Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2020

Mengenal Lebih Jauh Apa itu Tari Topeng


Indonesia adalah Negara yang kaya akan kebudayaan tradisional. Negara yang mempunyai kesenian tradisional yang sangat beragam, seperti tarian-tarian daerah. Tarian pada setiap daerah memiliki keunikan sendiri-sendiri. Salah satu tarian asli dari Indonesia yang cukup unik adalah Tari Topeng.

Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java mendeskripsikan bahwa kesenian topeng Cirebon merupakan penjabaran dari cerita Panji dimana dalam satu kelompok kesenian topeng terdiri dari dalang (yang menarasikan kisahnya) dan enam orang pemuda yang mementaskannya diiringi oleh empat orang musisi gamelan.

SERBA-SERBI TARI TOPENG

1. TEMPAT PAGELARAN
Tari Topeng Cirebon pada zaman dahulu biasanya dipentaskan menggunakan tempat pagelaran yang terbuka berbentuk setengah lingkaran, misalnya di halaman rumah, di blandongan (tenda pesta) atau di bale  (panggung) dengan obor sebagai penerangannya, tetapi dengan berkembangnya zaman dan teknologi, tari Topeng Cirebon pada masa modern juga dipertunjukan di dalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya.

2. TUJUAN PAGELARAN
Tujuan diselenggarakan suatu pagelaran tari Topeng Cirebon secara garis besar dibagi kedalam tiga tujuan utama yaitu:

1. Pagelaran komunal, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk kepentingan bersama masyarakat, sehingga hampir seluruh masyarakat ditempat tersebut berpartisipasi dalam pagelaran ini, acara yang dipertunjukan pun sangat spektakuler dengan adanya arak-arakan dalang, atraksi seni dan sebagainya serta digelar lebih dari satu malam, contoh dari pagelaran komunal diantaranya adalah hajatan desa, ngarot kasinoman (acara kepemudaan), ngunjungan (ziarah kubur).

2. Pagelaran individual, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk memeriahkan hajatan perorangan, contohnya adalah pernikahan, khitanan atau khaulan (melaksanakan nazar atau janji).

3. Pagelaran bebarangan, merupakan acara pagelaran keliling kampung yang inisiatifnya datang dari dalang topeng itu sendiri,biasanya dilakukan oleh dalang topeng ke wilayah - wilayah desa yang sudah panen, wilayah desa yang ramai atau datang ke berkeliling di kota dikarenakan desanya belum panen, sedang mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.

3. STRUKTUR PAGELARAN
Struktur pagelaran dalam tari Topeng Cirebon bergantung pada kemampuan rombogan, fasilitas gong yang tersedia, jenis penyajian topeng dan lakon (cerita) yang dibawakannya. Secara umum, struktur pertunjukan tari Topeng Cirebon dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu:

1. Topeng alit, memiliki struktur yang minimalis baik dari segi dalang, peralatan, kru dan sajiannya. Jumlah rata-rata kru dalam struktur pagelaran topeng alit biasanya hanya terdiri dari lima sampai tujuh orang yang kesemuanya bersifat multi peran, dalam artian tidak hanya seorang dalang Topeng saja yang membawakan babak topeng, tetapi para wiyaganya juga ikut membantu dengan memberikan guyonan-guyonan ringan. Dialog dalam topeng alit dilakukan secara spontan berdasarkan situasi yang ada.

2. Topeng gede, memiliki struktur yang lebih besar dan baku jika dibandingkan dari penyajian topeng alit. Hal tersebut dikarenakan topeng gede merupakan bentuk penyempurnaan dari topeng alit, struktur topeng besar diantaranya, adanya musik pengiring (tetaluan) yang lengkap, adanya lima babak tarian yang berurutan seperti panji, samba, rumyang, tumenggung dan klana, adanya lakonan serta jantuk (basihat) yang diberikan pada akhir pagelaran topeng gede.

4. JENIS TARI TOPENG
Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng kelana kencana wungu merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan  yang menceritakan ratu Kencana wungu yang dikejar-kejar oleh prabu Minakjingga yang tergila-tergila padanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru ,ewakili karakter yang lincah namun anggun. Minakjingga (disebut juga kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, tempramental dan tidak sabaran. Tari ini merupakan karya Nugraha Soeradiredja.

5. TOPENG PELENGKAP
Pada era sebelum tahun 70-an, menurut Ki Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) terdapat juga topeng-topeng lainnya yang menjadi pelengkap babak dalam pagelaran tari Topeng Cirebon, mereka adalah:

1. Tembem, Patrajaya, Prasanta, Sabdapalon.
2. Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng.
3. Sentingpraya bapaknya Jinggananom (dipercaya sebagai tokoh berdarah Tionghoa).
4. Ngabehi Subakrama ayah Tumenggung Magangdiraja.

Pada era sekitar tahun 60-70-an topeng-topeng pelengkap seperti Sentingpraya masih dipentaskan pada pagelaran dinaan (pagelaran siang) tari Topeng Cirebon, pada periode tersebut menurut Ki Waryo, babak tumenggung Mangangdiraja melawan Jinggananom akan diteruskan adegannya dengan mementaskan adegan Aki-aki perangan dimana tokohnya adalah Sentingpraya, ayah dari Jinggananom, dikarenakan Sentingpraya diwujudkan sebagai seorang tokoh berdarah Tionghoa, maka pada pagelaran tari Topeng Cirebon Sentingpraya disebut juga dengan nama Babah Sentingpraya.

6. PROSES PEWARISAN
Pada tari Topeng Cirebon, yang dimaksud proses pewarisan keahlian adalah mewariskan kemampuan dari generasi yang lebih tua kepada yang lebih muda, proses pewarisan atau pengalihan pengetahuan ini erat hubungannya dengan praktik adat istiadat dalam konteks sebuah desa dan sesuai dengan lingkungan, adat, serta kepercayaan setempat. Secara garis besar proses pewarisan keahlian dalam tari Topeng Cirebon dibagi kedalam dua metode, yakni:

1. Proses pewarisan secara tradisional, proses pengalihan pengetahuan ini biasanya tidak dilakukan melalui pembelajaran yang spesifik, melainkan melalui pengalaman sehari-hari, pengamatan, dongeng-dongeng nenek moyang. Murid dalam proses tradisional ini biasanya selalu mengikuti pagelaran tari topeng yang dilakukan oleh gurunya, sehingga ia dituntut untuk mendengarkan dan melihat apa yang dilakukan gurunya diatas panggung pagelaran, pada proses ini, murid belajar dengan cara mendengarkan, melihat dan kemudian mengembangkan sendiri pola-pola gerakan tari Topengnya miliknya.

2. Proses pewarisan secara modern, proses pengalihan pengetahuan ini biasanya dilakukan di sanggar-sanggar tari milik para dalang Topeng Cirebon, murid tidak hanya mendengarkan dan melihat gurunya mementaskan tari Topeng Cirebon saja, tetapi juga diajarkan pola-pola gerakan yang didapat gurunya secara turun temurun mulai dari kuda-kuda, gerakan tangan, tatapan wajah dan lainnya, sehingga pada proses ini bisanya memunculkan pola gerakan yang kurang lebih sama antara murid yang satu dengan yang lain di dalam satu sanggar tari.

7. PERKEMBANGAN
Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang  dan rebab merupakan ciri khas lain dari tari topeng.

Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya.

Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, indramayu. Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, tetapi ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.


Jumat, 03 Januari 2020

Mari mengenal sosok Maestro hebat dibalik lestarinya Tari Topeng Cirebon

Hallo sahabat literasi... Kembali lagi sama aku hehe.  Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Ternyata dibalik lestari nya tari topeng, ada pencipta-pencipta hebat dibalik nya lohh. Atau masyarakat biasa menyebutnya "Maestro". Nahh betul bangett, kali ini aku mau mengajak sahabat literasi untuk lebih mengenal dengan salah satu Maestro hebat Cirebon nihh. Penasaran bagaimanakah sosok di balik nya?? langsung aja yukk scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

8. BELAJAR DARI MAESTRO TARI TOPENG CIREBON



     Setiap kali ada seseorang yang hingga akhir hayatnya tetap kukuh memilih dunianya menjadi bagian dari "ritus kehidupan", setiap kali ada seseorang yang selama hayatnya meletakkan hampir seluruh kreativitasnya menjadi representasi dari segenap "totalitas kehidupan", setiap kali pula seseorang itu, tanpa pamrih, dengan tulus mengajarkan serta merelakan dirinya hanya untuk kesenian dan berdiri sebagai seniman yang dengan karya-karyanya sebuah bangsa, di antara sekian karya yang lain, ditahbiskan berbudaya dan memiliki spirit peradaban. Adakah kita bisa meletakkan kembali penghormatan dengan secercah ketulusan yang sama?Saya kira, kita --siapa pun kita pada konteks maknanya yang diperluas dalam posisi sebagai pejabat negara, politisi, pengusaha atau apa pun--kesulitan untuk menjawab esensi pertanyaan tadi dengan baik. Bahkan ada berbagai pertanyaan serupa yang sama sekali kita tidak bisa memberi jawaban tepat. Seperti halnya pertanyaan berikut, apakah peran seniman memang senantiasa berada di luar hiruk-pikuk kebijakan negara? Apakah karya-karya seni tidak menjadi bagian signifikan dalam subsistem wacana kebudayaan suatu pemerintahan? Seniman, terlebih pada mereka yang memilih genre seni tradisi lengkap dengan membawa khazanah lokal yang menjadi bagian substantif di dalamnya,  tampak mengalami dilema di sana-sini dalam menghadapi perubahan zaman. Sejumlah seni tradisi yang merupakan "ikon" dan "akar"  dalam konstruk budaya tradisional masyarakat, kita tahu, berada pada posisi marginal dan feriferal. Dan, ironisnya, justru seni-seni tradisi yang semula menjadi simbol dalam penyeimbang (equilibrium) seni-seni yang dinilaisebagai sentral (adiluhung).

