehidupan masyarakat Cirebon ini digambarkan memasuki fase biologis anak-anak yaitu kelincahan. Ini terlihat dari tarian pada Topeng samba yang menunjukan tanda-tanda dari keceriaan dan selalu hidup berbahagia. Tari topeng samba ini menarikan dengan gaya yang sangat centil, lucu, genit, lincah dalam mengikuti irama musiknya dan sangat kekanak-kanakan yang menunjukan kesegaran ekspresi dari topeng samba itu sendiri, Tapi masih sangat ragu dan kurang luwes. Topeng Samba ini berwarna kuning gading agak putih bersih tetapi ada sedikit aksen atau hiasan di wajah atas seperti gambar rambut. Untuk kostum topeng samba ini berwarna hijau daun.
3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang ( Arum Ingkang Hyang lan Ramyang – Ramyang ) atau yang berarti sifat labil dari seseorang yang menginjak pada fase remaja dan sedang mencari jati dirinya yang sesuai tuntunan dari Tuhan dan Agama yang dianutnya.
Tari topeng tradisional yang menggunakan topeng rumyang ini menggambarkan atau simbol dari masyarakat Cirebon yang memasuki pada fase remaja atau akhil baligh yang mulai mencari jati dirinya sendiri. Topeng rumyang ini juga berwarna merah jambu yang sangat manis sebagai simbol dari keremajaan masyarakat Cirebon. Dari gerakan tari topeng rumyang ini mulai menunjukan ketegasan dan terstruktur dengan baik tetapi masih ‘ labil’ terlihat dari gerakannya yang berulang-ulang. Tari topeng ini memiliki ukiran yang sangat sederhana, dengan warna dasar pink atau merah muda.
4. Topeng Tumenggung

 Topeng Tumeggung ( Ratu Hyang Agung ) atau yang memiliki arti prinsip hidup untuk memilih dan     memilah mana yang benar atau yang salah, pemimpin yang adil dan sangat bijaksana.
Tarian topeng Tumenggung ini menggambarkan manusia yang sudah memasuki masa dewasa dan sudah menemukan jati diri yang sebenarnya. Diantara Lima Wanda babakan topeng Cirebon, topeng tumenggung merupakan satu-satunya topeng yang menggunakan atribut topi. Topeng tumenggung ini menggambarkan masyarakat Cirebon yang sudah memasuki fase dewasa dan mapan yang memiliki gerak tenang, mantap, tegas, berkepribadian, bertanggung jawab, memiliki jiwa korsa yang paripurna dan sangat dewasa. Pada struktur gerak, topeng tumenggung ini seperti bagian dari tayubdan sangat jauh berbeda dengan topeng yang lainnya, topeng yang digunakan memiliki kumis serta guratan – guratan yang berwibawa dan berwarna merah kecoklatan. Untuk kostum tari topeng tumenggung ini biasanya penari menggunakan warna baju hitam. Bila dilihat di dalam struktur kerajaan tumenggung memiliki arti sebagai patih atau panglima perang kerajaan.
5. Topeng Kelana
Topeng Kelana ( Kala Ing Kana) yang memiliki arti prinsip hidup untuk berbagi selagi kita ada.
Topeng kelana ini menggambarkan perwatakan dari  seorang raja yang memiliki hawa nafsu dan nafsu tersebut harus dikendalikan atau diarahkan pada kebaikan dan tidak membuat kerusakan. Pada fase terakhir jenis-jenis topeng ini adalah topeng kelana. Sebagian besar orang memaknai topeng kelana ini sebagai simbol kerakusan manusia dan angkara murka. Topeng kenala ini menjadi daya Tarik tersendiri untuk para seniman, budayawan dan para pengamat seni topeng. Bentuk dari topeng kelana ini adalah yang paling rumit juga banyak ikatannya diatas topen. Topeng kelana  berwarna serba merah dengan kumis tebal dan tatapan mata yang sangat tebal serta sangat gagah dan kostum penarinya biasanya menggenakan kostum berawarna merah pekat. Pada gerakannya sendiri tari topeng kelana ini lebih mengutamakan kepada mengaktualisasikan diri, agresif, enerjik dan ekspresif yang merupakan akumulasi dari semua gerakan tari topeng sebelumnya,  namun Gerakan pada tari topeng kelana ini sejatinya menggambarkan sebagai manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu atau amarah. Bahkan ada sebuah pendapat yang mengatakan bahawa jenis topeng yang ada di tari tradisional khas Cirebon ini menjelaskan simbol sedulur papat lima pancer atau empat nafsu dalam diri manusia. Nah teman-teman, pada topeng kelana ini menjelaskan simbol dari tingkatan orang yang paripurna tapi bukan dalam konteks angkara murka, melainkan orang yang sudah sampai pada tingkat aktualisasi diri atau ekspresif.

Sekian dulu informasinya yah teman – teman semuanya ! sampai jumpa di artikel kami yang selanjutnya, mohon maaf jika ada penulisan kata atau hal – hal yang kurang berkenan lainnya  terima kasih sudah membaca artikel kami teman-teman. Sekian, Terimakasih

Wassalamualaikum wr.wb

SANGGAR PURBASARI-ARTI DAN MAKNA TOPENG CIREBON



5. ARTI DAN MAKNA TOPENG / KEDOK

     Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.

     Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.

     Menurut pendapat salah seorang seniman dari ujung gebang-Susukan-Cirebon, Marsita, kata topeng berasal dari kata” Taweng” yang berarti tertutup atau menutupi. Sedangkan menurut pendapat umum, istilah kata Topeng mengandung pengertian sebagai penutup muka / kedok.
Berdasarkan asal katanya tersebut, maka tari Topeng pada dasarnya merupakan seni tari tradisional masyarakat Cirebon yang secara spesifik menonjolkan penggunaan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya.
Seperti yang telah diutarakan diatas, bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam seni tari topeng Cirebon mempunyai arti simbolik dan penuh pesan-pesan terselubung, baik dari jumlah kedok, warna kedok, jumlah gamelan pengiring dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan upaya para Wali dalam menyebarkan agama Islam dengan menggunakann kesenian Tari Topeng setelah media Dakwah kurang mendapat Respon dari masyarakat.

