Tampilkan postingan dengan label latar beakang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label latar beakang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2020

Mari mengenal sosok Maestro hebat dibalik lestarinya Tari Topeng Cirebon

Hallo sahabat literasi... Kembali lagi sama aku hehe.  Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Ternyata dibalik lestari nya tari topeng, ada pencipta-pencipta hebat dibalik nya lohh. Atau masyarakat biasa menyebutnya "Maestro". Nahh betul bangett, kali ini aku mau mengajak sahabat literasi untuk lebih mengenal dengan salah satu Maestro hebat Cirebon nihh. Penasaran bagaimanakah sosok di balik nya?? langsung aja yukk scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

8. BELAJAR DARI MAESTRO TARI TOPENG CIREBON



     Setiap kali ada seseorang yang hingga akhir hayatnya tetap kukuh memilih dunianya menjadi bagian dari "ritus kehidupan", setiap kali ada seseorang yang selama hayatnya meletakkan hampir seluruh kreativitasnya menjadi representasi dari segenap "totalitas kehidupan", setiap kali pula seseorang itu, tanpa pamrih, dengan tulus mengajarkan serta merelakan dirinya hanya untuk kesenian dan berdiri sebagai seniman yang dengan karya-karyanya sebuah bangsa, di antara sekian karya yang lain, ditahbiskan berbudaya dan memiliki spirit peradaban. Adakah kita bisa meletakkan kembali penghormatan dengan secercah ketulusan yang sama?Saya kira, kita --siapa pun kita pada konteks maknanya yang diperluas dalam posisi sebagai pejabat negara, politisi, pengusaha atau apa pun--kesulitan untuk menjawab esensi pertanyaan tadi dengan baik. Bahkan ada berbagai pertanyaan serupa yang sama sekali kita tidak bisa memberi jawaban tepat. Seperti halnya pertanyaan berikut, apakah peran seniman memang senantiasa berada di luar hiruk-pikuk kebijakan negara? Apakah karya-karya seni tidak menjadi bagian signifikan dalam subsistem wacana kebudayaan suatu pemerintahan? Seniman, terlebih pada mereka yang memilih genre seni tradisi lengkap dengan membawa khazanah lokal yang menjadi bagian substantif di dalamnya,  tampak mengalami dilema di sana-sini dalam menghadapi perubahan zaman. Sejumlah seni tradisi yang merupakan "ikon" dan "akar"  dalam konstruk budaya tradisional masyarakat, kita tahu, berada pada posisi marginal dan feriferal. Dan, ironisnya, justru seni-seni tradisi yang semula menjadi simbol dalam penyeimbang (equilibrium) seni-seni yang dinilaisebagai sentral (adiluhung).