Kematian yang Sunyi
     Sujana Arja, atau akrab dipanggil Mang Jana, adalah maestro penaritopeng yang Senin (10/4/2006) baru saja wafat dengan usia di atas 70 tahun. Suatu kematian yang sunyi yang menyisakan jejak panjang silsilah dari salahsatu dinamika, stilistika, maupun estetika tari topeng Cirebon: bagaimana taritopeng "gaya Slangit" membentuk dirinya dan mempertahankan eksistensinya sekaligus. Bahkan dengan keteguhan seperti itu, ia tidak peduli apakahnegaranya memberi perhatian terhadap salah satu warisan seni tradisi bangsanya atau tidak; apakah pemerintah daerahnya memahami atau tidak, bagaimana seharusnya menyusun grand strategy apa yang diklaim para birokrat sebagai "pelestarian" seni tradisi. 
     Sujana dengan kehidupan yang sangat sederhana mampu bertahan untuk tidak bergeser sedikit pun dari pengabdian hampir seluruh gerak dirinya pada khazanah seni tradisi tari topeng yang diwariskan keluarga besar maestro penari topeng Arja. Sejak 1973, Sujana berlatih, mengajarkan lima wanda taritopeng dan menempati sanggar tari Panji Asmara yang berada di pengujung utara desa Slangit yang kiri-kanannya masih berupa semak perdu, rumpun bambu, jalan setapak, dan hamparan sawah. Kecuali menari, ia tidak pernah memilih profesi selainnya, apalagi sekadar untuk menyelesaikan yang primer dan sekunder dalam kehidupannya selama ini. Sujana telah melanjutkan proses regenerasi dan genealogi dari cikal- bakal tari topeng Cirebon. Bersama dengan beberapa tokoh tari topeng segenerasinya seperti, Sawitri (gaya Losari), Tarwi (Kreo), Sudji dan Dasih(gaya Palimanan) mengukuhkan tari topeng Cirebon dengan gaya masing-masing. Sehingga meninggalnya almarhum Sujana, menandai berakhirnya generasi kedua tari topeng Cirebon yang kini, mau tidak mau, diteruskan anak-cucu mereka. Tradisi tari topeng seperti seni-seni tradisi lain, mungkin agak mirip dengan perguruan shaolin yang memiliki keniscayaan untuk melahirkan sejenis "pendekar" sebagai generasi penerus yang eksploratif, andal, kukuh, teguh dalam menerima seluruh estafet dari dalam pepakem seni tradisi tersebut. Setidaknya, jika generasi tari topeng Slangit pasca-Sujana tidak segera menata berbagai instrumen dalam perjalanannya ke depan akan menghadapi tantangan budaya global yang mereduksi pandangan publiknya sedemian rupa. Dikhawatirkan tari topeng Cirebon yang tumbuh dengan latar serta beragama gaya yang bertolak dari eksplorasi maupun improvisasi tokohnya akan kehilangan generasi (lost generation). Sehingga beberapa gaya tari topeng Cirebon yang pernah tumbuh pada beberapa daerah dengan beragam gaya,sebut saja Kalianyar, Gegesik, Palimanan, Babakan, Kreo, dan Gujeg, tampak "ditinggalkan" generasi penerusnya. Tari topeng "gaya Slangit" --diambil dari muasal nama desa tempat proses kreatif keluarga besar maestro tari topeng Arja (ayahanda dan pendahulu Sujana) sebagai Generasi Pertama-- menjadi tonggak penting bagisembilan anak-anaknya; Sutija, Suwarti, Suparta, Sujaya, Sujana, Rohmani, Roisi, Durman, dan Keni, yang semuanya berhasil menjadi penari topeng. Meski dari ke sembilan anaknya, Sujana yang kelak tampil dan dikenal publik luas sebagai seorang maestro. Sujana memulai proses kreatifnya untuk menjadi maestro sejak berusia 10 tahun yang mengikuti
bebarang (ngamen) bersama ayahnya. Kemudian atas prakarsa Pangeran Patih Ardja dari Kesultanan Kanoman, sekitar tahun 1940-an, keduanya tampil dalam berbagai perhelatan ritual tradisi dilingkungan keraton. Pada usia 17, Sujana dilepaskan secara mandiri untuk menerima tanggapan (order hajatan) dan melakukan bebarang hingga ke luar daerah (Indramayu, Majalengka Sumedang, Bandung, Garut, Cianjur, Banten)sebagai bagian dari proses manunggaling lelaku (menyatukan jiwa-ragadengan filosofi tari topeng dalam konteks kehidupan) --yang tidak dapat ditempuh melalui intellectual exercises dari wilayah dan norma-norma akademis. Karena itu, kita yang pernah menyaksikan pementasan Sujana, Sawitri, Sudji, Dasih atau Mimi Rasinah maestro penari topeng dari Pekandangan Indramayu tampak kekuatan tarian yang melampaui fase-fase "batasnalar" dari kelincahan gerak penari yang memasuki usia uzur. 
     Energitas dan kreativitas menyatu dengan spiritualitas ruh penciptaan. Begitu juga totalitasdan sinergitas menemukan ruang batin: di mana ekstase menyusun makna nya yang transenden dan tidak lagi samar-samar tersembunyi. Hampir para maestro yang membuka ruang batinnya untuk selalu berada pada kosmos pergulatan kreatif akan memperlihatkan puncak dimensi penciptaan ruhani yang dahsyat dan menakjubkan. Dan, Mang Jana dalam sebuah percakapan kecil dengan penulis, menolak persepsi yang semata mengacu pada asumsi akademis yang menilai pencapaian transenden dapat dimanipulasi melalui pemahaman sains, tanpa memasuki proses logosentrisme yang menjadikan seniman berada dalam fase pemahaman empirik-kognitif (ngangsu kaweruh). Dalam perspektif inilah, Sujana hendak menegaskan bahwa proseskreatif yang hanya kukuh sebatas asumsi-asumsi akademis, berakhir dalam pemahaman formalnya sendiri: tari topeng akan lebih tampak sebagai pola- pola gerakan ritmis yang penuh citraan (images) gerak tubuh dalam filosofi makna dan tata aturan bunyi gamelan. Namun kehilangan ruh pencitraannya sendiri, yang menyebabkan gerakan-gerakan tarian tampak ringan dan mekanik. Melalui proses panjang
manunggaling lelaku dan ngangsu kaweruh, seorang penari topeng akan menemukan titik pencitraan berbagai dimensi penciptaan yang bersenyawa dengan totalitas jiwa-raga. 

Pribadi yang Tulus
     Dalam kurun waktu cukup panjang dan berliku, Sujana Arja, empu taritopeng Slangit itu, telah menyiratkan dirinya menjadi pribadi yang tulus. Ia bukan saja berdiri sebagai seorang maestro, melainkan juga guru untuk  banyak muridnya (dalam dan luar negeri) yang sungguh-sungguh telah mengabdikan serta mengabadikan kehidupannya pada seni tradisi. Meski, ia tahu, dengan sikap penuh-seluruh, terlebih lagi ia sadari tanpa jaminan hari tua dimanapun termasuk pemerintan seorang seniman justru akan terus berada dalam suasana "mencipta".


Gimana nih sahabat literasi? Hebat bukan? Nah kesimpulan dari artikel di atas, kita sebagai generasi penerus bangsa, apalagi pribumi kota udang sendiri, ayoo lanjutkan dan lestarikan tradisi seni tari topeng yang telah diwariskan para nenek moyang kita. Dengan niat dan semangat berlatih, kita semua pasti bisa mengenalkan dan membawa tradisi seni tari topeng ini hingga kanca internasional. Terus belajar ya!! 
Untuk pemaparan kali ini, sekian dulu yaa. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan sahabat literasi dimanapun berada. Oh iya, mohon maaf jikalau ada padanan kata yang kurang tepat karena masih proses belajar hehe.. Saran dan komentar nya ditunggu yaa. Terimakasih dan sampai jumpa di halaman aku selanjutnya.
Jangan lupa senyum hari ini:)


Selasa, 17 Desember 2019

SEJARAH TARI TOPENG KLANA



Assalamualaikum wr.wb
Hallo teman-teman! Kali ini kita bakal bahas tentang apasih tari topeng kelana itu? Berhubung di SANGGAR PURBASARI ini lebih sering menampilkan tari topeng kelana. Yuk kita baca...

Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Cirebon, termasuk Indramayu, Losari, Jatibarang, dan Brebes. Tarian ini salah satu tarian di tatar Parahyangan. Di Cirebon, tari topeng ini banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan ataupun cerita yang ingin disampaikan oleh para penari. Terkadang tari topeng akan dimainkan oleh satu penari dengan tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa penari.

Salah satu dari jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon  yang paling sering dimainkan adalah Tari Topeng Klana. Tari topeng klana ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu seperti Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan secara bersama-sama atau digabungkan dan biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.

Tari Topeng Klana ini merupakan salah satu gerakan tari yang menceritakan sang Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan dari sang Ratu Kencana Wungu, sampai kemudian sang prabu minakjingga (klana) mulai berusaha mendapatkan sang pujaan hatinya Sang Ratu Kencana Wungu. Akan tetapi upaya untuk pengejarannya tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya. Sang Prabu minakjingga ( klana ) ini pun sangat marah dan kecewa. Kemudian kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikannya dan dibendung memutuskan untuk membeberkan segala tabiat buruk dari Sang Ratu Kencana Wungu.

Pada dasarnya tari topeng klana ini bentuk serta warna topeng akan mewakili sebuah karakter atau watak dari tokoh yang dimainkannya. Klana, dengan topeng dan busana yang didominasi oleh warna merah mewakili karakter yang sangat tempramental. Pada tarian ini, Klana yang merupakan orang yang memiliki watak serakah, penuh amarah, serta tidak dapat menjaga hawa nafsu yang dimilikinya akan divisualisasikan ke dalam gerakan - gerakan tubuh seperti langkah kaki yang panjang-panjang dan juga menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka dengan jari-jari yang selalu mengepal.

Sebagian dari gerak tari klana ini menggambarkan seseorang yang sangat gagah, mudah marah, seseorang yang mabuk, atau seseorang yang tertawa terbahak-bahak. Tarian ini dapat pula dipadukan dengan irama Gonjing yang kemudian dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya yang terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) serta bagian ngedok (tari yang memakai topeng).
Beberapa dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang. Bagian kedua, adalah Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.


Sejarah Tari Topeng Kelana
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana ini. Yang pasti, tari topeng klana ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam sejarah Kerajaan Singasari yang terdapat pada Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk yang sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.

Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dapat dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan saja. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada para perempuan dalam lingkungan sekitar kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai sarana hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika para penari belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh seorang laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, tari topeng klana pun juga mengalami perkembangan dari zaman ke zamannya, kini perempuan juga diperbolehkan mempelajari tari topeng klana dan  banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari topeng klana ini cenderung lebih energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan tubuh untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran dari seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.

Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana ini merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana, para raja di Pulau Jawa sebelum kemudian mulai berkembang di daerah Cirebon.

Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari topeng klana ini sebagai sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton masyarakat sekitar.

Tari topeng Klana sering pula disebut dengan topeng Rowana. Sebutan itu mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh wayang Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji. Di Cirebon, topeng Klana dan Rowana kadang-kadang diartikan sebagai tarian yang sama, namun bagi beberapa dalang topeng, misalnya Sujana dan Keni dari Slangit; Sutini dari Kalianyar dan Tumus dari Kreo; membedakan kedua tarian tersebut, hanya kedoknya saja yang sama. Jika kedok Klana yang ditarikan itu memakai kostum irah-irahan atau makuta Rahwana di bagian kepalanya dan di bagian punggungnya memakai badong atau praba, maka itulah yang disebut topeng Rowana. Kostumnya jauh berbeda dengan topeng Klana dan kelihatan sangat mirip dengan kostum tokoh Rahwana dalam wayang wong.

Dalam pertunjukan topeng hajatan, yakni setelah tari topeng tersebut selesai, penari biasanya melakukan nyarayuda atau ngarayuda, yakni meminta uang kepada para penonton, tamu undangan, pemangku dan panitia hajat, para pedagang, dan lain-lain. Ia berkeliling seraya mengasong-asongkan kedok yang dipegang terbalik–bagian dalamnya terbuka dan bagian wajahnya menghadap ke bawah–dan kedok berubah fungsi menjadi wadah uang. Mereka memberikan uang seikhlasnya tanpa merasa ada suatu paksaan. Setelah merasa cukup, penari kembali ke panggung dan sebagai rasa terima kasih, ia kembali mempersembahkan beberapa gerakan tari topeng Klana, sebagai tarian ekstra.

Nyarayuda atau ngarayuda adalah sebuah pesan moral atau simbol yang mengingatkan kita tentang bagaimana sebaiknya beretika di masyarakat. Klana adalah seorang raja yang kaya raya, yang tak kurang suatu apapun, namun ia masih merasa kekurangan, merasa segalanya belum cukup, sehingga ia tetap berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya harta tanpa memperdulikan apakah itu hak atau batil. Itulah sebenarnya pesan yang ingin disampaikan nyarayuda, yang artinya bukan semata-mata mengemis. Hidup, sebaiknya lebih banyak memberi daripada lebih banyak meminta. Itulah pesan yang ingin disampaikan pada tari topeng klana ini.

Terimakasih sudah membaca! Wassalamualaikum wr.wb

Minggu, 15 Desember 2019

PROSES PEMBUATAN TOPENG



Assalamuaalaikum wr.wb
Hallo teman – teman balik lagi nih sama kita jangan bosen – bosen yah! Kali ini kita bakal bikin artikel tentang proses pembuatan topeng itu sendiri yuk kita baca...

Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang  sangat tepat,  serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya loh.  Bahkan ada juga seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga memakan waktu sampai  satu hari, menurut keterangan dari Ki Kandeg (ahli pembuat topeng Cirebon) pada masa lalu kayu yang biasa digunakan untuk pembuatan topeng adalah kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga dan kayu Lame. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok ( bahasa Indonesia : topeng ) diantaranya adalah kesenian tari Topeng khas Cirebon. Topeng Cirebon ini dibuat oleh seorang ahli kedok yang cukup mumpuni, biasanya keahlian para ahli kedok berkembang seiring dengan perkembangan kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok tersebut dimana keahliannya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu ahli pembuat kedok atau topeng yang terkenal diantaranya adalah Ki Waryo putera dari maestro kesenian Cirebon Ki Empek.

Filosofi topeng Cirebon

Topeng dalam filosofi kebudayaan Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok atau topeng  dalam artian penutup wajah, namun topeng juga dipandang sebagai hiasan yang dipasang menempel pada bagian depan sorban atau biasa disebut juga sebagai penutup kepala,  hal tersebut terbukti dengan adanya ungkapan di masyarakat Cirebon yang berbunyi ketop-ketop gopeng yang memiliki arti hiasan pada bagian depan sorban yang dibenarkan oleh mimi Wangi Indriya (maestro tari Topeng Cirebon gaya Tambi).

Sejarah topeng Cirebon

Pada masa awal munculnya kesenian topeng khas Cirebon terutama pada masa kesultanan Cirebon kesenian yang berkaitan dengan topeng atau kedok merupakan kesenian yang bernafaskan Islam karena digunakan sebagai sarana dakwah dalam penyiaran agama Islam.
Topeng pada masa kesultanan Cirebon
Pada masa kekuasaan Sunan Gunung Jati di kesultanan Cirebon kesenian topeng dikaitkan dengan sarana dakwah Islam,  Sunan Gunung Jati melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif dengan masyarakat daerah sekitar  salah satunya adalah dengan kesenian Topeng Cirebon.
Pada masa yang sama atau pada tahun yang sama, Sunan Kalijaga juga membantu penyebaran dakwah Islam dengan menggunakan kesenian tari  topeng Cirebon,  menurut para ahli budayawan Cirebon Toto Suanda, Sunan Kalijaga mengajarkan kepada murid-muridnya yaitu Pangeran Bagusan, Ki buyut Trusmi dari desa Trusmi, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon dan Pangeran Losari tentang kesenian topeng Cirebon, dari merekalah kemudian kesenian tari topeng Cirebon menyebar ke berbagai wilayah seperti wilayah Indramayu, Majalengka dan wilayah-wilayah lainnya yang kemudian berkembang menjadi pelengkap penampilan dari gaya-gaya tari Topeng Cirebon.

Cara Pembuatan topeng khas Cirebon



Langkah-langkah pembuatan topeng Cirebon adalah sebagai berikut:

1. Kayu gelondongan atau kayu yang masih utuh dan sudah dipotong – potong dibentuk menjadi bentuk segitiga  dan dihaluskan permukaannya
2. Mulai dipahat sedikit demi sedikit terutama untuk peletakan bagian - bagian wajah seperti mata, pipi, dan bibir. Jangan lupa  bagian hidung harus lebih timbul dari bagian lainnya.
3. Setiap permukaan wajah mulai dibentuk dengan menggunakan alat ukir seperti pahat
4. Setelah bentuk mulai  cukup rapih, kemudian seluruh permukaan wajah diolesi oleh cat dasar,  kemudian diamplas.
5. Diamkan cat hingga cat mulai mengering, jika cat  mulai kering,  langkah selanjutnya adalah mulailah bentuk wajah topeng itu  dan didandani dengan menggunakan cat warna.  Tentu saja disesuaikan dengan jenis topeng yang ingin dibuatnya.