     Jumlah Topeng / Kedok seluruhnya ada 9 (sembilan ) buah, yaitu : Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Tumenggung atau Patih, Kelana atau Rahwana, Pentul, Nyo atau Semblep, Jinggananom dan Aki – aki. Dari kesembilan Topeng / Kedok tersebut yang dijadikan sebagai Kedok pokok hanya 5 (lima ) buah yaitu : Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Tumenggung dan Kelana. Sedangkan empat kedok lainnya hanya digunakan apabila dibuat cerita / lakon seperti cerita Jaka Blowo, Panji Blowo, Panji Gandrung dll.

  a. POKOK – POKOK TARI TOPENG
Pokok – pokok Tari Topeng Cirebon ada 9 (sembilan) gerakan yaitu:
1. Adeg-adeg
2. Pasangan
3. Capang
4. Banting Tangan
5. Jangkung Ilo
6. Godeg
7. Gendut
8. Kenyut
9. Nindak / Njanda
Kesembilan gerakan tersebut adalah disesuaikan dengan lubang yang terdapat pada tubuh manusia, yaitu sebagai berikut :
• Dua lubang mata
• Dua lubang telinga
• Dua lubang hidung
• Dua lubang pelepasan (depan dan belakang )
• Satu lubang mulutArti dari kesembilan gerakan tersebut yaitu :
1. ADEG –ADEG (berdiri ) : Artinya kita harus berdiri dengan kokoh agar tidak tergoyahkan.
2. PASANGAN   : Artinya kita senantiasa memberikan suri tauladan kepada orang lain dengan berbuat kebajikan dan kebaikan.
3. CAPANG : Artinya agar kita selalu ringan tangan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.
4. BANTING TANGAN : Artinya kita harus senantiasa bekerja keras.
5. JANGKUNGILO : Artinya mengukur keinginan kita dengan kemampuan yang ada.
6. GODEG : Artinya geleng kepala. Maknanya apabila kita melihat saudara kita sesama manusia yang sedang di landa kesusahan kita senantiasa menggelengkan kepala dan kemudian menolongnya sesuai kemampuan.
7. GENDUT : Artinya dalam hidup ini kita jangan gemuk sendiri karena masih banyak saudara – saudara kita yang kekurangan dan hidup dibawah garis kemiskinan.
8. KENYUT : Artinya Kepincut. Maknanya kita harus kepincut kepada hal – hal yang sifatnya positif dan konstruktif.
9. NINDAK / NJANGKA : Artinya bertindak atau berbuat. Maknanya kita senantiasa harus berbuat kepada jalan yang diridhoi Allah SWT.
TOPENG / KEDOK TAMBAHAN

Seperti diungkapkan diatas, bahwa jumlah kedok seluruhnya ada 9 buah dan yang dijadikan kedok pokok hanya 5 buah. Adapun 4 kedok lainnya digunakan bila mementaskan cerita / lakon.
Berikut ini adalah arti dan makna 4 kedok tambahan, yaitu sebagai berikut :
1. PENTUL : Menggambarkan seorang Pawongan / punakawan yang selalu rendah hati, tidak sombong dan selalu setia kepada tuannya.
2. NYO / SEMBLEP : Menggambarkan seorang Emban atau Parkan atau juga seorang Inang Pengasuh.
3. JINGGANANOM : Menggambarkan seorang Abdi Negara dan Abdi masyarakat Yang senantiasa menempatkan kepentingan pribadi atau golongan.
4. AKI – AKI : Menggambarkan kehidupan manusia di masa tua.

TUJUAN MENDIRIKAN SANGGAR PURBASARI

  TUJUAN MENDIRIKAN SANGGAR PURBASARI


Assalamualaikum wr.wb hallo teman-teman!, balik lagi nih sama kita… kali ini kita bakal bahas apasih tujuan utama pemilik SANGGAR PURBASARI ini mendirikan sanggar ini dengan banyaknya pilihan di zaman sekarang ini? Yuk… langsung aja kita baca ulasannya yah... selamat membaca…