Kematian yang Sunyi
     Sujana Arja, atau akrab dipanggil Mang Jana, adalah maestro penaritopeng yang Senin (10/4/2006) baru saja wafat dengan usia di atas 70 tahun. Suatu kematian yang sunyi yang menyisakan jejak panjang silsilah dari salahsatu dinamika, stilistika, maupun estetika tari topeng Cirebon: bagaimana taritopeng "gaya Slangit" membentuk dirinya dan mempertahankan eksistensinya sekaligus. Bahkan dengan keteguhan seperti itu, ia tidak peduli apakahnegaranya memberi perhatian terhadap salah satu warisan seni tradisi bangsanya atau tidak; apakah pemerintah daerahnya memahami atau tidak, bagaimana seharusnya menyusun grand strategy apa yang diklaim para birokrat sebagai "pelestarian" seni tradisi. 
     Sujana dengan kehidupan yang sangat sederhana mampu bertahan untuk tidak bergeser sedikit pun dari pengabdian hampir seluruh gerak dirinya pada khazanah seni tradisi tari topeng yang diwariskan keluarga besar maestro penari topeng Arja. Sejak 1973, Sujana berlatih, mengajarkan lima wanda taritopeng dan menempati sanggar tari Panji Asmara yang berada di pengujung utara desa Slangit yang kiri-kanannya masih berupa semak perdu, rumpun bambu, jalan setapak, dan hamparan sawah. Kecuali menari, ia tidak pernah memilih profesi selainnya, apalagi sekadar untuk menyelesaikan yang primer dan sekunder dalam kehidupannya selama ini. Sujana telah melanjutkan proses regenerasi dan genealogi dari cikal- bakal tari topeng Cirebon. Bersama dengan beberapa tokoh tari topeng segenerasinya seperti, Sawitri (gaya Losari), Tarwi (Kreo), Sudji dan Dasih(gaya Palimanan) mengukuhkan tari topeng Cirebon dengan gaya masing-masing. Sehingga meninggalnya almarhum Sujana, menandai berakhirnya generasi kedua tari topeng Cirebon yang kini, mau tidak mau, diteruskan anak-cucu mereka. Tradisi tari topeng seperti seni-seni tradisi lain, mungkin agak mirip dengan perguruan shaolin yang memiliki keniscayaan untuk melahirkan sejenis "pendekar" sebagai generasi penerus yang eksploratif, andal, kukuh, teguh dalam menerima seluruh estafet dari dalam pepakem seni tradisi tersebut. Setidaknya, jika generasi tari topeng Slangit pasca-Sujana tidak segera menata berbagai instrumen dalam perjalanannya ke depan akan menghadapi tantangan budaya global yang mereduksi pandangan publiknya sedemian rupa. Dikhawatirkan tari topeng Cirebon yang tumbuh dengan latar serta beragama gaya yang bertolak dari eksplorasi maupun improvisasi tokohnya akan kehilangan generasi (lost generation). Sehingga beberapa gaya tari topeng Cirebon yang pernah tumbuh pada beberapa daerah dengan beragam gaya,sebut saja Kalianyar, Gegesik, Palimanan, Babakan, Kreo, dan Gujeg, tampak "ditinggalkan" generasi penerusnya. Tari topeng "gaya Slangit" --diambil dari muasal nama desa tempat proses kreatif keluarga besar maestro tari topeng Arja (ayahanda dan pendahulu Sujana) sebagai Generasi Pertama-- menjadi tonggak penting bagisembilan anak-anaknya; Sutija, Suwarti, Suparta, Sujaya, Sujana, Rohmani, Roisi, Durman, dan Keni, yang semuanya berhasil menjadi penari topeng. Meski dari ke sembilan anaknya, Sujana yang kelak tampil dan dikenal publik luas sebagai seorang maestro. Sujana memulai proses kreatifnya untuk menjadi maestro sejak berusia 10 tahun yang mengikuti
bebarang (ngamen) bersama ayahnya. Kemudian atas prakarsa Pangeran Patih Ardja dari Kesultanan Kanoman, sekitar tahun 1940-an, keduanya tampil dalam berbagai perhelatan ritual tradisi dilingkungan keraton. Pada usia 17, Sujana dilepaskan secara mandiri untuk menerima tanggapan (order hajatan) dan melakukan bebarang hingga ke luar daerah (Indramayu, Majalengka Sumedang, Bandung, Garut, Cianjur, Banten)sebagai bagian dari proses manunggaling lelaku (menyatukan jiwa-ragadengan filosofi tari topeng dalam konteks kehidupan) --yang tidak dapat ditempuh melalui intellectual exercises dari wilayah dan norma-norma akademis. Karena itu, kita yang pernah menyaksikan pementasan Sujana, Sawitri, Sudji, Dasih atau Mimi Rasinah maestro penari topeng dari Pekandangan Indramayu tampak kekuatan tarian yang melampaui fase-fase "batasnalar" dari kelincahan gerak penari yang memasuki usia uzur. 
     Energitas dan kreativitas menyatu dengan spiritualitas ruh penciptaan. Begitu juga totalitasdan sinergitas menemukan ruang batin: di mana ekstase menyusun makna nya yang transenden dan tidak lagi samar-samar tersembunyi. Hampir para maestro yang membuka ruang batinnya untuk selalu berada pada kosmos pergulatan kreatif akan memperlihatkan puncak dimensi penciptaan ruhani yang dahsyat dan menakjubkan. Dan, Mang Jana dalam sebuah percakapan kecil dengan penulis, menolak persepsi yang semata mengacu pada asumsi akademis yang menilai pencapaian transenden dapat dimanipulasi melalui pemahaman sains, tanpa memasuki proses logosentrisme yang menjadikan seniman berada dalam fase pemahaman empirik-kognitif (ngangsu kaweruh). Dalam perspektif inilah, Sujana hendak menegaskan bahwa proseskreatif yang hanya kukuh sebatas asumsi-asumsi akademis, berakhir dalam pemahaman formalnya sendiri: tari topeng akan lebih tampak sebagai pola- pola gerakan ritmis yang penuh citraan (images) gerak tubuh dalam filosofi makna dan tata aturan bunyi gamelan. Namun kehilangan ruh pencitraannya sendiri, yang menyebabkan gerakan-gerakan tarian tampak ringan dan mekanik. Melalui proses panjang
manunggaling lelaku dan ngangsu kaweruh, seorang penari topeng akan menemukan titik pencitraan berbagai dimensi penciptaan yang bersenyawa dengan totalitas jiwa-raga. 

Pribadi yang Tulus
     Dalam kurun waktu cukup panjang dan berliku, Sujana Arja, empu taritopeng Slangit itu, telah menyiratkan dirinya menjadi pribadi yang tulus. Ia bukan saja berdiri sebagai seorang maestro, melainkan juga guru untuk  banyak muridnya (dalam dan luar negeri) yang sungguh-sungguh telah mengabdikan serta mengabadikan kehidupannya pada seni tradisi. Meski, ia tahu, dengan sikap penuh-seluruh, terlebih lagi ia sadari tanpa jaminan hari tua dimanapun termasuk pemerintan seorang seniman justru akan terus berada dalam suasana "mencipta".