Semua jenis topeng yang di buat ini akan dikenakan pada saat pementasan tari topeng khas daerah Cirebonan yang diiringi dengan alat musik  gamelan.

Jenis –jenis Topeng Cirebon yang paling pokok atau paling utama ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda yaitu sbb:

1. Topeng Panji
Topeng Panji yang berwarna putih bersih ini melambangkan kesucian bayi yang baru lahir.
2. Topeng Samba (Pamindo)
Topeng Samba ini  menggambarkan topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah
3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang ini wajahnya menggambarkan seorang remaja
4. Topeng  Tumenggung atau Patih
Topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab
5. Topeng Kelana ( Rahwana )
 Topeng Kelana ini topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah
Menurut Hasan Nawi, salah seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.

Selain lima topeng yang ada biasa ditampilkan, menurut Ki Waryo (seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan ) pada masa lalu didalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu yang dibuktikan dengan keberadaan topeng ini yang tersimpan pada dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan.

Proses pembuatan topeng Kencana Wungu:
Proses Awal pembuatan topeng Kencana Wungu oleh Ki Waryo ( seorang ahli pembuat topeng sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan ) dengan bahan baku dari kayu Jaran.

Pewarisan keahlian
Pewarisan keahlian dari pembuatan topeng khas Cirebon ini biasanya dilakukan secara turun temurun dari generasi tua ke generasi muda yang sudah berjalan selama ratusan tahun dan ada pula proses pewarisan keahlian yang dilakukan dengan cara bertahap seperti  pembelajaran dari guru kepada muridnya.

Tukang kedok

Ki Sujana Priya salah satu seorang seniman dari beberapa tukang kedok (bahasa Indonesia : ahli pembuat topeng) di Cirebon, beliau mengatakan jika  keterampilan membuat kedok beliau pelajari dari Ki Kandeg sekaligus sebagai seorang pelaku Wayang Wong gaya khas daerah Cirebon.
Ki Waryo, putera dari Ki Empek ( atau yang biasa disebut maestro kesenian daerah Cirebon ). Ki Waryo mewarisi bakat dari keluarganya sebagai seorang seniman multitalent kesenian di Cirebon,  salah satu dari keahlian Ki Waryo adalah membuat kedok khas daerah Cirebon.

Tentunya membuat sebuah karya seni seperti topeng butuh keahlian dan ketelitian yang sangat dibutuhkan dalam proses pembuatannya. Jadi teamn – teman tidak sembarang orang yang dapat melakukan pembuatan topeng ini yah.. perlu keahlian khusus.

Bagaimana nih ... informasi dari artikel yang kita sajikan ini? Cukup menarik bukan ... sekian dulu yang dapat kita informasikan mengenai topeng khas daerah cirebon ini yah... mohon maaf jika ada salah- salah dalam penulisan atau hal – hal yang tidak sesuai. Terimakasih telah membaca! :)

Wassalamualaikum Wr.Wb

FILOSOFI TOPENG DI CIREBON


               FILOSOFI TOPENG DI CIREBON

Assalamualaikum wr.wb teman-teman! Balik lagi nih sama blog kita, Kali ini kita bakal ngebahas tentang aneka ragam jenis Topeng pada Tari Tradisional tari topeng ini. Selamat membaca!..

Kesenian Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu warisan budaya dan sejara di Kawasan atau daerah sekitaran pintura. Di Cirebon tari topeng memiliki dua varian, yaitu Topeng Babakan Lima Wanda dan Topeng Lakon. Lazimnya berbagai daerah di Nusantara, Cirebon juga memiliki tarian tradisional yakni tari topeng yang memiliki berbagai jenis dengan keunikannya dan makna yang terkandung di dalmanyya pada setiap masing-masing tarian.
Topeng sendiri sebenarnya memiliki makna atau simbol dari perjalanan hidup manusia jadi jenis-jenisnya itu maknanya sbegai perjalanan hidup
Berikut ini ragam jenis Topeng pada Tari Topeng Cirebon yang kini mulai langka loh…
1. Topeng Panji
Topeng Panji ( Mapan Ingkan Siji ) atau yang berarti  senantiasa bergantung pada sang pencipta hingga kematian seseorang itu tiba ) .
Tarian ini melambangkan kesucian anak yang baru lahir, putih, bersih, tabularasa ibarat bayi yang baru lahir. Warna pada topeng panji ini adalah putih polos serta hanya terdapat mata, hidung, mulut tanpa guratana lainnya hingga pakaian juga berwarna serba putih, seperti kata pepatah yang mengatakan jika semua orang atau manusia terlahir bagai selembar kertas putih, bersih tanpa noda sekecil apapun.  Gerakan pada tari topeng ini sangatlah hemat, sederhana dan tenang meskipun tarian tari topeng panji ini diiringi denagn suara alat musik yang penuh dengan dinamika. Tari topeng panji ini juga memiliki makna juga loh yaitu tarian yang menunjukan manusia yang sangat suci dan tidak mudah dapat tersentuh oleh hiruk pikuk masalah duniawi yang mengarah pada hal-hal yang negative atau mengarah kepada hal yang buruk. Tari topeng panji ini terkadang sedikit membosankan karena waktunya yang sangat lama dan gerakannya yang tidak banyak dan sangat sederhana hanya Gerakan “ adeg-adeg ”  tapi... jangan salah loh, tari topeng Panji ini justru memiliki makna yang sangat dalam jika kita mampu memahaminya.
2. Topeng Samba
Topeng Samba ( Saban Dina ) atau yang memiliki arti menyembah atau ibadah setiap hari. Untuk jenis topeng samba ini, kehidupan masyarakat Cirebon ini digambarkan memasuki fase biologis anak-anak yaitu kelincahan. Ini terlihat dari tarian pada Topeng samba yang menunjukan tanda-tanda dari keceriaan dan selalu hidup berbahagia. Tari topeng samba ini menarikan dengan gaya yang sangat centil, lucu, genit, lincah dalam mengikuti irama musiknya dan sangat kekanak-kanakan yang menunjukan kesegaran ekspresi dari topeng samba itu sendiri, Tapi masih sangat ragu dan kurang luwes. Topeng Samba ini berwarna kuning gading agak putih bersih tetapi ada sedikit aksen atau hiasan di wajah atas seperti gambar rambut. Untuk kostum topeng samba ini berwarna hijau daun.
3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang ( Arum Ingkang Hyang lan Ramyang – Ramyang ) atau yang berarti sifat labil dari seseorang yang menginjak pada fase remaja dan sedang mencari jati dirinya yang sesuai tuntunan dari Tuhan dan Agama yang dianutnya.
Tari topeng tradisional yang menggunakan topeng rumyang ini menggambarkan atau simbol dari masyarakat Cirebon yang memasuki pada fase remaja atau akhil baligh yang mulai mencari jati dirinya sendiri. Topeng rumyang ini juga berwarna merah jambu yang sangat manis sebagai simbol dari keremajaan masyarakat Cirebon. Dari gerakan tari topeng rumyang ini mulai menunjukan ketegasan dan terstruktur dengan baik tetapi masih ‘ labil’ terlihat dari gerakannya yang berulang-ulang. Tari topeng ini memiliki ukiran yang sangat sederhana, dengan warna dasar pink atau merah muda.
4. Topeng Tumenggung