Jadi… setelah Alm. Drs. H.  Abdul Adjib ini wafat pada tahun 1986 yang kemudian meneruskan atau mewariskan padepokan abdul adjib ini kepada anak-anaknya. Setelah beberapa tahun sempat berhenti dalam mengembangkan Padepokan Abdul Adjib ini karena kesibukan masing-masing mulailah pada tahun 2000 an salah satu anaknya yang bernama Ibu Baedah mendirikan sanggar bersama dengan  suaminya, kemudian mereka memberikan nama SANGGAR PURBASARI yang berada  dibawah naungan Sanggar Abdul Adjib. Sekitar bulan Mei tahun 2005 Ibu Baedah ini mulai aktif mengajar tari topeng.
Hasil ulasaan wawancara kita terhadap Beliau yang mengatakan bahwa tujuan utama beliau mendirikan sanggar adalah untuk melestarikan tari topeng daerah Gegesik dikarenakan jika tari topeng Gegesik ini masih belum berkembang, ruang lingkup penyebarannya hanya sebatas daerah Gegesik saja. Jadi Beliau mengungkapkan jika Beliau ingin menyebarkan atau mengembangkan tari topeng Gegesik ini ke berbagai macam daerah bahkan hingga ke mancan negara, dan juga karena kecintaannya terhadap seni khususnya seni tari beliau memutuskan utnuk mendirikan sanggar saja untuk menyalurkan minat, bakat serta hobinya juga untuk melestarikan budaya kita sendiri yaitu budaya Tari Topeng  Cirebon.
Beliau juga megungkapkan bahwa alasan Beliau  memilih nama SANGGAR PURBASARI ini dikarenakan nama sanggar ini diambil dari nama Ayahnya Purba. Dalam sanggar purbasari ini juga tidak hanya menyediakn tari topeng khas Gegesik saja loh… tapi juga di dalam sanggar ini juga menyediakan berbagaia macam kesenian yang diantaranya adalah kesenian Tari Kreasi Kanoman, Kesenian Tari Topeng, kesenian Tari Cendrawasih dan Kesenian Tari Kreasi yang diciptakan oleh belaiau sendiri.
Di dalam sanggar purbasari ini Beliau juga menyediakan jasa penyewaan kostum dan atribut-atribut menari seperti topeng, kipas, selendang dll untuk acara-acara tertentu. Penerimaan jasa penyewaan kostum ini dibandrol dengan harga Rp. 70.000 atau sebesar tujuh puluh ribu rupiah perkostumnya.
Sanggar Purbasari ini sudah menuai banyak sekali prestasi yang tidak bisa dihitung jumlahnya dikarenakan beliau sudah memilliki jam terbang yang sangat tinggi, salah satu prestasinya adalah di Bali, Kediri dan Negara Taiwan. Sanggar Purbasari ini juga tampil diacara-acara tertentu karena kepiawaian dan keindahan tari tradisional anak-anak hasil didikannya  seperti acara Pemda, festival, sedekah bumi, Nadranan dan grand opening atau launching  dll. Ibu Baedah ini sebagai pemilik Sanggar Purbasari ini juga mengajar di tempat-tempat tertentu dan sekolah-sekolah menengah seperti di Pabrik Indocement – Gempol - Palimanan dan sekolah menengah di SMPN 1 Arjawinangun dan SMPN 1 Ciwaringin. Pemilik sanggar purbasari ini juga menerima jasa les privat di kediamannya, terkadang banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk les privat tari tradisional ini kepada beliau, sasaran umurnya sangat beragam mulai dari anak kecil, remaja, dewasa hingga sampai yang lanjut usia pun berminata untuk les privat tari tardisional ini kepada beliau. Biaya les privat di sanggar purbasari ini tidak akan menguras kantong loh… biayanya sangat terjangkau yaitu berkisar 1 tarian = Rp. 1.000000 atau sebesar satu juta rupiah dengan 10 kali pertemuan Insyaallah sudah lancar, dan untuk jadwal latihannyayang mengikuti les privat  sendiri bisa diatur sesuai dengan keinginan sendiri loh... Dan untuk yang tidak mengikuti les privat ini biayanya tentu saja lebih terjangkau yaitu berkisar Rp. 50.000  ribu atau sebesar lima puluh ribu rupiah  perminggunya, jik auntuk umum jadwal latihannya biasanya sekitar satu minggu sekali saja Wah.. ternyata sanggar purbasari ini sudah banyak mendapatkan kepercayaan yah dari masyarakat sekitar tentang kredibilitasnya dalam mengajar tari tradisional ini.
Pada tari topeng khas Cirebon atau Gegesik ini memiliki keuinikan yang khas dan lebih spesifik yang telah diakui oleh adat , gaya-gaya ini berasal dari desa-desa asli tempat di mana tari Topeng Cirebon ini lahir dan juga dari desa-desa lainnya yang menciptakan gaya baru yang secara adat telah di akui lepas dari gaya lainnya yaitu pada Gerakan tangan dan tubuh yang lemah gemulai, sementara iringan nada atau musiknya didominasi oleh alat music gendang, dan alat musik rebab. Keunikan lainnya juga terdapat pada perbedaan gaya tari topeng Cirebon antar daerah dikarenakan adanya penyesuaian selera penontin dengan nilai estetika gerak tarian di atas panggung, keunikan lainnya juga terdapat pada   proses pewarisan keahlian menarika tari topeng Cirebon ini dari generasi tua ke generasi yang lebih muda.
Kita punya sedikit motivasi nih yang diutarakan langsung oleh pemilik sanggar purbasari ini yaitu: “ Alangkah baiknya kita semua sebagai penduduk pribumi asli untuk lebih peduli dan lebih mencintai kebudayaan kita sendiri dengan cara melestarikan, mencintai dan gemar berlatih” bener banget kan teman-teman apa yang diutarakan oleh pemilik sanggar purbasari ini jika kita harus mencintai kebudayaan kita sendiri terlepas dari apapun perkembangan zamannya jangan sekali-kali kita melupakan sejarah seperti yang pernah Presiden pertama kita ucapkan yaitu Ir. Soekarno yaitu “ JAS MERAH” atau yang artinya jangan sekali-kali kita melupakan sejarah” tentunya kita sanagt tidak ingin kan jika kebudayaan kita, tari tradisional daerah kita sendiri hilang tertelan perkembangan zamannya yang semakin maju. Jadi ayolah … teman-teman semuanya mari kita  berbondong- bondong untuk terus melestarikan kebudayaan kita sendiri dengan cara berlatih, mencintai dan melestarikan.
Sekian dulu yah.. informasi yang dapat kami sampaikan, sampai jumpa di artikel kami selanjutnya! :)
Waalaikum salam wr.wb