Gimana nih sahabat literasi? Hebat bukan? Nah kesimpulan dari artikel di atas, kita sebagai generasi penerus bangsa, apalagi pribumi kota udang sendiri, ayoo lanjutkan dan lestarikan tradisi seni tari topeng yang telah diwariskan para nenek moyang kita. Dengan niat dan semangat berlatih, kita semua pasti bisa mengenalkan dan membawa tradisi seni tari topeng ini hingga kanca internasional. Terus belajar ya!! 
Untuk pemaparan kali ini, sekian dulu yaa. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan sahabat literasi dimanapun berada. Oh iya, mohon maaf jikalau ada padanan kata yang kurang tepat karena masih proses belajar hehe.. Saran dan komentar nya ditunggu yaa. Terimakasih dan sampai jumpa di halaman aku selanjutnya.
Jangan lupa senyum hari ini:)


Selasa, 17 Desember 2019

SEJARAH TARI TOPENG KLANA



Assalamualaikum wr.wb
Hallo teman-teman! Kali ini kita bakal bahas tentang apasih tari topeng kelana itu? Berhubung di SANGGAR PURBASARI ini lebih sering menampilkan tari topeng kelana. Yuk kita baca...

Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Cirebon, termasuk Indramayu, Losari, Jatibarang, dan Brebes. Tarian ini salah satu tarian di tatar Parahyangan. Di Cirebon, tari topeng ini banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan ataupun cerita yang ingin disampaikan oleh para penari. Terkadang tari topeng akan dimainkan oleh satu penari dengan tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa penari.

Salah satu dari jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon  yang paling sering dimainkan adalah Tari Topeng Klana. Tari topeng klana ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu seperti Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan secara bersama-sama atau digabungkan dan biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.

Tari Topeng Klana ini merupakan salah satu gerakan tari yang menceritakan sang Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan dari sang Ratu Kencana Wungu, sampai kemudian sang prabu minakjingga (klana) mulai berusaha mendapatkan sang pujaan hatinya Sang Ratu Kencana Wungu. Akan tetapi upaya untuk pengejarannya tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya. Sang Prabu minakjingga ( klana ) ini pun sangat marah dan kecewa. Kemudian kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikannya dan dibendung memutuskan untuk membeberkan segala tabiat buruk dari Sang Ratu Kencana Wungu.

Pada dasarnya tari topeng klana ini bentuk serta warna topeng akan mewakili sebuah karakter atau watak dari tokoh yang dimainkannya. Klana, dengan topeng dan busana yang didominasi oleh warna merah mewakili karakter yang sangat tempramental. Pada tarian ini, Klana yang merupakan orang yang memiliki watak serakah, penuh amarah, serta tidak dapat menjaga hawa nafsu yang dimilikinya akan divisualisasikan ke dalam gerakan - gerakan tubuh seperti langkah kaki yang panjang-panjang dan juga menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka dengan jari-jari yang selalu mengepal.

Sebagian dari gerak tari klana ini menggambarkan seseorang yang sangat gagah, mudah marah, seseorang yang mabuk, atau seseorang yang tertawa terbahak-bahak. Tarian ini dapat pula dipadukan dengan irama Gonjing yang kemudian dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya yang terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) serta bagian ngedok (tari yang memakai topeng).
Beberapa dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang. Bagian kedua, adalah Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.


Sejarah Tari Topeng Kelana
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana ini. Yang pasti, tari topeng klana ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam sejarah Kerajaan Singasari yang terdapat pada Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk yang sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.

Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dapat dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan saja. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada para perempuan dalam lingkungan sekitar kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai sarana hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika para penari belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh seorang laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, tari topeng klana pun juga mengalami perkembangan dari zaman ke zamannya, kini perempuan juga diperbolehkan mempelajari tari topeng klana dan  banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari topeng klana ini cenderung lebih energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan tubuh untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran dari seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.

Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana ini merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana, para raja di Pulau Jawa sebelum kemudian mulai berkembang di daerah Cirebon.

Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari topeng klana ini sebagai sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton masyarakat sekitar.

Tari topeng Klana sering pula disebut dengan topeng Rowana. Sebutan itu mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh wayang Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji. Di Cirebon, topeng Klana dan Rowana kadang-kadang diartikan sebagai tarian yang sama, namun bagi beberapa dalang topeng, misalnya Sujana dan Keni dari Slangit; Sutini dari Kalianyar dan Tumus dari Kreo; membedakan kedua tarian tersebut, hanya kedoknya saja yang sama. Jika kedok Klana yang ditarikan itu memakai kostum irah-irahan atau makuta Rahwana di bagian kepalanya dan di bagian punggungnya memakai badong atau praba, maka itulah yang disebut topeng Rowana. Kostumnya jauh berbeda dengan topeng Klana dan kelihatan sangat mirip dengan kostum tokoh Rahwana dalam wayang wong.