 Topeng Tumeggung ( Ratu Hyang Agung ) atau yang memiliki arti prinsip hidup untuk memilih dan     memilah mana yang benar atau yang salah, pemimpin yang adil dan sangat bijaksana.
Tarian topeng Tumenggung ini menggambarkan manusia yang sudah memasuki masa dewasa dan sudah menemukan jati diri yang sebenarnya. Diantara Lima Wanda babakan topeng Cirebon, topeng tumenggung merupakan satu-satunya topeng yang menggunakan atribut topi. Topeng tumenggung ini menggambarkan masyarakat Cirebon yang sudah memasuki fase dewasa dan mapan yang memiliki gerak tenang, mantap, tegas, berkepribadian, bertanggung jawab, memiliki jiwa korsa yang paripurna dan sangat dewasa. Pada struktur gerak, topeng tumenggung ini seperti bagian dari tayubdan sangat jauh berbeda dengan topeng yang lainnya, topeng yang digunakan memiliki kumis serta guratan – guratan yang berwibawa dan berwarna merah kecoklatan. Untuk kostum tari topeng tumenggung ini biasanya penari menggunakan warna baju hitam. Bila dilihat di dalam struktur kerajaan tumenggung memiliki arti sebagai patih atau panglima perang kerajaan.
5. Topeng Kelana
Topeng Kelana ( Kala Ing Kana) yang memiliki arti prinsip hidup untuk berbagi selagi kita ada.
Topeng kelana ini menggambarkan perwatakan dari  seorang raja yang memiliki hawa nafsu dan nafsu tersebut harus dikendalikan atau diarahkan pada kebaikan dan tidak membuat kerusakan. Pada fase terakhir jenis-jenis topeng ini adalah topeng kelana. Sebagian besar orang memaknai topeng kelana ini sebagai simbol kerakusan manusia dan angkara murka. Topeng kenala ini menjadi daya Tarik tersendiri untuk para seniman, budayawan dan para pengamat seni topeng. Bentuk dari topeng kelana ini adalah yang paling rumit juga banyak ikatannya diatas topen. Topeng kelana  berwarna serba merah dengan kumis tebal dan tatapan mata yang sangat tebal serta sangat gagah dan kostum penarinya biasanya menggenakan kostum berawarna merah pekat. Pada gerakannya sendiri tari topeng kelana ini lebih mengutamakan kepada mengaktualisasikan diri, agresif, enerjik dan ekspresif yang merupakan akumulasi dari semua gerakan tari topeng sebelumnya,  namun Gerakan pada tari topeng kelana ini sejatinya menggambarkan sebagai manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu atau amarah. Bahkan ada sebuah pendapat yang mengatakan bahawa jenis topeng yang ada di tari tradisional khas Cirebon ini menjelaskan simbol sedulur papat lima pancer atau empat nafsu dalam diri manusia. Nah teman-teman, pada topeng kelana ini menjelaskan simbol dari tingkatan orang yang paripurna tapi bukan dalam konteks angkara murka, melainkan orang yang sudah sampai pada tingkat aktualisasi diri atau ekspresif.

Sekian dulu informasinya yah teman – teman semuanya ! sampai jumpa di artikel kami yang selanjutnya, mohon maaf jika ada penulisan kata atau hal – hal yang kurang berkenan lainnya  terima kasih sudah membaca artikel kami teman-teman. Sekian, Terimakasih

Wassalamualaikum wr.wb

Sabtu, 14 Desember 2019

SANGGAR PURBASARI-KHAS TARI TOPENG CIREBON


4. SERBA-SERBI KHAS TARI TOPENG CIREBON

     Penari berperan untuk mengatur musiknya terutama pola-pola ritme kendang. Namun kegiatan tidak keluar dari aturan-aturan tradisi yang ada yaitu bahwa setiap tarian topeng mempunyai koreografi yang berdasarkan tingkatan. Tempo gending seperti, dodoan, unggah tengah (sedang), dan deder (cepat). Dalam hal ini Masunah mengulas sebagai berikut. Aturan-aturan trasidisi Tari Topeng Cirebon antara lain setiap tarian memiliki struktur koreografi yang berdasarkan tingkatan tempo gending. Tingkatan tersebut terdiri dari: tempo lambat, tempo sedang dan tempo cepat. Istilah umum yang dipergunakan oleh seniman Cirebon berkaitan dengan tingkatan tempo tersebut adalah dodoan, unggah tengah, dan deder (Masunah, 1997: 32).

     Dari semua itu gerakan tari yang ada dalam Tari Topeng Cirebon khususnya gaya Gegesik. Topeng Panji sebenarnya adalah inti dari gerakangerakan tari topeng lainnya. Hanya saja dalam tarian pokok lain, gerakan merupakan bumbu yang sekaligus juga merupakan ciri khas dari pertunjukan tersebut. Dengan kata lain, bahwa setiap gerak dalam Tari Topeng Cirebon ada yang mengandung makna tertentu atau disebut gerak maknawi, istilah lainnya adalah gesture. Tetapi ada juga yang tidak mempunyai makna (improvisasi penari). 1. Pra Pertunjukan Untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai struktur tarian Tari Topeng Gegesik ini, penulis mendatangi sebuah sanggar seni yang bernama Panji Sumirang pimpinan Ibu Karnati, dalang topeng yang terkenal dari Gegesik. Sebelumnya sanggar ini dipimpin oleh ayahnya yaitu Bapak Sujana, setelah beliau meninggal kemudian diwariskan kepada putrinya yaitu Ibu Karnati.  Seperti lazimnya penyajian topeng hajatan atau dinaan, istilah topeng disini bukan menunjukan pada penutup muka, tetapi pada bentuk pertunjukan tari topeng. Hal pertama yang harus dilakukan oleh dalang topeng menurut Ibu Karnati yaitu menyiapkan sesajen. Sesajen tersebut dipersiapkan oleh yang empunya hajat, yang antara lain terdiri atas nasi uduk atau tumpeng, kendi air yang ditutupi oleh telur ayam kampung, bubur nasi merah dan putih, beras, bakakak ayam, kelapa rujak, pisang, wedang jahe, kopi, bajigur dan pembakaran kemenyan atau disebut parukuyan (wawancara dengan Karnati, September 2010). Selain itu, ada beberapa jenis makanan atau buah-buahan maupun minuman segar yang digantung memanjang ke samping antara dua tiang tenda belandongan sebagai hiasan tepat di atas kotak. Menurut Ibu Karnati itu menandakan angin-angin, artinya segala keinginan dan nafsu manusia (wawancara dengan Karnati, September 2010). Pertunjukan dimulai dengan tatalu lagu permulaan yang tanpa taritariannya yang bermaksud untuk menarik perhatian penonton. Alunan musik yang cepat dan semakin keras ditujukan bagi masyarakat setempat agar menjadi tahu kalau di daerah tersebut akan dilakukan pertunjukan topeng. Setelah berlangsung lima menit kemudian tempo irama beralih menjadi lebih tenang. Sebelum dan selama tatalu, dalang komat-kamit mengucapkan mantera sambil membakar kemenyan dan dengan sesajen yang telah dipersiapkan di depannya. Pada saat pembacaan mantera dalang nyambat Sunan Panggung yang dipercayai sebagi guru besar dan pelindung dalang agar minta diberkahi keselamatan dan kesuksesan dalam pertunjukan tersebut.