Sabtu, 14 Desember 2019

PADEPOKAN ABDUL ADJIB


                                                        PADEPOKAN ABDUL ADJIB


Assalamualaikum wr.wb, Hallo teman-teman kita balik lagi nih... kali ini kita bakal bahas salah satu sanggar yang ada di daerah Cirebon loh...
 Kita mungkin teringat nih dengan kata 'padepokan' yang bisa diartikan sebagai tempat dari perguruan seni bela diri, namun... jangan salah arti padepokan disini berarti dapat mengandung arti yaitu suatau tempat dimana berkembangnya suatu kesenian khas daerah yang bisa kita sebut sebagai kesenian tarling.
Kata tarling itu sendiri mempunyai makna atau arti yaitu gitar dan suling. Jadi tarling adalah suatu kesenian daerah kota Cirebon yang merupakan gabungan alat musik gitar dan suling pada waktu itu. dengan seirirng berjalannya waktu dan perkembangan zaman yang semakin maju, maka tarling kini menjadi gabungan antara alat musik diantaranya gitar melodi, alat musik  gitar pengiring, alat musik gitar penerus, alat musik suling, alat musik kendang, alat musik krecek, alat musik tutukan dan alat musik goong.
Nah... ditengah-tengan kota Cirebon berdirilah suatu padepokan tarling yang diberi nama PADEPOKAN ABDUL ADJIB atau yang bisa juga dikenal dengan sebutan SANGGAR PURBASARI.
Padepokan ini dibangun oleh Drs. H. Abdul Adjib (Alm)... yang mendapat bantuan dana  untuk mendirikan padepokan ini oleh Gubernur Jawa Barat yaitu Ahmad Heryawan.
Paepokan abdul Adjib ini telah diresmikan pada tanggal 10 Agustus 2010oleh pariwisata Jawa Barat, dan sebelum beliau wafat Drs. H. Abdul Adjib memberikan wasiat kepada salah satu putranya yang bernama Insan S. Adjib untuk melanjutkan perjuangannya dalam melestarikan kesenian tradisional tarlingnya.
Nah... siapa sih yang tidak mengenal beliau ini Drs. Abdul Adjib ini.... beliau adalah sang maestro tarling yang menciptakan lagu WARUNG POJOK dan karya lagunya dapat dikenal diberbagai mancan negara. Beliau ini juga tidak hanya seorang pendiri padepokan Adbdul Adjib dan sang pencipta lagu warung pojok saja loh.. tapi beliau juga merupakan seorang dalang wayang dan penari topeng juga.
Pada tahun 1986 beliau Drs. H. Abdul Adjib wafat  kemudian sanggar ini diwariskan turun-temurunoleh anaknya yang bernama Ibu Baedah. beliau ini membentuk sanggar lagi yang bernama SANGGAR PURBASARI pada tahun 2005 sekitaran bulan Mei.
Nih... kita juga menyediakan informasi tentang alamat lengkap dan jam operasional Padepokan Abdul Adjib juga loh...
Alamat: Jalan sukasari Gang 4, No.30, RT 02 RW 03, Sukapura, Kejaksan, Kota Cirebon-Jawa Barat 45122, indonesia
Rating   : 5.00
Telepon : +628122143273
Jam Operasional:
Senin    : 9.00 AM - 9.00 PM
Selasa   : 9.00 AM - 9.00 PM
Rabu     : 9.00 AM - 9.00 PM
Kamis   : 9.00 AM - 9.00 PM
Jumat    : 9.00 AM - 9.00 PM
Sabtu    : 9.00 AM - 9.00 PM
Minggu : Tutup.
Teman-teman sekian dulu yah informasi yang dapat kami sampaikan, sampai jumpa di artikel kami selanjutnya! :)


SEJARAH TARI TOPENG CIREBON

                           


Assalamualaikum wr.wb, Hallo teman-teman!
Selamat datang di blog kami ya... :)
Kali ini kita bakal ngebahas tentang kesenian daerah cirebon nih...
Yuk, kita baca! Dimulai dari pengertian keseniannya dulu yah...

LETAK geografis Cirebon yang berada di persimpangan jalan dari berbagai jurusan, menyebabkan kebudayaan di Kota Pesisir ini terkesan tindih-menindih. Salah satu yang amat membekas yakni pengaruh kebudayaan Hindu, baik yang tumbuh di Jawa (Hindu-Jawa) maupun di Sunda (Hindu-Sunda). Indikasi ini misalnya terlihat dari lambang Keraton berupa Harimau putih, yang menurut catatan sejarah merupakan peninggalan dari Kerajaan Hindu-Sunda.
Kalau kita cermati dinamika yang terjadi dalam kebudayaan atau kesenian Cirebon, akan tampak perwujudan persembahan rakyat pada cara kehidupan keagamaan. Sejarah mencatat, sebelum kebudayaan Hindu masuk penduduk Pulau Jawa — termasuk juga Cirebon — memuja segala manifestasi alam yang mereka lihat sekitarnya seperti tumbuh-tumbuhan, batu karang dan laut, juga sungai, gunung, angin dan topan yang sekali-kali mengganggu kehidupan mereka.
Mereka percaya bahwa segala manifestasi alam ini mempunyai roh sendiri, umpamanya roh nenek moyang mereka yang selalu hadir dan mengamati mereka, yang menjadi penjaga kehidupan dan kesehatan. Dengan demikian, bagi orang-orang pra — Hindu semua kesenian bahkan dekorasi pada benda-benda fungsional merupakan perwujudan kepercayaan agama.
Di zaman Hindu patung dan lukisan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan kuil, dan melukiskan wujud agama serta lambang kepercayaan Hindu. Pola-pola semacam ini sekarang dapat dilihat antara lain dalam batik Cirebon dan juga dalam segala corak kesenian Cirebon yang dipengaruhi oleh persentuhan dengan kebudayaan asing lainnya, yang lambat laun diserap dalam kesenian Cirebon Hindu.

