Tampilkan postingan dengan label filosofi topeng macam-macam padepokan abdul adjib Profil sanggar purbasari sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filosofi topeng macam-macam padepokan abdul adjib Profil sanggar purbasari sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2020

TARI TOPENG CIREBON BERTAHAN DARI KEPUNAHAN

Hallo sahabat literasi... Selamat datang di halaman aku. Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Hal penting menyangkut sejarah tari topeng Cirebon. Point penting nya, ternyata tari topeng Cirebon telah bertahan dari masa kepunahan loh. Hebat bukan? Dan kira-kira apa ya upaya yang menjadi daya tahan tari topeng menghadapi kepunahan nya itu? Penasaran kan?? langsung aja yukk scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

 10. TARI TOPENG CIREBON BERTAHAN DARI KEPUNAHAN




     Tradisi yang ada pada tari topeng sudah tidak sama dengan waktu ketika Pak Sujan menari dulu. Selain banyak orang yang hanya asal bisa menarikan dan tuntutan masyarakat agar tari topeng diubah atau dimodifikasi, ternyata ada banyak tata cara dan tradisi yang harus dihilangkan mengikuti arahan pemerintah. Ada tiga hal yang harus diubah oleh Sujana beserta kelompok tarinya, yaitu ketentuan tidak boleh ngamen dari rumah ke rumah atau lazim dikenal dengan istilah bebarang, tidak boleh pakai kaus kaki ketika menari, dan harus mengganti baju berwarna hitam dengan baju yang lebih meriah. Menyebarkan agama.

     Pada awalnya, tari topeng digunakan untuk menyebarkan agamadengan datang ke rumah seseorang dengan mengharapkan pemilik rumah bisa membawakan doa syahadat. Namun dalam perkembangannya, pembacaan syahadat memang tidak dikembangkan lagi, tapi diganti dengan bebarang ketika musim panen padi tiba. Bila musim panen tiba,Sujana dan kelompok tarinya datang dari rumah ke rumah untuk mengamen. Ketika itu, merekadibayar dengan padi sistem bakdeng, satu bedeng atau sekitar 30 kilogram padi untuk satu babak. Selain itu, pemakaian kaus kaki putih juga dilarang. Pasalnya, pemerintah menganggap kaus kaki putih adalah simbol orang-orang penganut komunis. Padahal, kaus kaki tersebut merupakan simbol kesucian seseorang, lebih dari sekedar aksesoris. Seorang dalang yang akan menari harus suci hati dan pikirannya. Dalam hal ini disimbolkan dengan kaus kaki berwarna putih. Sedangkan aturan baru lainnya adalah perihal baju yang harus dibuat lebih berwarna, tidak polosan dengan warna hitam. Padahal awalnya, warna polos itu menyimbolkan kesederhanaan bagi dalangnya agar nantinya para penonton tari tersebut dapat meniru cara hidup sederhana. "Saya waktu itu sampai sekarang ikut saja. Padahal, saya tahukalau diubah, pastinya ada pesan tertentu yang akan hilang. Tapi mau bagaimana lagi namanya juga orang takut," ujar Sujana Arja. Akan tetapi, gagasan perubahan yang digulirkan tidak sejalan dengan nasib tari topeng Cirebon.


Akhir-akhir ini, sajian tari topeng Sujana beserta kelompok tari Panji Dharma mulai ditinggalkan masyarakat. "Terakhir kali menerima order bayaran Rp 30 juta. Tapi sekarang uangnya sudah habis karena harus dibagi rata dengan personel lainnya yang jumlahnya sekitar 30orang. Kalau sudah begitu, saya terpaksa utang tetangga karena sudah tidak ada yang tersisa dari saya untuk membiayai hidup sehari-hari," katanya. Harus bersaing Menurut Inu Kertapati-dalang tari topeng lainnya-berbeda dengan dulu, setiap hari selalu saja ada orang yang memintanya untuk menarikan taritopeng. Baik khitanan, pernikahan, maupun selamatan rumah, biasanya tari topeng selalu hadir dan diminati masyarakat. 
    " Kami sangat sadar kalau sekarang kami harus bersaing dengankesenian yang kata orang lebih baru seperti modern dance atau organ tunggal.Tapi apakah suatu kesalahan bila kami ingin tetap pertahankan tradisi turun-temurun ini" ujar Inu, anak ketiga dari Sujana Arja. Selain itu, menurut Inu,kepunahan tari topeng bisa saja lebih cepat terjadi. Pasalnya, selama ini tari topeng Cirebon hanya ditampilkan pada waktu tertentu. Akibatnya minat dan pengetahuan masyarakat terhadap tari topeng semakin berkurang. 
     Tari topeng biasanya hanya muncul saat even kejuaraan dan acara yang diselenggarakan pihak Keraton di Cirebon. Di luar itu, tari topeng masih sulitditemukan. Biaya yang mahal dan adanya kesenian lain yang lebih modern membuat masyarakat mulai meninggalkan tari topeng Cirebon. Kesenian di Jawa Barat setidaknya memiliki 35 rumpun seni, yang terdiri dari 391 jeniskesenian. Dari jumlah itu, 100 jenis kesenian berkembang di masyarakat, 39 diantaranya sangat berkembang. Kesenian yang sangat terkenal di Jabar adalah Jaipongan. Kesenian ini berkembang, antara lain di kota Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Majalengka dan Bekasi. 
     Kesenian lain yang menjadi ciri khas Jabar adalah tembang sunda,tayub, wayang golek, reog, calung, angklung/arumba, dan sintren. Di wilayah Cirebon terkenal dengan kesenian topeng Cirebon, tarling, gembyung, danwayang kulit. Sementara untuk daerah Kuningan dan Indramayu jenis kesenian seperti sandiwara, sintren, kuda lumping juga berkembang baik. Sementara di Sukabumi, potensi seni yang ada antara, lain uyeg, cador, kliningan, kecapi suling, calung, debus, dan ketuk tilu. Adapun kesenian yang berkembang di Karawang dan Subang, antara lain bajidoran, dombret, dan kesenian sisingaan. Jumlah seniman di Jabar sebanyak 49.023 orang dan hingga kini masih aktif. 