Dalam pertunjukan topeng hajatan, yakni setelah tari topeng tersebut selesai, penari biasanya melakukan nyarayuda atau ngarayuda, yakni meminta uang kepada para penonton, tamu undangan, pemangku dan panitia hajat, para pedagang, dan lain-lain. Ia berkeliling seraya mengasong-asongkan kedok yang dipegang terbalik–bagian dalamnya terbuka dan bagian wajahnya menghadap ke bawah–dan kedok berubah fungsi menjadi wadah uang. Mereka memberikan uang seikhlasnya tanpa merasa ada suatu paksaan. Setelah merasa cukup, penari kembali ke panggung dan sebagai rasa terima kasih, ia kembali mempersembahkan beberapa gerakan tari topeng Klana, sebagai tarian ekstra.

Nyarayuda atau ngarayuda adalah sebuah pesan moral atau simbol yang mengingatkan kita tentang bagaimana sebaiknya beretika di masyarakat. Klana adalah seorang raja yang kaya raya, yang tak kurang suatu apapun, namun ia masih merasa kekurangan, merasa segalanya belum cukup, sehingga ia tetap berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya harta tanpa memperdulikan apakah itu hak atau batil. Itulah sebenarnya pesan yang ingin disampaikan nyarayuda, yang artinya bukan semata-mata mengemis. Hidup, sebaiknya lebih banyak memberi daripada lebih banyak meminta. Itulah pesan yang ingin disampaikan pada tari topeng klana ini.

Terimakasih sudah membaca! Wassalamualaikum wr.wb

Minggu, 15 Desember 2019

PROSES PEMBUATAN TOPENG



Assalamuaalaikum wr.wb
Hallo teman – teman balik lagi nih sama kita jangan bosen – bosen yah! Kali ini kita bakal bikin artikel tentang proses pembuatan topeng itu sendiri yuk kita baca...

Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang  sangat tepat,  serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya loh.  Bahkan ada juga seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga memakan waktu sampai  satu hari, menurut keterangan dari Ki Kandeg (ahli pembuat topeng Cirebon) pada masa lalu kayu yang biasa digunakan untuk pembuatan topeng adalah kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga dan kayu Lame. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok ( bahasa Indonesia : topeng ) diantaranya adalah kesenian tari Topeng khas Cirebon. Topeng Cirebon ini dibuat oleh seorang ahli kedok yang cukup mumpuni, biasanya keahlian para ahli kedok berkembang seiring dengan perkembangan kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok tersebut dimana keahliannya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu ahli pembuat kedok atau topeng yang terkenal diantaranya adalah Ki Waryo putera dari maestro kesenian Cirebon Ki Empek.

Filosofi topeng Cirebon

Topeng dalam filosofi kebudayaan Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok atau topeng  dalam artian penutup wajah, namun topeng juga dipandang sebagai hiasan yang dipasang menempel pada bagian depan sorban atau biasa disebut juga sebagai penutup kepala,  hal tersebut terbukti dengan adanya ungkapan di masyarakat Cirebon yang berbunyi ketop-ketop gopeng yang memiliki arti hiasan pada bagian depan sorban yang dibenarkan oleh mimi Wangi Indriya (maestro tari Topeng Cirebon gaya Tambi).

Sejarah topeng Cirebon

Pada masa awal munculnya kesenian topeng khas Cirebon terutama pada masa kesultanan Cirebon kesenian yang berkaitan dengan topeng atau kedok merupakan kesenian yang bernafaskan Islam karena digunakan sebagai sarana dakwah dalam penyiaran agama Islam.
Topeng pada masa kesultanan Cirebon
Pada masa kekuasaan Sunan Gunung Jati di kesultanan Cirebon kesenian topeng dikaitkan dengan sarana dakwah Islam,  Sunan Gunung Jati melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif dengan masyarakat daerah sekitar  salah satunya adalah dengan kesenian Topeng Cirebon.
Pada masa yang sama atau pada tahun yang sama, Sunan Kalijaga juga membantu penyebaran dakwah Islam dengan menggunakan kesenian tari  topeng Cirebon,  menurut para ahli budayawan Cirebon Toto Suanda, Sunan Kalijaga mengajarkan kepada murid-muridnya yaitu Pangeran Bagusan, Ki buyut Trusmi dari desa Trusmi, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon dan Pangeran Losari tentang kesenian topeng Cirebon, dari merekalah kemudian kesenian tari topeng Cirebon menyebar ke berbagai wilayah seperti wilayah Indramayu, Majalengka dan wilayah-wilayah lainnya yang kemudian berkembang menjadi pelengkap penampilan dari gaya-gaya tari Topeng Cirebon.