     Dalam salah satu tulisannya Murgiyanto mengutip keterangan mengenai pertunjukan topeng sebagai berikut. Berdasarkan tradisi Jawa, pertunjukan topeng itu diciptakan oleh Sunan Kalijaga, Putra Bupati Tuban yang sangat gemar akan kesenian dan akhirnya menjadi salah seorang wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Ketika pusat pemerintahan berpindah dari Jawa Timur ke Jawa Tengah dan para raja memeluk Islam, pertunjukan topeng terlempar dari dalam istana dan kembali dipelihara oleh rakyat jelata yang belum sepenuhnya melepaskan kepercayaan asli mereka. Dengan melihat kenyataan ini, Sunan Kalijaga memanfaatkan pertunjukan topeng (dan wayang kulit) yang digemari rakyat sebagai alat memberikan penerangan dan penyebaran agama Islam kepada rakyat banyak itu. Di Cirebon para dalang (penari) topeng menganggap dirinya keturunan Pangeran atau Sunan Panggung, putra Sunan Kalijaga yang bukan saja menaruh perhatian terhadap seni topeng tetapi juga menarikannya sendiri (Murgiyanto, 1980: 52-53) Nama Pangeran Panggung juga terdapat dalam mantera (doa) saat dalang hendak menarikan Topeng Panji, sebagi berikut: Kula titip maring Adulmuthalib Cuan lamun ora dijaga bendung Kenang bendunge Allah Ta ala Allahuma Bisrokhman Mil suci saking umat Kanjeng Nabi Muhammad Allhuma Sotiamin Nyuwun ning Pangeran Bonang Pangeran Panggung minta diraksa Sajabane sejerone pangguung, Artinya: Saya titip kepada Abdulmutholib Awas kalau tidak dijaga celaka terkena murka Allah swt Allah Yang Maha Pengasih Yang suci dari umat Baginda Nabi Muhammad Ya Allah Minta kepada Pangeran Bonang Pangeran Panggung minta dijaga di luar dan di luar panggung (Suanda, 1989: 76) Pada saat tatalu selain bertujuan untuk menarik perhatian penonton tetapi juga pemberitahuan bahwa para dedemit (roh baik dan roh jahat) semua berdatangan ke tempat pertunjukan. Selama tatalu roh baik seperti Sunan Panggung dapat mengusir roh jahat supaya pertunjukan berjalan dengan lancar. Menurut H. Mansyur orang-orang baru berdatangan untuk melihat pertunjukan setelah selesai tatalu, kalau tidak mereka bisa diganggu oleh para dedemit itu (wawancara dengan H. Mansyur, September 2010). Namun, ada pula yang beranggapan bahwa tidak enak untuk datang segera, karena pepatah goong-clok, setelah bunyi goong yang pertama dipukul terus saja duduk di tempat termasuk pantangan. Sebelum dalang topeng muncul, gamelan tetap dibunyikan secara perlahan-lahan. Setelah itu tampak beberapa orang yang menari-nari di atas arena pertunjukan. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dalang topeng keluar dari kamar rias lalu berjalan menuju kotak dan duduk di sana. Sekilas tampak Ibu Karnati begitu gagah denga kostum yang dipakainya, ia memakai baju biru terbuat dari kain satin dan kain batik mega mendung khas Cirebon. Pakaian tersebut dipakai sedemikian rupa hingga menutupi kakinya tetapi tidak mengurangi kebebasan geraknya. Sementara itu suara gamelan berhenti, tampak sang dalang bercakap-cakap sebentar dengan para nayaganya sambil mengenakan sobrah di kepalanya. Kemudian pertunjukan pun segera dimulai. Pertunjukan tersebut dilakukan di arena yang luasnya sekitar 10 m 2. Hal itu cukup untuk sebuah sanggar seni Tari Topeng Gegesik yang diberi nama Langen Purwa. Bangunan ini ditata sedemikian rupa khusus untuk belajar tari topeng sekaligus untuk pertunjukannya. Dilengkapi dengan kamar rias, tempat parkir, arena pertunjukan yang sekaligus tempat berlatih tari dan ruang lainnya yang semuanya belum selesai dibangun. Di sana tampak pula di tengah area ada sebuah kotak dan di atasnya ada tekes atau sobrah untuk penutup kepala dengan rawis terjuntai ke bawah. 2. Pertunjukan Lagu Kembang Sungsang mulai ditabuh, dalang memulai tariannya dengan duduk di depan kotak dan membelakangi penonton. Dengan kepala menekung atau telungkup tangan dilipat di atas kotak yang sekaligus penyangga. Pada saat ini dalang membacakan mantera untuk keselamatan pertunjukan dan sebagainya. Sikap yang sebenarnya adalah semedi dan pada saat ini penonton hanya meilhat panggung penari yang ditutupi oleh kerodong, setelah selesai dalang mulai berdiri perlahan. Gerak demi gerak berlangsung tanpa ada suatu penekanan yang berarti. Sekalipun suara gamelan baegitu bergemuruh namun tidak mempengaruhi tariannya yang tetap halus dan lembut. Tampak dalang melakukan gerak-gerik tariannya dengan sangat hati-hati dan perlahan, hingga berkesan seperti diam. Di sini tampak keseriusan dalang saat dia belum mengenakan kedok, sangat tenang dan khidmat, terlihat dari tatapan mata dan wajah yang menunduk, begitu dingin. Pada saat penari mengenakan kedok, seorang nayaga melakukan monolog atau disebut nyandra dan istilah Cirebonnya adalah Mertawara. Isi dari mertawara ini diantaranya menyebutkan, Jangan gugup, telah datang seorang sinatria yang bernama Raden Panji,. dan seterusnya. Menurut H. Mansyur mertawara ini merupakan kesamaan suatu adat masyarakat di daerah bila ada bayi yang baru lahir selalu di gebrag (dikageti dengan membunyikan apa saja) dengan tujuan agar jantungnya sehat dan tidak cepat kaget (wawancara dengan H. Mansyur, September 2010). Gamelan mulai naik lagu Lontang Besar, gerak dan ngola tangan dengan hitungan satu gong, bergantian kiri kanan, kemudian gamelan naik lagi dengn lagu Bata Rubuh, gerak gleong dan cantel dalam hitungan satu gong. Kemudian diteruskan gerak tumpang tali seblak soder lalu ngola sikut. Sekalipun gamelan terus naik irama dan kecepatannya, namun hal itu tidak mempengaruhi gerak dalang yang tetap dalam kelembutan dan kehalusan. Kemudian gamelan naik lagi lagu Owet-owetan, gerak berkisar pada gerak ngola tangan, lembean, temple jamang, ngola bahu, dan sesekali dalang membetulkan kain. Setelah itu dilanjutkan lagu Deder atau lagu Singa Kawung Kering dan gerak-geriknya ngola sumping, ngola sikut, silang sumping yang dikahiri oleh lontang kembar lalu penarinya membuka kedoknya.

     Menurut H. Mansyur selama berlangsungnya tarian ini hanya beberapa orang penonton saja yang kelihatannya benar-benar menyimak. Hal itu pun terbatas pada orang tua saja, ada beberapa anak-anak yang duduk lesehan di depan terlihat serius menonton tarian ini. Terlebih lagi pada saat ini jumlah penonton belum begitu banyak dan biasanya penonton akan bertambah pada saat tarian yang kedua muncul, yaitu Topeng Pamindo (Wawancara H. Mansyur, September 2010). Pasca Pertunjukan Setelah dalang membuka kedok ini berarti tarian topeng Panji telah selesai. Kemudian dalang kembali menuju kotak, duduk sebentar, membuka sobrahnya kembali dan menyiapkan kedok ayang akan dipakai. Hampir selalu seperti itu sampai akhir tarian Topeng Klana. Selama itu dalang topeng tidak merasa lelah setiap menari lagi, seakan-akan tenaganya baru kembali. Padahal, setiap tarian memerlukan stamina yang bagus untuk bisa tampil prima apalagi biasanya kelima tarian pokok ini ditarikan sepanjang hari. Lama tariannya dari pagi hingga sore hari dengan lama tiap tarian hamper memakan waktu dua jam, khususnya Panji. Begitu pun yang terlihat pada Karnati, saat dia masih menari atau di atas arena pertunjukan, dia begitu bersemangat, tidak terlihat pegal atau kehabisan tenaga. Setelah dalang mengganti kostum tarinya dan kembali berkumpul bersama penulis, dia mengaku bahwa, rasa capek itu ada setelah dia selesai menari, setelah ganti kostum (wawancara dengan Hj. Juni, September 2010). Hal tersebut dikarenakan mantera yang dibacakannya saat pertama dia menari. Selain itu untuk menjadi dalang topeng harus melewati proses maseuk diri, yaitu proses seperti puasa tidak makan makanan yang dibungkus oleh daun dan tidak boleh banyak tidur dan mengosongkan perut sambil terus berlatih yang kesemuanya itu bertujuan agar sukses di atas arena pertunjukan (wawancara Hj. Juni, September 2010).

     Aspek Musik-musik pengiring adalah sajian komposisi musik yang difungsikan sebagai iringan tari. Setiap topeng berbeda komposisi musiknya, sesuai dengan struktur dan karakteristik tarian yang dimainkan. Untuk mengiringi tari topeng gamelan yang digunakan dalah gamelan yang berlaras Prawa. Pada waktu tari topeng baru dikembangkan para Wali Sanga dan juga digunakan sebagai media dakwah penyebaran agama Islam, menurut Nawi (2003: 5) gamelan yang digunakan sebanyak 6 jenis yaitu: 1. Saron satu disebut penurut 2. Saron dua disebut penimbal 3. Bonang 4. Kendang 5. Engklong 6. Gong Pada masa-masa selanjutnya masih menurut Nawi (2003: 5) gamelan mengiringi tari topeng tersebut dilengkapi dengan:
1. Penerus
2. Jengglong
3. Kebluk atau Tutukan
4. Gender
5. Suling
6. Kemanak
7. Beri atau Kecrek
8. Klenang
9. Peking atau Titil
10. Kemyang atau Rincik Makna
dari jumlah gamelan tersebut adalah jumlah gamelan yang enam yaitu Rukun Iman Islam. Sedangkan jumlah gamelan yang sepuluh adalah disesuaikan dengan arah mata angin, Timur, Barat, Utara, Selatan, Teggara, Barat Daya, Barat Laut, Timur Laut dan ditambah Atas dan Bawah (Langit dan Bumi). Menurut dalang H. Mansyur pada masa sekarang ini gamelan yang digunakan untuk mengiringi Tari Tari Topeng Gegesik bukan hanya berlaras Prawa, namun juga digunakan gamelan yang berlaras Pelog (wawancara dengan H. Mansyur, 5 Oktober 2010). Perbedaan laras Prawa dan Pelog terdapat pada patut-nya. Pada gamelan Prawa berisi patut laras, patut miring, patut sanga, patut sepuluh dan patut panjrang. Sedangkan pada gamelan Pelog disamping kelima patut tersebut ditambah dengan patut bungur.

     Dalam pertunjukan Tari Topeng Gegesik, tata letak setiap wanditra gamelan ditempatkan dan diatur secara khusus oleh para pangrawit (nayaga). Kotak topeng selalu disimpan di tengah-tengah panggung dan dijadikan titik pusat. Di sebelah kiri kanan kotak ditempatkan beri dan klenang, sedangkan keprak atau kecrek dikaitkan ke bibir kotak topeng sebelah kanan. Di belakang kotak topeng ditempatkan berturut-turut, kendang, saron pembarep, saron penimbal, dan kedemung, serta gong. Wanditra (alat gamelan) ini ditempatkan berdekatan sedemikian rupa untuk memudahkan komunikasi antarpenabuh. Pengendang perlu dekat dengan penyaron sebagai pembawa lagu. Demikian pula para penabuh lainnya yang berada di belakangnya, yaitu titil, bonang, dan jenglong. Sesuatu yang khusus adalah arah hadap penabuh gong yang senantiasa berlawanan dengan arah penabuh lainnya. Ia duduk sendiri mengahadap ke arah belakang panggung, sementara yang lainnya ke depan panggung. Keunikan arah hadap penabuh gong itu salah satunya terkait dengan fungsi dia untuk mengawasi stuasi yang terjadi di belakang panggung.