Nahh gimana nih sahabat literasi sekarang paham kan? 
Semoga pemaparan tadi menambah ilmu pengetahuan kita semua ya. Untuk itu jangan bosan untuk membaca ya. Karena dari membaca kita menjadi tau lohh. 
Sekian dulu pemparan kali ini ya, semoga bermanfaat untuk kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangannya. Saran dan komentar nya aku tunggu ya. Terimakasih dan sampai jumpa sahabat literasi. Semoga hari-hari kalian selalu manis:)



Jumat, 03 Januari 2020

Mari mengenal sosok Maestro hebat dibalik lestarinya Tari Topeng Cirebon

Hallo sahabat literasi... Kembali lagi sama aku hehe.  Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Ternyata dibalik lestari nya tari topeng, ada pencipta-pencipta hebat dibalik nya lohh. Atau masyarakat biasa menyebutnya "Maestro". Nahh betul bangett, kali ini aku mau mengajak sahabat literasi untuk lebih mengenal dengan salah satu Maestro hebat Cirebon nihh. Penasaran bagaimanakah sosok di balik nya?? langsung aja yukk scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

8. BELAJAR DARI MAESTRO TARI TOPENG CIREBON



     Setiap kali ada seseorang yang hingga akhir hayatnya tetap kukuh memilih dunianya menjadi bagian dari "ritus kehidupan", setiap kali ada seseorang yang selama hayatnya meletakkan hampir seluruh kreativitasnya menjadi representasi dari segenap "totalitas kehidupan", setiap kali pula seseorang itu, tanpa pamrih, dengan tulus mengajarkan serta merelakan dirinya hanya untuk kesenian dan berdiri sebagai seniman yang dengan karya-karyanya sebuah bangsa, di antara sekian karya yang lain, ditahbiskan berbudaya dan memiliki spirit peradaban. Adakah kita bisa meletakkan kembali penghormatan dengan secercah ketulusan yang sama?Saya kira, kita --siapa pun kita pada konteks maknanya yang diperluas dalam posisi sebagai pejabat negara, politisi, pengusaha atau apa pun--kesulitan untuk menjawab esensi pertanyaan tadi dengan baik. Bahkan ada berbagai pertanyaan serupa yang sama sekali kita tidak bisa memberi jawaban tepat. Seperti halnya pertanyaan berikut, apakah peran seniman memang senantiasa berada di luar hiruk-pikuk kebijakan negara? Apakah karya-karya seni tidak menjadi bagian signifikan dalam subsistem wacana kebudayaan suatu pemerintahan? Seniman, terlebih pada mereka yang memilih genre seni tradisi lengkap dengan membawa khazanah lokal yang menjadi bagian substantif di dalamnya,  tampak mengalami dilema di sana-sini dalam menghadapi perubahan zaman. Sejumlah seni tradisi yang merupakan "ikon" dan "akar"  dalam konstruk budaya tradisional masyarakat, kita tahu, berada pada posisi marginal dan feriferal. Dan, ironisnya, justru seni-seni tradisi yang semula menjadi simbol dalam penyeimbang (equilibrium) seni-seni yang dinilaisebagai sentral (adiluhung).