Kedatangan agama Islam dengan pola-pola baru dan anjuran agar tidak melukiskan segala bentuk manusiawi dan hewani, justru memperkaya imajinasi para seniman zaman dulu. pada seni rupa Cirebon juga terdapat seni melukis langsung di atas kain atau dengan mempergunakan suatu proses aplikasi daun emas. Teknik ini ternyata sangat tua dan rupanya berasal dari India. Lukisan-lukisan yang terdapat pada relief-relief Borobudur memperlihatkan penggunaan penutup tubuh seremonial dengan gambar-gambar tersebut di atas. Di Bali pun kita lihat sekarang contoh pakaian upacara dengan aplikasi emas yang dipakai oleh para penari. Begitupun dalam kuil-kuil nampak kain bertulis dan almanak yang menghiasi rumah orang. Orang berpendapat bahwa bentuk seni ini dulu juga ada di Cirebon, dan memainkan peranan besar, baik teknik, maupun desainnya, dalam pertumbuhan perkembangan teknik batik Cirebon yang khas.
Pada bagian lain, kita pun bisa menyelami teknik membatik, yaitu teknik mencetak atau melukis kain dengan cara menutup sebagian dari kain dengan malam atau perekat yang dibuat dari beras dan bahan lain sudah sangat tua umurnya dan seperti juga patung dari batu atau kayu, pada asalnya merupakan sebagian dari upacara tradisional. Tetapi kain lekas punah dan karena itu kini tidak ada lagi peninggalannya.

Dalam perkembangannya, Cirebon juga tidak hanya menghasilkan ragam hias saja loh! Tetapi Cirebon juga menghasilkan sebuah tarian tradisional yang amat melegenda yaitu Tari Topeng khas Cirebon.
Dalam sejarahnya, jauh sebelum keberadaan tari topeng di Cirebon tarian sejenis telah tumbuh dan berkembang di Jawa Timur sejak abad 10-16 Masehi.
Pada masa Kerajaan Jenggala berkuasa di bawah pemerintahan Prabu Amiluhur atau Prabu Panji Dewa, taraian tersebut masuk ke Cirebon melalui seniman Jalanan. Lalu, mengalami perubahan atau perpaduan dengan kesenian setempat sehingga mampu melahirkan sebuah kesenian tari topeng yang sangat khas.

Selanjutnya mengingat kota adalah salah satu pintu masuk tersebarnya Agama Islam di Tanah Jawa, hal ini tentu saja menjadi salah satu faktor penyebab berkembangnya Cirebon seni tradisional yang telah ada sebelumnya.
Pada tahun 1470 Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang menjadi pelopor atau tokoh sentralnya yang menjadikan wilYh Cirebon sebagai pusat  penyebaran Agama Islam. Sebagai upaya untuk menyebarkan agama islam Sunan Gunung Jati pun melakukan kerjasama dengan dengan Sunan Kalijaga.
Keduanya berusaha memanfaatkan kesenian yang ada di wilayah Cirebon tersebut seperti Wayang Kulit, Gamelan Renteng, Brai, Angklung, Reog, Berokan dan Tari Topeng ini yang digunakan untuk penyebaran agama islam itu sendiri sekaligus sebagai sarana pertunjukan di wilayah Keraton Cirebon.
Seiring dengan berjalannya waktu kesenian tari topeng mulai populer dan dikenal oleh masyarakat wilayah Cirebon. Dalam perkembangannya tari toprng memiliki bentuk dan penyajian yang sangat khas dan lebih spesifik.
Dalam kesejaraan Tari Topeng Cirebon ini lebih dikhususkan atau dikontraksikan  dhnaya di lingkungan keraton saja, seiring dengan perkembangan tari topeng ini mulai populer kemudian kesenian ini mulai melepaskan diri dan dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari tarian para rakyat.
Sebagai salah satu hasil kebudayaan , Tari Topeng Cirebon ini  mengusungkan nilai-nilai hiburan yang mengandung banyak pesan-pesan terselubung di dalamnya. Unsur-unsur yang terkandung di dalam tarian topeng ini mengandung arti simbolik yang bila kita menerjemahkannya sangatlah menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga memiliki nilai-nilai pendidikan yang ada di dalamnya.

Aspek-aspek kehidupan yang terkandung di dalam Tari Topeng Cirebon ini sangatlah bervariasi, seperti keperibadian, kepemimpinan, cinta, angkara murka, serta penggambaran hidup manusia sejak dilahirkan hingga sampai saat ini atau dewasa.
Salah satu keunikan dari kesenian Tari Topeng ini adalah pada gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, sementara iringan nada atau musiknya di dominasi oleh alat musik kendang dan rebab. Keunikan lainnya juga terdapat pada proses pewarisan keahlian menarikan Tari Topeng Cirebon ini dari generasi tua ke generasi yng lebih muda.
Dan juga keunikan lainnya terdapat pada penggunaan properti topeng atau kedok dalam prakteknya. Topeng adalah sebuah karya seni yang tercipta sebagai perwujudan atau ekspresi tentang konsep batin yang berhubungan dengan struktur wajah. Di Indoseia itu sendiri, keberadaan kaya seni purba ini telah begitu melekat dalam kebudayaan masyarakatnya.
Ternyata Tari Topeng ini tidak hanya dapat kita temukan hanya di cirebon loh!  Kita juga bisa menemukannya di daerah-daerah seperti Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, Brebes dan darah lainnya. Tari Topeng ini biasanya dimainkan oleh satu orang, namun juga terkadang dapat pula dimainkan oleh beberapa orang atau sekelompok orang.