Cara Pembuatan topeng khas Cirebon



Langkah-langkah pembuatan topeng Cirebon adalah sebagai berikut:

1. Kayu gelondongan atau kayu yang masih utuh dan sudah dipotong – potong dibentuk menjadi bentuk segitiga  dan dihaluskan permukaannya
2. Mulai dipahat sedikit demi sedikit terutama untuk peletakan bagian - bagian wajah seperti mata, pipi, dan bibir. Jangan lupa  bagian hidung harus lebih timbul dari bagian lainnya.
3. Setiap permukaan wajah mulai dibentuk dengan menggunakan alat ukir seperti pahat
4. Setelah bentuk mulai  cukup rapih, kemudian seluruh permukaan wajah diolesi oleh cat dasar,  kemudian diamplas.
5. Diamkan cat hingga cat mulai mengering, jika cat  mulai kering,  langkah selanjutnya adalah mulailah bentuk wajah topeng itu  dan didandani dengan menggunakan cat warna.  Tentu saja disesuaikan dengan jenis topeng yang ingin dibuatnya.

Semua jenis topeng yang di buat ini akan dikenakan pada saat pementasan tari topeng khas daerah Cirebonan yang diiringi dengan alat musik  gamelan.

Jenis –jenis Topeng Cirebon yang paling pokok atau paling utama ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda yaitu sbb:

1. Topeng Panji
Topeng Panji yang berwarna putih bersih ini melambangkan kesucian bayi yang baru lahir.
2. Topeng Samba (Pamindo)
Topeng Samba ini  menggambarkan topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah
3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang ini wajahnya menggambarkan seorang remaja
4. Topeng  Tumenggung atau Patih
Topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab
5. Topeng Kelana ( Rahwana )
 Topeng Kelana ini topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah
Menurut Hasan Nawi, salah seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.

Selain lima topeng yang ada biasa ditampilkan, menurut Ki Waryo (seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan ) pada masa lalu didalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu yang dibuktikan dengan keberadaan topeng ini yang tersimpan pada dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan.

Proses pembuatan topeng Kencana Wungu:
Proses Awal pembuatan topeng Kencana Wungu oleh Ki Waryo ( seorang ahli pembuat topeng sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan ) dengan bahan baku dari kayu Jaran.

Pewarisan keahlian
Pewarisan keahlian dari pembuatan topeng khas Cirebon ini biasanya dilakukan secara turun temurun dari generasi tua ke generasi muda yang sudah berjalan selama ratusan tahun dan ada pula proses pewarisan keahlian yang dilakukan dengan cara bertahap seperti  pembelajaran dari guru kepada muridnya.

Tukang kedok

Ki Sujana Priya salah satu seorang seniman dari beberapa tukang kedok (bahasa Indonesia : ahli pembuat topeng) di Cirebon, beliau mengatakan jika  keterampilan membuat kedok beliau pelajari dari Ki Kandeg sekaligus sebagai seorang pelaku Wayang Wong gaya khas daerah Cirebon.
Ki Waryo, putera dari Ki Empek ( atau yang biasa disebut maestro kesenian daerah Cirebon ). Ki Waryo mewarisi bakat dari keluarganya sebagai seorang seniman multitalent kesenian di Cirebon,  salah satu dari keahlian Ki Waryo adalah membuat kedok khas daerah Cirebon.

Tentunya membuat sebuah karya seni seperti topeng butuh keahlian dan ketelitian yang sangat dibutuhkan dalam proses pembuatannya. Jadi teamn – teman tidak sembarang orang yang dapat melakukan pembuatan topeng ini yah.. perlu keahlian khusus.

Bagaimana nih ... informasi dari artikel yang kita sajikan ini? Cukup menarik bukan ... sekian dulu yang dapat kita informasikan mengenai topeng khas daerah cirebon ini yah... mohon maaf jika ada salah- salah dalam penulisan atau hal – hal yang tidak sesuai. Terimakasih telah membaca! :)

Wassalamualaikum Wr.Wb

FILOSOFI TOPENG DI CIREBON


               FILOSOFI TOPENG DI CIREBON

Assalamualaikum wr.wb teman-teman! Balik lagi nih sama blog kita, Kali ini kita bakal ngebahas tentang aneka ragam jenis Topeng pada Tari Tradisional tari topeng ini. Selamat membaca!..