SANGGAR PURBASARI-LATAR BELAKANG PENYEBARAN TARI TOPENG CIREBON

                                   



3. LATAR BELAKANG PENYEBARAN TARI
TOPENG CIREBON

     Meluasnya budaya Tari Topeng Cirebon menurut Masunah dan Karwati disebabkan oleh peranan seniman yang mengadakan pertunjukan bebarang/barangan. Mereka pergi bekelana berhari-hari lamanya. Perjalanan ditempuh mulai dari berjalan kaki, menggunakan gerobak dorong, hingga kendaraan roda empat. Kepindahan seniman-seniman itu didasari atas tuntutan ekonomi yang sangat sulit. Keahlian yang mereka kuasai hanyalah mempergelarkan kesenian yang dimiliki (Masunah dan Karwati, 2003: 25). Mereka tidak cukup mempunyai lahan yang baik untuk tempat tinggal maupun lahan untuk garapan pertanian. Jangankan untuk rumah, untuk makan sehari-hari pun sangat sulit. Keadaan musim sangat mempengaruhi pola kehidupan seniman tari topeng. Musim paceklik adalah musim yang sangat sulit untuk mendapatkan pangan. Keadaan ini mendorong seniman untuk berusaha mengadakan pertunjukan secara keliling, mencari orang yang bersedia menonton mereka. Saat barangan adalah saat dimana mereka harus pergi jauh ke luar daerah asal dan mungkin tidak kembali. Para seniman tari topeng seringkali mengadakan pertunjukan barangan dan pada akhirnya sering tidak kembali ke tempat semula melainkan memilih hidup dan bertempat tinggal di tempat yang baru. Di tempat baru ini akhirnya mereka menetap sekaligus mengembangkan pola-pola yang semula mereka anut di daerah asal yang disesuaikan dengan kondisi/situasi daerah atau yang menurut Suanda disebut sebagai local colour setempat. Tari Topeng Cirebon mempunyai wujud baku secara teknik dan penampilan, mempunyai isi dan makna yang terkait dengan fungsi dan perandalam masyarakat. Topeng selain mempuyai perbendaharaan teknis yang mantap mau tidak mau mengalami dinamika baru, mengalami perubahan dan perkembangan dari topeng semula. Perubahan ini meliputi perubahan fungsional dan bentuk sebagai akibat kebutuhan dan kreatifitas manusia pelakunya. Tidak jarang, dalam wilayah baru yang ditempati, muncul beragam gaya/pola penari atau pun pertunjukan, akan tetapi pada arti tempat, arti wilayah juga lokasi yang dihuni seniman tari topeng. Menurut Suanda perbedayaan gaya akibat migrasi seniman akan semakin beragam dan sulit dibedakan lagi bila disertai perkawinan di antara seniman yang berbeda daerah atau pun gaya petunjukan. Para seniman yang mengembara, sering dalam perjalanan atau di daerah yang baru dihuni melakukan pernikahan dengan seniman dari kelompok berbeda gaya yang lain. Ketika mereka berumah tangga, gaya pertunjukan dari kedua insan yang berbeda membentuk semacam dialog atau peleburan dimana terjadi penyesuaian satu sama lain (Suanda, 1995: 54). Dalam proses semacam itu, keduanya akan saling memberi dan menerima dan akan tampak yang satu lebih dominan disbanding dengan yang lainnya. Hal inilah yang terkadang menjadi masalah di dalam membicarakan pola umum Tari Topeng Cirebon. Lebih lanjut Suanda mengemukakan bahwa: Hal yang paling sukar dalam membicarakan pola umum Tari Topeng Cirebon adalah bahwa tiap daerah, dan bahkan penari punya gaya atau pola yang berbeda. Pemetaan gaya atas dasar wilayah pun sering tidak dimungkinkan karena banyak seniman yang pindah dari suatu daerah yang gayanya berbeda (Suanda, 1995:2). Perpindahan seniman dari satu tempat ke tempat lain mengakibatkan kesenian bersifat heterogen. Kesepakatan garap dan peristilahan tidak dipandang sebagai hal yang penting. Mereka lebih banyak bersifat terbuka dan luwes menyadari lingkungan. Musik yang digunakan dalam suatu acara hajatan akan berbeda dengan musik yang dipakai barangan. Musik barangan tampak lebih sederhana dibandingkan dengan musik hajatan, begitu pun dalam hal tarian. Masalah penyingkatan rangkaian gerak tarian dan waktu pertunjukan adalah hal yang sering dilakukan oleh mereka. Termasuk di dalamnya susunan tarian. Demikian juga dengan peristilahan, keadaan ini banyak menjadikan keanekaragaman istilah. Ada istilah berbeda digunakan untuk sesuatu yang sama atau sebaliknya hal yang sama memiliki beberapa istilah. Dalam kondisi seperti itu terjadi unsur-unsur pertunjukan yang hilang atau diganti dengan hal baru. Adanya unsur-unsur yang berkurang atau bertambah tersebut menjadikan Tari Topeng Cirebon bersifat kompleks. Pada masa awal kemunculannya Tari Topeng Cirebon dipertunjukan di keraton. Penari dan dalangnya merupakan seniman-seniman yang berasal dari desa. Para seniman yang awalnya turut serta dalam kegiatan kebudayaan di keraton akhirnya keluar karena keraton tidak sanggup membiayai kegiatan kebudayaan, karena kekuasasan telah beralih ke tangan penjajah. Akhirnya para seniman kembali ke desa dan mengembangkan kesenian tari topeng di daerahnya masing-masing. Setelah beberapa periode, kesenian tari topeng pun menjadi milik lingkungan masyarakat desa yang diwariskan secara turun-temurun dan tersebar di beberapa tempat daerah Cirebon seperti, Losari, Slangit, Gegesik, Kalianyar, Palimanan, Majalengka, dan Indramayu.

     Tari topeng meski tersebar di beberapa daerah tetapi secara umum bentuk fisiknya tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam hal itu terdapat ukurannya. Pada aspek gerak tariannya atau pun penerapan nomor tariannya tiap daerah memiliki warna dan corak yang berdiri sendiri dengan ciri khas daerahnya masing-masing. Perbedaan tersebut diakibatkan gerak penarinya atau pun dari versi dalangnya yang menjadikan ciri khas daearahnya masing-masing. Menurut Elang Komarahadi (44) Pembina kesenian Keraton Kacerbonan menyebutkan, Karena awalnya satu bibit, walaupun berbeda tariannya kesenian Tari Topeng Cirebon mempunyai satu misi yaitu menerangkan karakteristik manusia. Bentuk topeng atau penutup mukanya secara umum setiap daerah sama karena ada pakem dalam pembuatannya. Kalau pun ada sedikit perbedaan, itu disebabkan perbedaan kemampuan pengrajin dalam teknik mengukir pembuatan topengnya atau pun kretivitas dari pengrajinnya. (Wawancara dengan Elang Komarahadi, September 2010)

     Di Gegesik kesenian tari topeng sangat popular, hal ini terbukti dengan banyaknya kelompok tari topeng atau sanggar-sanggar tari topeng. Sanggar-sanggar tersebut diantaranya yaitu Sanggar Panji Sumirang pimpinan Ibu Karnati, Sanggar Among Prawa pimpinan Hj. Juni, Sanggar Sungging Prabangkara Pimpinan Parastika, dan Sanggar Langen Purwa pimpinan H. Mansyur. Dalam Tari Tari Topeng Gegesik dikenal lima topeng pokok yang ditarikan secara berurutan sesuai dengan karakternya masing-masing. Kelima topeng pokok itu adalah Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Patih Tumenggung dan Klana. Selain kelima topeng itu ada pula topeng bodor yang ditarikan disertai lawak yaitu Jinggananom, Pentul, Tembem (Enyo), Jungkring dan Aki-aki.