Mengingat Tari Topeng sekarang sudah sangat popular dimana-mana sekarang kita bias belajar tari topeng dimanapun kalian berada . mari kita melestarikan budaya kita sendiri agar budaya tercinta ini tidak akan tidak akan hilang atau yang lebih parah lagi akan diambil atau diakui oleh orang asing, hii… serem bangetkan, tentunya kita tidak mau dong jika hal itu terjadi pada budaya kita sendiri ini. Mari melestarikan budaya tari topeng kita!.
Terimakasih telah membaca blog kami, sampai jumpa di blog kami selanjutnya ya! 😊

SANGGAR PURBASARI-LATAR BELAKANG PENYEBARAN TARI TOPENG CIREBON

                                   



3. LATAR BELAKANG PENYEBARAN TARI
TOPENG CIREBON

     Meluasnya budaya Tari Topeng Cirebon menurut Masunah dan Karwati disebabkan oleh peranan seniman yang mengadakan pertunjukan bebarang/barangan. Mereka pergi bekelana berhari-hari lamanya. Perjalanan ditempuh mulai dari berjalan kaki, menggunakan gerobak dorong, hingga kendaraan roda empat. Kepindahan seniman-seniman itu didasari atas tuntutan ekonomi yang sangat sulit. Keahlian yang mereka kuasai hanyalah mempergelarkan kesenian yang dimiliki (Masunah dan Karwati, 2003: 25). Mereka tidak cukup mempunyai lahan yang baik untuk tempat tinggal maupun lahan untuk garapan pertanian. Jangankan untuk rumah, untuk makan sehari-hari pun sangat sulit. Keadaan musim sangat mempengaruhi pola kehidupan seniman tari topeng. Musim paceklik adalah musim yang sangat sulit untuk mendapatkan pangan. Keadaan ini mendorong seniman untuk berusaha mengadakan pertunjukan secara keliling, mencari orang yang bersedia menonton mereka. Saat barangan adalah saat dimana mereka harus pergi jauh ke luar daerah asal dan mungkin tidak kembali. Para seniman tari topeng seringkali mengadakan pertunjukan barangan dan pada akhirnya sering tidak kembali ke tempat semula melainkan memilih hidup dan bertempat tinggal di tempat yang baru. Di tempat baru ini akhirnya mereka menetap sekaligus mengembangkan pola-pola yang semula mereka anut di daerah asal yang disesuaikan dengan kondisi/situasi daerah atau yang menurut Suanda disebut sebagai local colour setempat. Tari Topeng Cirebon mempunyai wujud baku secara teknik dan penampilan, mempunyai isi dan makna yang terkait dengan fungsi dan perandalam masyarakat. Topeng selain mempuyai perbendaharaan teknis yang mantap mau tidak mau mengalami dinamika baru, mengalami perubahan dan perkembangan dari topeng semula. Perubahan ini meliputi perubahan fungsional dan bentuk sebagai akibat kebutuhan dan kreatifitas manusia pelakunya. Tidak jarang, dalam wilayah baru yang ditempati, muncul beragam gaya/pola penari atau pun pertunjukan, akan tetapi pada arti tempat, arti wilayah juga lokasi yang dihuni seniman tari topeng. Menurut Suanda perbedayaan gaya akibat migrasi seniman akan semakin beragam dan sulit dibedakan lagi bila disertai perkawinan di antara seniman yang berbeda daerah atau pun gaya petunjukan. Para seniman yang mengembara, sering dalam perjalanan atau di daerah yang baru dihuni melakukan pernikahan dengan seniman dari kelompok berbeda gaya yang lain. Ketika mereka berumah tangga, gaya pertunjukan dari kedua insan yang berbeda membentuk semacam dialog atau peleburan dimana terjadi penyesuaian satu sama lain (Suanda, 1995: 54). Dalam proses semacam itu, keduanya akan saling memberi dan menerima dan akan tampak yang satu lebih dominan disbanding dengan yang lainnya. Hal inilah yang terkadang menjadi masalah di dalam membicarakan pola umum Tari Topeng Cirebon. Lebih lanjut Suanda mengemukakan bahwa: Hal yang paling sukar dalam membicarakan pola umum Tari Topeng Cirebon adalah bahwa tiap daerah, dan bahkan penari punya gaya atau pola yang berbeda. Pemetaan gaya atas dasar wilayah pun sering tidak dimungkinkan karena banyak seniman yang pindah dari suatu daerah yang gayanya berbeda (Suanda, 1995:2). Perpindahan seniman dari satu tempat ke tempat lain mengakibatkan kesenian bersifat heterogen. Kesepakatan garap dan peristilahan tidak dipandang sebagai hal yang penting. Mereka lebih banyak bersifat terbuka dan luwes menyadari lingkungan. Musik yang digunakan dalam suatu acara hajatan akan berbeda dengan musik yang dipakai barangan. Musik barangan tampak lebih sederhana dibandingkan dengan musik hajatan, begitu pun dalam hal tarian. Masalah penyingkatan rangkaian gerak tarian dan waktu pertunjukan adalah hal yang sering dilakukan oleh mereka. Termasuk di dalamnya susunan tarian. Demikian juga dengan peristilahan, keadaan ini banyak menjadikan keanekaragaman istilah. Ada istilah berbeda digunakan untuk sesuatu yang sama atau sebaliknya hal yang sama memiliki beberapa istilah. Dalam kondisi seperti itu terjadi unsur-unsur pertunjukan yang hilang atau diganti dengan hal baru. Adanya unsur-unsur yang berkurang atau bertambah tersebut menjadikan Tari Topeng Cirebon bersifat kompleks. Pada masa awal kemunculannya Tari Topeng Cirebon dipertunjukan di keraton. Penari dan dalangnya merupakan seniman-seniman yang berasal dari desa. Para seniman yang awalnya turut serta dalam kegiatan kebudayaan di keraton akhirnya keluar karena keraton tidak sanggup membiayai kegiatan kebudayaan, karena kekuasasan telah beralih ke tangan penjajah. Akhirnya para seniman kembali ke desa dan mengembangkan kesenian tari topeng di daerahnya masing-masing. Setelah beberapa periode, kesenian tari topeng pun menjadi milik lingkungan masyarakat desa yang diwariskan secara turun-temurun dan tersebar di beberapa tempat daerah Cirebon seperti, Losari, Slangit, Gegesik, Kalianyar, Palimanan, Majalengka, dan Indramayu.