Kesenian Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu warisan budaya dan sejara di Kawasan atau daerah sekitaran pintura. Di Cirebon tari topeng memiliki dua varian, yaitu Topeng Babakan Lima Wanda dan Topeng Lakon. Lazimnya berbagai daerah di Nusantara, Cirebon juga memiliki tarian tradisional yakni tari topeng yang memiliki berbagai jenis dengan keunikannya dan makna yang terkandung di dalmanyya pada setiap masing-masing tarian.
Topeng sendiri sebenarnya memiliki makna atau simbol dari perjalanan hidup manusia jadi jenis-jenisnya itu maknanya sbegai perjalanan hidup
Berikut ini ragam jenis Topeng pada Tari Topeng Cirebon yang kini mulai langka loh…
1. Topeng Panji
Topeng Panji ( Mapan Ingkan Siji ) atau yang berarti  senantiasa bergantung pada sang pencipta hingga kematian seseorang itu tiba ) .
Tarian ini melambangkan kesucian anak yang baru lahir, putih, bersih, tabularasa ibarat bayi yang baru lahir. Warna pada topeng panji ini adalah putih polos serta hanya terdapat mata, hidung, mulut tanpa guratana lainnya hingga pakaian juga berwarna serba putih, seperti kata pepatah yang mengatakan jika semua orang atau manusia terlahir bagai selembar kertas putih, bersih tanpa noda sekecil apapun.  Gerakan pada tari topeng ini sangatlah hemat, sederhana dan tenang meskipun tarian tari topeng panji ini diiringi denagn suara alat musik yang penuh dengan dinamika. Tari topeng panji ini juga memiliki makna juga loh yaitu tarian yang menunjukan manusia yang sangat suci dan tidak mudah dapat tersentuh oleh hiruk pikuk masalah duniawi yang mengarah pada hal-hal yang negative atau mengarah kepada hal yang buruk. Tari topeng panji ini terkadang sedikit membosankan karena waktunya yang sangat lama dan gerakannya yang tidak banyak dan sangat sederhana hanya Gerakan “ adeg-adeg ”  tapi... jangan salah loh, tari topeng Panji ini justru memiliki makna yang sangat dalam jika kita mampu memahaminya.
2. Topeng Samba
Topeng Samba ( Saban Dina ) atau yang memiliki arti menyembah atau ibadah setiap hari. Untuk jenis topeng samba ini, kehidupan masyarakat Cirebon ini digambarkan memasuki fase biologis anak-anak yaitu kelincahan. Ini terlihat dari tarian pada Topeng samba yang menunjukan tanda-tanda dari keceriaan dan selalu hidup berbahagia. Tari topeng samba ini menarikan dengan gaya yang sangat centil, lucu, genit, lincah dalam mengikuti irama musiknya dan sangat kekanak-kanakan yang menunjukan kesegaran ekspresi dari topeng samba itu sendiri, Tapi masih sangat ragu dan kurang luwes. Topeng Samba ini berwarna kuning gading agak putih bersih tetapi ada sedikit aksen atau hiasan di wajah atas seperti gambar rambut. Untuk kostum topeng samba ini berwarna hijau daun.
3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang ( Arum Ingkang Hyang lan Ramyang – Ramyang ) atau yang berarti sifat labil dari seseorang yang menginjak pada fase remaja dan sedang mencari jati dirinya yang sesuai tuntunan dari Tuhan dan Agama yang dianutnya.
Tari topeng tradisional yang menggunakan topeng rumyang ini menggambarkan atau simbol dari masyarakat Cirebon yang memasuki pada fase remaja atau akhil baligh yang mulai mencari jati dirinya sendiri. Topeng rumyang ini juga berwarna merah jambu yang sangat manis sebagai simbol dari keremajaan masyarakat Cirebon. Dari gerakan tari topeng rumyang ini mulai menunjukan ketegasan dan terstruktur dengan baik tetapi masih ‘ labil’ terlihat dari gerakannya yang berulang-ulang. Tari topeng ini memiliki ukiran yang sangat sederhana, dengan warna dasar pink atau merah muda.
4. Topeng Tumenggung