Jumat, 13 Desember 2019

SEJARAH SANGGAR PURBASARI PADEPOKAN ABDUL ADJIB





Dalam sejarahnya, jauh sebelum keberadaan tari topeng cirebon tarian sejenis telah tumbuh dan berkembang di Jawa Timur sejak abad 10-16 Masehi. Pada masa jenggala berkuasa dibawah pemerintahan Prabu Amiluhur atau Prabu Panji Dewa, tarian tersebut masuk ke cirebon melalaui seniman jalanan. Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian diwilayah kesultanan cirebon. Tari topeng adalah tari asli dari daerah cirebon selain dicirebon termasuk subang, brebes, majalengka, losari, indramayu. Tari ini terkadang dimainkan oleh satu orang, namun terkadang juga dibawakan oleh beberapa orang.Selanjutnya, mengingat cirebon adalah salah satu pintu masuk tersebarnya Agama Islam di Tanah Jawa, hal ini turut berdampak pula pada perkembangan seni tradisi yang telah ada sebelumnya.Adalah Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung jati ) yang menjadi tokoh sentralnya pada tahun 1470 hingga menjadikan wilayah cirebon sebagai pusat penyebaran Islam. Sebagai upaya untuk menyebarkan agama baru tersebut, Sunan Gunung Jati pun bekerja sama dengan sunan Kalijogo.Topeng Cirebon biasanya terbuat dari bahan kayu lunak sehingga mudah dibentuk, misalnya kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga ataupun kayu Lame. Meski terbuat dari bahan yang lunak, tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian dalam pembuatannya.
Bahkan bagi seorang pengrajin ahli, membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Disamping adanya proses pewarisan keahlian dari generasi ke generasi, kelestarian tradisi pembuatan topeng berkembang seiring dengan perkembangan kesenian yang menggunakannya, diantaranya adalah Tari Topeng Cirebon.
Sebagai sebuah karya seni, topeng dibuat bukan hanya dipandang sebagai kedok penutup wajah. Dalam filosofi kebudayaan Cirebon, topeng lebih berfungsi sebagai hiasan bagian depan sorban atau penutup kepala.
Istilah topeng sendiri dalam lingkup masyarakat Cirebon terbentuk dari dua kata yakni “ketop-ketop” yang berarti berkilauan dan “gepeng” yang berarti pipih. Kedua istilah tersebut mewakili sebuah elemen yang ada di bagian muka sobrah atau tekes, yaitu hiasan di kepala sang penari.
 Sanggar purbasari ini awalnya dibangun oleh Alm. bapak ibu  sekaligus dayang wayang dan dalang topeng. Beliau wafat 1986, bapak tersebut bernama purba. Sanggar ini terus turun temurun dari keluarga dan di teruskan oleh putrinya yang bernama ibu baedah A.Mpd dari dalang wayang ternama sekaligus dalang Topeng cirebon, diwilayah gegesik kabupaten cirebon yang bernama "Dalang Purba" atau lebih dikenal dengan sebutan dalang "Jublag almarhum". Sanggar Purbasari dipimpin dari tahun 2005. Salah satu kekhasan tari topeng ini adalah pada gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, sementara iringan musiknya didominasi oleh kendang dan rebab. Keunikan lainnya adalah adanay proses pewarisan keahlian dari generasi tua kepada yang lebih muda



Alamat sanggar ini bertempat di Jl.Sukasari gang 4 No.30 Rt/Rw 2/3, sukapura, kejaksan, kec. Kejaksan kota cirebon. 

CP : +628122143273


Sanggar Purbasari ini mengelola tari Topeng Cirebon versi gegesik yang merupakan budaya cirebon warisan leluhur yang perlu kita lestarikan. Ibu baedah juga merupakan menantu dari sang moestro tarling Cirebon yaitu Almarhum Drs.H.Abdul Adjib atau istri dari putra sang moestro tarling cirebon yaitu Insan S Adjib.i Sanggar purbasari ini juga tak hanya topeng yang ada didalamnya namun juga terdapat kreasi tradisional.



Sanggar Purbasari ini memakai gaya gegesik, saya disini akan membahas tentang tari topeng Gaya Gegesik :

1. Sejarah tari Topeng Gegesik
mengenai erkembangan kesenian Tari Topeng Gegesik Tahun Fakta-fakta ini diperoleh melalui sumber tertulis berupa buku-buku, dokumen dan arsip-arsip yang relavan dengan kajian yang peneliti lakukan. Untuk melengkapi informasi penelitian ini, peneliti juga melakukan wawancara melalui sumber lisan (oral history) terhadap para pelaku atau narasumber yang benar-benar mengetahui, mengalami dan mengerti mengenai kesenian Tari Topeng Gegesik. Pembahasan bab ini dikembangkan menjadi empat sub bab bahasan, yaitu pertama, gambaran umum kehidupan masyarakat Kabupaten Cirebon pada tahun 1980 hingga 2000 yang berisi mengenai gambaran umum kecamatan Gegesik dan Kabupaten Cirebon. Kedua, mengenai Perkembangan kesenian Tari Topeng Gegesik di Kabupaten Cirebon tahun Ketiga, peran seniman dalam mengembangkan kesenian Tari Topeng Gegesik di Kabupaten Cirebon. Keempat, peranan sanggar kesenian Tari Topeng Gegesik dalam proses pewarisan terhadap generasi berikutnya. Kelima, tanggapan masyarakat Gegesik terhadap kesenian Tari Topeng Gegesik.
Gambaran Umum Kecamatan Gegesik Tahun Kehidupan sosial budaya suatu penduduk dalam suatu daerah merupakan hal yang sangat penting karena setiap daerah akan memiliki kehidupan sosial budaya yang berbeda dengan daerah lainnya yang menjadikannya sebagai suatu karakteristik atau ciri khas yang dimiliki. Karakteristik sosial budaya penduduk yang ada umumnya ditunjukkan oleh adat istiadat, budaya, hasil kerajinan rakyat, arsitektur bangunan, bahasa, dan lain-lain. Masyarakat Kecamatan Gegesik memiliki sifat-sifat religius, kekeluargaan dan kegotongroyongan yang cukup membanggakan. Rasa kepedulian sosial atau yang lebih dikenal dengan sebutan kesetiakawanan sosial, adalah sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang dilandasi oleh kesadaran tanggung jawab sesuai dengan kemampuan masingmasing dalam hidup bermasyarakat Mengenai kondisi sosial budaya masyarakat Kecamatan Gegesik dapat dilihat dari beberapa aspek yang meliputi aspek agama, pendidikan, sosial serta nilai-nilai tradisi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat setempat. Berkaitan dengan hal tersebut, jumlah penduduk merupakan hal yang perlu dijelaskan. Begitu pula dengan masyarakat Kecamatan Gegesik. Gambaran mengenai kualitas penduduk dapat dilihat dari tingkat pendidikan masyarakatnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat pendidikan akan sangat mempengaruhi kehidupan pada suatu masyarakat. Tingkat pendidikan masyarakat Kecamatan Gegesik pada tahun tidak dapat penulis paparkan secara lengkap dikarenakan keterbatasan sumber di lapangan.

Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik memiliki daerah penyebaran di sekitar kecamatan Gegesik, kabupaten Cirebon. Pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yang paling terlihat berbeda adalah raut karakteristik topengnya. Topeng Panji pada gaya Gegesik digambarkan dengan karakteristik wajah berwarna putih dengan raut tenang, mata sipit dengan tatapan yang selalu merunduk tajam, hidung mancung dan senyum yang terkulum
Di Gegesik yang merupakan salah satu pusat perkembangan kesenian cirebon, termasuk kesenian tari Topeng Cirebon, penari atau dalang tari Topeng Cirebon kini tidak sebanyak dulu ketika masa jayanya, menurut budayawan Cirebon bapak Nurdin Noer yang juga merupakan ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon.



Pada perkembangan sebuah kesenian termasuk tari Topeng Cirebon gaya Gegesik, perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perubahan yang terjadi pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik kebanyakan dipengaruhi oleh struktur masyarakat urban serta berperannya sekolah kesenian, modernisasi, peristiwa, politik dan perubahan pandangan pewaris topeng, terutama sekitar tahun 1980 hingga tahun 2000. Perubahan tari Topeng Cirebon gaya Gegesik terutama terjadi pada cara dan bentuk penyajiannya, sehingga pada masa itu pertunjukan topeng dicampur dengan dangdut atau yang oleh masyarakat disebut sebagai topeng-dangdut.

Fungsi Topeng Gegesik, bahwa kesenian itu pada awalnya tidak semata-mata atas dasar keindahan saja. Akan tetapi, mempunyai tujuan dan fungsi tertentu. Begitu juga dengan Topeng Gegesik, pada kenyatannya fungsi topeng tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Secara rinci fungsi topeng dikelompokkan ke dalam tiga fungsi simbolik, fungsi praktis dan fungsi estetis. 1. Fungsi simbolik Dalam proses penciptaannya topeng ditujukan untuk memberikan arti atau makna sebagai bentuk perlambangan yang dapat berfungsi dalam kegiatankegiatan keagamaan maupun kegiatan-kegiatan sosial dalam kehidupan seharihari. Seperti yang dijelaskan oleh H. Mansyur yaitu tentang fungsi simbolik kedok dan Tarian sebagai berikut ini. a. Tari Panji Secara umum kata panji dapat diartikan terdepan atau yang menjadi pimpinan. Biasanya panji adalah mereka yang tergolong para sentana dan mendapat wewenang dari pimpinan prajurit. Para pakar topeng memberikan arti kata Panji sebagai berikut, Pan = mapan, ji = Siji, artinya mumpuni dalam menghayati Yang Satu (Allah swt) dan bertaqwa kepadanya, berhati suci seperti seorang bayi yang baru dilahirkan, mampu berpikir dan melakukan pilihan yang terbaik. b. Tari Samba Tari Samba menggambarkan birahi, karena telah memiliki sesuatu yang diinginkannya. Kepada orang lain selalu ingin mempertunjukan apa yang telah dimilikinya, bahwa hal itu menjadi sebagian kepentingan orang lain. Samba dari kata Sam = Sambungan, Ba = Kang baguse, artinya selalu berusaha untuk berbuat kebaikan.


Terimakasih