     Tari topeng meski tersebar di beberapa daerah tetapi secara umum bentuk fisiknya tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam hal itu terdapat ukurannya. Pada aspek gerak tariannya atau pun penerapan nomor tariannya tiap daerah memiliki warna dan corak yang berdiri sendiri dengan ciri khas daerahnya masing-masing. Perbedaan tersebut diakibatkan gerak penarinya atau pun dari versi dalangnya yang menjadikan ciri khas daearahnya masing-masing. Menurut Elang Komarahadi (44) Pembina kesenian Keraton Kacerbonan menyebutkan, Karena awalnya satu bibit, walaupun berbeda tariannya kesenian Tari Topeng Cirebon mempunyai satu misi yaitu menerangkan karakteristik manusia. Bentuk topeng atau penutup mukanya secara umum setiap daerah sama karena ada pakem dalam pembuatannya. Kalau pun ada sedikit perbedaan, itu disebabkan perbedaan kemampuan pengrajin dalam teknik mengukir pembuatan topengnya atau pun kretivitas dari pengrajinnya. (Wawancara dengan Elang Komarahadi, September 2010)

     Di Gegesik kesenian tari topeng sangat popular, hal ini terbukti dengan banyaknya kelompok tari topeng atau sanggar-sanggar tari topeng. Sanggar-sanggar tersebut diantaranya yaitu Sanggar Panji Sumirang pimpinan Ibu Karnati, Sanggar Among Prawa pimpinan Hj. Juni, Sanggar Sungging Prabangkara Pimpinan Parastika, dan Sanggar Langen Purwa pimpinan H. Mansyur. Dalam Tari Tari Topeng Gegesik dikenal lima topeng pokok yang ditarikan secara berurutan sesuai dengan karakternya masing-masing. Kelima topeng pokok itu adalah Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Patih Tumenggung dan Klana. Selain kelima topeng itu ada pula topeng bodor yang ditarikan disertai lawak yaitu Jinggananom, Pentul, Tembem (Enyo), Jungkring dan Aki-aki.

Jumat, 13 Desember 2019

SELAMAT DATANG DI SANGGAR PURBASARI


   SELAMAT DATANG DI SANGGAR PURBASARI
 
      Sanggar Purbasari terletak ditengah kota Cirebon dan dipimpin oleh salah seorang putri dari dalang wayang ternama sekaligus dalang Topeng cirebon, diwilayah Gegesik kabupaten Cirebon yang bernama Dalang PURBA atau lebih dikenal dengan sebutan dalang JUBLAG almarhum, ,dia bernama BAEDAH,A.Md.
Alamat Sanggar Purbasari ini di PADEPOKAN ABDUL ADJIB ,Jl.Sukasari gang 4 No.30 Cirebon 45122.Contact Person : +62 81221 432 73
Sanggar Purbasari ini mengelola tari Topeng Cirebon versi gegesik yang merupakan budaya Cirebon warisan leluhur yang perlu kita lestarikan.
Baedah juga merupakan menantu dari sang maestro tarling Cirebon yaitu Almarhum Drs.H.Abdul Adjib.atau istri dari putra sang maestro tarling Cirebon yaitu INSAN S ADJIB.i
Sanggar purbasari ini juga tak hanya tari topeng yang ada didalamnya namun juga terdapat tari kreasi tradisional.

   Dalam kesempatan kali ini, yang saya bahas adalah tari topeng gegesik khusunya yang dipegang erat oleh pimpinan sanggar purbasari itu sendiri.