 Topeng Tumeggung ( Ratu Hyang Agung ) atau yang memiliki arti prinsip hidup untuk memilih dan     memilah mana yang benar atau yang salah, pemimpin yang adil dan sangat bijaksana.
Tarian topeng Tumenggung ini menggambarkan manusia yang sudah memasuki masa dewasa dan sudah menemukan jati diri yang sebenarnya. Diantara Lima Wanda babakan topeng Cirebon, topeng tumenggung merupakan satu-satunya topeng yang menggunakan atribut topi. Topeng tumenggung ini menggambarkan masyarakat Cirebon yang sudah memasuki fase dewasa dan mapan yang memiliki gerak tenang, mantap, tegas, berkepribadian, bertanggung jawab, memiliki jiwa korsa yang paripurna dan sangat dewasa. Pada struktur gerak, topeng tumenggung ini seperti bagian dari tayubdan sangat jauh berbeda dengan topeng yang lainnya, topeng yang digunakan memiliki kumis serta guratan – guratan yang berwibawa dan berwarna merah kecoklatan. Untuk kostum tari topeng tumenggung ini biasanya penari menggunakan warna baju hitam. Bila dilihat di dalam struktur kerajaan tumenggung memiliki arti sebagai patih atau panglima perang kerajaan.
5. Topeng Kelana
Topeng Kelana ( Kala Ing Kana) yang memiliki arti prinsip hidup untuk berbagi selagi kita ada.
Topeng kelana ini menggambarkan perwatakan dari  seorang raja yang memiliki hawa nafsu dan nafsu tersebut harus dikendalikan atau diarahkan pada kebaikan dan tidak membuat kerusakan. Pada fase terakhir jenis-jenis topeng ini adalah topeng kelana. Sebagian besar orang memaknai topeng kelana ini sebagai simbol kerakusan manusia dan angkara murka. Topeng kenala ini menjadi daya Tarik tersendiri untuk para seniman, budayawan dan para pengamat seni topeng. Bentuk dari topeng kelana ini adalah yang paling rumit juga banyak ikatannya diatas topen. Topeng kelana  berwarna serba merah dengan kumis tebal dan tatapan mata yang sangat tebal serta sangat gagah dan kostum penarinya biasanya menggenakan kostum berawarna merah pekat. Pada gerakannya sendiri tari topeng kelana ini lebih mengutamakan kepada mengaktualisasikan diri, agresif, enerjik dan ekspresif yang merupakan akumulasi dari semua gerakan tari topeng sebelumnya,  namun Gerakan pada tari topeng kelana ini sejatinya menggambarkan sebagai manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu atau amarah. Bahkan ada sebuah pendapat yang mengatakan bahawa jenis topeng yang ada di tari tradisional khas Cirebon ini menjelaskan simbol sedulur papat lima pancer atau empat nafsu dalam diri manusia. Nah teman-teman, pada topeng kelana ini menjelaskan simbol dari tingkatan orang yang paripurna tapi bukan dalam konteks angkara murka, melainkan orang yang sudah sampai pada tingkat aktualisasi diri atau ekspresif.

Sekian dulu informasinya yah teman – teman semuanya ! sampai jumpa di artikel kami yang selanjutnya, mohon maaf jika ada penulisan kata atau hal – hal yang kurang berkenan lainnya  terima kasih sudah membaca artikel kami teman-teman. Sekian, Terimakasih

Wassalamualaikum wr.wb

TUJUAN MENDIRIKAN SANGGAR PURBASARI

  TUJUAN MENDIRIKAN SANGGAR PURBASARI


Assalamualaikum wr.wb hallo teman-teman!, balik lagi nih sama kita… kali ini kita bakal bahas apasih tujuan utama pemilik SANGGAR PURBASARI ini mendirikan sanggar ini dengan banyaknya pilihan di zaman sekarang ini? Yuk… langsung aja kita baca ulasannya yah... selamat membaca…

Jadi… setelah Alm. Drs. H.  Abdul Adjib ini wafat pada tahun 1986 yang kemudian meneruskan atau mewariskan padepokan abdul adjib ini kepada anak-anaknya. Setelah beberapa tahun sempat berhenti dalam mengembangkan Padepokan Abdul Adjib ini karena kesibukan masing-masing mulailah pada tahun 2000 an salah satu anaknya yang bernama Ibu Baedah mendirikan sanggar bersama dengan  suaminya, kemudian mereka memberikan nama SANGGAR PURBASARI yang berada  dibawah naungan Sanggar Abdul Adjib. Sekitar bulan Mei tahun 2005 Ibu Baedah ini mulai aktif mengajar tari topeng.
Hasil ulasaan wawancara kita terhadap Beliau yang mengatakan bahwa tujuan utama beliau mendirikan sanggar adalah untuk melestarikan tari topeng daerah Gegesik dikarenakan jika tari topeng Gegesik ini masih belum berkembang, ruang lingkup penyebarannya hanya sebatas daerah Gegesik saja. Jadi Beliau mengungkapkan jika Beliau ingin menyebarkan atau mengembangkan tari topeng Gegesik ini ke berbagai macam daerah bahkan hingga ke mancan negara, dan juga karena kecintaannya terhadap seni khususnya seni tari beliau memutuskan utnuk mendirikan sanggar saja untuk menyalurkan minat, bakat serta hobinya juga untuk melestarikan budaya kita sendiri yaitu budaya Tari Topeng  Cirebon.
Beliau juga megungkapkan bahwa alasan Beliau  memilih nama SANGGAR PURBASARI ini dikarenakan nama sanggar ini diambil dari nama Ayahnya Purba. Dalam sanggar purbasari ini juga tidak hanya menyediakn tari topeng khas Gegesik saja loh… tapi juga di dalam sanggar ini juga menyediakan berbagaia macam kesenian yang diantaranya adalah kesenian Tari Kreasi Kanoman, Kesenian Tari Topeng, kesenian Tari Cendrawasih dan Kesenian Tari Kreasi yang diciptakan oleh belaiau sendiri.
Di dalam sanggar purbasari ini Beliau juga menyediakan jasa penyewaan kostum dan atribut-atribut menari seperti topeng, kipas, selendang dll untuk acara-acara tertentu. Penerimaan jasa penyewaan kostum ini dibandrol dengan harga Rp. 70.000 atau sebesar tujuh puluh ribu rupiah perkostumnya.
Sanggar Purbasari ini sudah menuai banyak sekali prestasi yang tidak bisa dihitung jumlahnya dikarenakan beliau sudah memilliki jam terbang yang sangat tinggi, salah satu prestasinya adalah di Bali, Kediri dan Negara Taiwan. Sanggar Purbasari ini juga tampil diacara-acara tertentu karena kepiawaian dan keindahan tari tradisional anak-anak hasil didikannya  seperti acara Pemda, festival, sedekah bumi, Nadranan dan grand opening atau launching  dll. Ibu Baedah ini sebagai pemilik Sanggar Purbasari ini juga mengajar di tempat-tempat tertentu dan sekolah-sekolah menengah seperti di Pabrik Indocement – Gempol - Palimanan dan sekolah menengah di SMPN 1 Arjawinangun dan SMPN 1 Ciwaringin. Pemilik sanggar purbasari ini juga menerima jasa les privat di kediamannya, terkadang banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk les privat tari tradisional ini kepada beliau, sasaran umurnya sangat beragam mulai dari anak kecil, remaja, dewasa hingga sampai yang lanjut usia pun berminata untuk les privat tari tardisional ini kepada beliau. Biaya les privat di sanggar purbasari ini tidak akan menguras kantong loh… biayanya sangat terjangkau yaitu berkisar 1 tarian = Rp. 1.000000 atau sebesar satu juta rupiah dengan 10 kali pertemuan Insyaallah sudah lancar, dan untuk jadwal latihannyayang mengikuti les privat  sendiri bisa diatur sesuai dengan keinginan sendiri loh... Dan untuk yang tidak mengikuti les privat ini biayanya tentu saja lebih terjangkau yaitu berkisar Rp. 50.000  ribu atau sebesar lima puluh ribu rupiah  perminggunya, jik auntuk umum jadwal latihannya biasanya sekitar satu minggu sekali saja Wah.. ternyata sanggar purbasari ini sudah banyak mendapatkan kepercayaan yah dari masyarakat sekitar tentang kredibilitasnya dalam mengajar tari tradisional ini.
Pada tari topeng khas Cirebon atau Gegesik ini memiliki keuinikan yang khas dan lebih spesifik yang telah diakui oleh adat , gaya-gaya ini berasal dari desa-desa asli tempat di mana tari Topeng Cirebon ini lahir dan juga dari desa-desa lainnya yang menciptakan gaya baru yang secara adat telah di akui lepas dari gaya lainnya yaitu pada Gerakan tangan dan tubuh yang lemah gemulai, sementara iringan nada atau musiknya didominasi oleh alat music gendang, dan alat musik rebab. Keunikan lainnya juga terdapat pada perbedaan gaya tari topeng Cirebon antar daerah dikarenakan adanya penyesuaian selera penontin dengan nilai estetika gerak tarian di atas panggung, keunikan lainnya juga terdapat pada   proses pewarisan keahlian menarika tari topeng Cirebon ini dari generasi tua ke generasi yang lebih muda.
Kita punya sedikit motivasi nih yang diutarakan langsung oleh pemilik sanggar purbasari ini yaitu: “ Alangkah baiknya kita semua sebagai penduduk pribumi asli untuk lebih peduli dan lebih mencintai kebudayaan kita sendiri dengan cara melestarikan, mencintai dan gemar berlatih” bener banget kan teman-teman apa yang diutarakan oleh pemilik sanggar purbasari ini jika kita harus mencintai kebudayaan kita sendiri terlepas dari apapun perkembangan zamannya jangan sekali-kali kita melupakan sejarah seperti yang pernah Presiden pertama kita ucapkan yaitu Ir. Soekarno yaitu “ JAS MERAH” atau yang artinya jangan sekali-kali kita melupakan sejarah” tentunya kita sanagt tidak ingin kan jika kebudayaan kita, tari tradisional daerah kita sendiri hilang tertelan perkembangan zamannya yang semakin maju. Jadi ayolah … teman-teman semuanya mari kita  berbondong- bondong untuk terus melestarikan kebudayaan kita sendiri dengan cara berlatih, mencintai dan melestarikan.
Sekian dulu yah.. informasi yang dapat kami sampaikan, sampai jumpa di artikel kami selanjutnya! :)
Waalaikum salam wr.wb