1. SEJARAH KESENIAN TARI TOPENG GEGESIK CIREBON
     Awalnya, kesenian ini merupakan bagian dari kehidupan dan nilai-nilai Islam yang terus hidup dan berkembang pada sebagian masyarakat yang terdapat di Gegesik. 4.1.1 Keadaan Geografis dan Administratif Kecamatan Gegesik Pembahasan tentang keadaan geografis Kecamatan Gegesik dimaksudkan dan dikembangkan dalam rangka untuk mengetahui kaitan antara kondisi geografis dengan keberadaan kesenian tradisional Topeng Gegesik. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cirebon, tepatnya di Kecamatan Gegesik. Kecamatan Gegesik adalah sebuah kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Cirebon. Luas wilayah Kecamatan Gegesik 37,08 km2 terdiri dari sembilan desa, merupakan wilayah dengan kondisi daerah dataran rendah dan beriklim panas dengan suhu rata-rata mencapai 25ºC 34ºC. Wilayahnya sebagian besar adalah wilayah persawahan dengan luas 53,53 km² yang merupakan 63% dari seluruh luas wilayah Kecamatan Gegesik. Sebagian besar mata pencahariannya adalah buruh tani. berikut : Sedangkan untuk batas wilayah Kecamatan Gegesik adalah sebagai Sebelah Barat : Kecamatan Kaliwedi Utara : Kabupaten Indramayu Timur : Kecamatan Kapetakan dan Kecamatan Panguragan Sebelah Selatan : Kecamatan Arjawinangun.
     Sejalan dengan pendapat tersebut Elang Komarahadi (44), Pembina Kesenian Keraton Kacerbonan, mengatakan bahwa semua kesenian yang berkembang di masyarakat Cirebon pada awalnya berasal dari kesenian keraton yang fungsinya sebagai hiburan untuk tamu-tamu raja maupun untuk kegiatan upacara di keraton (Wawancara dengan Elang Komarahadi, 20 September 2010).
      Pada saat berkuasanya Sunan Gunung Jati sebagai pimpinan Islam di Cirebon, maka datanglah percobaan untuk meruntuhkan kekuasaan Cirebon di Jawa Barat tokoh pelakunya adalah Pangeran Welang (yang belum masuk Islam) dari daerah Karawang. Tokoh ini ternyata sangat sakti dan memilki pusaka sebuah pedang bernama Curug Sewu. Penguasa Cirebon beserta para pendukungnya tidak ada yang bias menandingi kesaktian Pangeran Welang. Dalam keadaan kritis diputuskan bahwa untuk menghadapi musuh yang demikian saktinya harus dihadapi dengan diplomasi kesenian. Setelah disepakati bersama antara Sunan Gunung Jati, Pangeran Cakrabuana dan Sunan Kalijaga, maka terbentuklah tim kesenian dengan penari yang sangat cantik adalah Nyi Mas Gandasari, dengan sarat menarinya harus memakai kedok/topeng. Mulailah kelompok kesenian ini mengadakan pertunjukan di setiap tempat lazimnya sekarang disebut ngamen. Dalam waktu singkat terkenalah kelompok ini dengan Pangeran Welang ingin menyaksikan kesenian tari topeng setelah menyaksikan sendiri kebolehan si penari, ketika itu pula ia jatuh cinta. Nyi Mas Gandasari pun berpura-pura menyambut cintanya dan pada saat Pangeran Welang melamar, maka Nyi Mas Gandasari memninta dilamar dengan pedang pusaka Curug Sewu. Pangeran pun tanpa berpikir menyerahkan pedang pusaka tersebut, dan pada saat itu pula hilang semua kesaktian Pangeran Welang. Dalam keadaan lemah lunglai tak berdaya, Pangeran Welang menyerah total kepada Nyi Mas Gandasari dan memohon ampun kepada Sunan Gunung Jati agar tidak dibunuh. Sunan Gunung Jati memberikan ampun dengan syarat harus masuk Islam. Pangeran Welang setelah masuk Islam diangkat sebagai pemungut cukai dan dia berganti nama menjadi Pangeran Graksan. Sedangkan pengikut Pangeran Welang yang tidak mau masuk Islam tetap ingin tinggal di Cirebon oleh Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk menjaga keraton dan sekitarnya. Melihat keberhasilan misi kesenian topeng bias dijadikan penangkal serangan dari kekuatan-kekuatan jahat, maka pihak penguasa Cirebon menerapkan kesenian topeng ini untuk ngeruat suatu daerah yang dianggap angker dan sebagai kelanjutannya, hingga kini kesenian topeng ini masih digunakan di desa-desa untuk upacara adat seperti ngunjung, nadran, sedekah bumi, dan lain-lain. Setelah masyarakat menerima tradisi ngeruat itu, disamping harus ada pegelaran wayang kulit juga harus ada topeng di Cirebon, maka sangat suburlah tumbuhnya penari topeng di Cirebon (Proyek Pendataan KesenianCirebon, 2001: 203). Berdasarkan beberapa keterangan dan hasil studi pustaka yang penulis lakukan, ternyata keberadaan Tari Topeng Cirebon berhubungan dengan adanya raket dan wayang wong yang berkembang pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 di Jawa Timur. Wayang wong dan raket adalah pertunjukan drama tari tanpa menggunakan topeng yang mengambil sumber cerita Ramayana dan Mahabarata. Wayang Topeng atau drama tari topeng sebagai hasil peleburan tradisi Hindu dengan Islam pada abad ke-15. Untuk mengembangkan kesenian topeng yang sangat popular pada waktu itu Sunan Kalijaga menciptakan topeng mengikuti model wayang gedhog, pertunjukan wayang kulit yang mengambil sumber cerita Panji, tetapi susunan tariannya ditafsirkan sebagai gambaran perkembangan jiwa manusia dari lahir sampai dewasa dan gambaran akhlak manusia yang baik dan yang buruk. Dari data yang dikemukakan oleh beberapa tokoh seniman topeng dan data kepustakaan yang telah dipaparkan di atas. Terlihat betapa besarnya peranan tokoh Islam tokoh Islam seperti Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga dalam upaya penciptaan penyebaran seni Tari Topeng Cirebon. Dengan berperannya para wali maka keberadaan topeng di wilayah budaya Cirebon menjadi berakar dalam sistem kehidupan masyarakat pendukungnya dan bertahan dari generasi ke generasi melalui para penggarapnya secara turun-temurun. Hal tersebut diperkuat dengan adanya peninggalan lima topeng kuno yang tersimpan di museum keraton Kanoman dan diperkirakan digunakan oleh pemerintah Sunan Gunung Jati sebagai media dakwah untuk penyebaran Islam di Cirebon pada abad ke-15. Dalam perkembangan selanjutnya topeng menjadi salah satu seni pertunjukan (jenis tarian) yang memiliki bentuk penyajian tersendiri yang disebut topeng babakan atau topeng dinaan yang para penarinya memakai kedok (topeng) sebagai penutup muka. Biasanya kedok yang ditampilkan pada satu kali pertunjukan terdiri dari topeng Panji, Pamindo (Samba), Rumyang, Tumenggung, dan Klana (Rowana). 4.2.2 Lahirnya Kesenian Tari Topeng Gegesik Dalam perkembangannya, Tari Topeng Gegesik tidak terlepas dari sejarah Tari Topeng Cirebon, karena Tari Topeng Gegesik merupakan salah satu dari sekian banyak gaya atau aliran Tari Topeng Cirebon. Tari Topeng Cirebon menyebar tidak hanya di daerah Cirebon atau kawasan budaya Cirebon saja, melainkan juga menyebar ke daerah-daerah lain di luar budaya Cirebon. Dalam hal ini Suanda pernah mengulas Cirebon sebagai daerah budaya besar. Berikut ini pernyataannya. Berbicara mengenai Cirebon sebagai wilayah budaya besar, akan termasuk di dalamnya, wilayah-wilayah Kabupaten dan Kodya Cirebon, Indramayu, sebagian dari Majalengka, Kuningan, Sumedang, Subang, Karawang, Tangerang, Bekasi, dan Banten. Malahan tergantung dari lingkup mana kita melihatnya, bisa juga memasukkan beberapa wilayah di Jawa Tengah, seperti Brebes dan Banyumas (Suanda, 1995: 18)