Kematian yang Sunyi
     Sujana Arja, atau akrab dipanggil Mang Jana, adalah maestro penaritopeng yang Senin (10/4/2006) baru saja wafat dengan usia di atas 70 tahun. Suatu kematian yang sunyi yang menyisakan jejak panjang silsilah dari salahsatu dinamika, stilistika, maupun estetika tari topeng Cirebon: bagaimana taritopeng "gaya Slangit" membentuk dirinya dan mempertahankan eksistensinya sekaligus. Bahkan dengan keteguhan seperti itu, ia tidak peduli apakahnegaranya memberi perhatian terhadap salah satu warisan seni tradisi bangsanya atau tidak; apakah pemerintah daerahnya memahami atau tidak, bagaimana seharusnya menyusun grand strategy apa yang diklaim para birokrat sebagai "pelestarian" seni tradisi. 
     Sujana dengan kehidupan yang sangat sederhana mampu bertahan untuk tidak bergeser sedikit pun dari pengabdian hampir seluruh gerak dirinya pada khazanah seni tradisi tari topeng yang diwariskan keluarga besar maestro penari topeng Arja. Sejak 1973, Sujana berlatih, mengajarkan lima wanda taritopeng dan menempati sanggar tari Panji Asmara yang berada di pengujung utara desa Slangit yang kiri-kanannya masih berupa semak perdu, rumpun bambu, jalan setapak, dan hamparan sawah. Kecuali menari, ia tidak pernah memilih profesi selainnya, apalagi sekadar untuk menyelesaikan yang primer dan sekunder dalam kehidupannya selama ini. Sujana telah melanjutkan proses regenerasi dan genealogi dari cikal- bakal tari topeng Cirebon. Bersama dengan beberapa tokoh tari topeng segenerasinya seperti, Sawitri (gaya Losari), Tarwi (Kreo), Sudji dan Dasih(gaya Palimanan) mengukuhkan tari topeng Cirebon dengan gaya masing-masing. Sehingga meninggalnya almarhum Sujana, menandai berakhirnya generasi kedua tari topeng Cirebon yang kini, mau tidak mau, diteruskan anak-cucu mereka. Tradisi tari topeng seperti seni-seni tradisi lain, mungkin agak mirip dengan perguruan shaolin yang memiliki keniscayaan untuk melahirkan sejenis "pendekar" sebagai generasi penerus yang eksploratif, andal, kukuh, teguh dalam menerima seluruh estafet dari dalam pepakem seni tradisi tersebut. Setidaknya, jika generasi tari topeng Slangit pasca-Sujana tidak segera menata berbagai instrumen dalam perjalanannya ke depan akan menghadapi tantangan budaya global yang mereduksi pandangan publiknya sedemian rupa. Dikhawatirkan tari topeng Cirebon yang tumbuh dengan latar serta beragama gaya yang bertolak dari eksplorasi maupun improvisasi tokohnya akan kehilangan generasi (lost generation). Sehingga beberapa gaya tari topeng Cirebon yang pernah tumbuh pada beberapa daerah dengan beragam gaya,sebut saja Kalianyar, Gegesik, Palimanan, Babakan, Kreo, dan Gujeg, tampak "ditinggalkan" generasi penerusnya. Tari topeng "gaya Slangit" --diambil dari muasal nama desa tempat proses kreatif keluarga besar maestro tari topeng Arja (ayahanda dan pendahulu Sujana) sebagai Generasi Pertama-- menjadi tonggak penting bagisembilan anak-anaknya; Sutija, Suwarti, Suparta, Sujaya, Sujana, Rohmani, Roisi, Durman, dan Keni, yang semuanya berhasil menjadi penari topeng. Meski dari ke sembilan anaknya, Sujana yang kelak tampil dan dikenal publik luas sebagai seorang maestro. Sujana memulai proses kreatifnya untuk menjadi maestro sejak berusia 10 tahun yang mengikuti
bebarang (ngamen) bersama ayahnya. Kemudian atas prakarsa Pangeran Patih Ardja dari Kesultanan Kanoman, sekitar tahun 1940-an, keduanya tampil dalam berbagai perhelatan ritual tradisi dilingkungan keraton. Pada usia 17, Sujana dilepaskan secara mandiri untuk menerima tanggapan (order hajatan) dan melakukan bebarang hingga ke luar daerah (Indramayu, Majalengka Sumedang, Bandung, Garut, Cianjur, Banten)sebagai bagian dari proses manunggaling lelaku (menyatukan jiwa-ragadengan filosofi tari topeng dalam konteks kehidupan) --yang tidak dapat ditempuh melalui intellectual exercises dari wilayah dan norma-norma akademis. Karena itu, kita yang pernah menyaksikan pementasan Sujana, Sawitri, Sudji, Dasih atau Mimi Rasinah maestro penari topeng dari Pekandangan Indramayu tampak kekuatan tarian yang melampaui fase-fase "batasnalar" dari kelincahan gerak penari yang memasuki usia uzur. 
     Energitas dan kreativitas menyatu dengan spiritualitas ruh penciptaan. Begitu juga totalitasdan sinergitas menemukan ruang batin: di mana ekstase menyusun makna nya yang transenden dan tidak lagi samar-samar tersembunyi. Hampir para maestro yang membuka ruang batinnya untuk selalu berada pada kosmos pergulatan kreatif akan memperlihatkan puncak dimensi penciptaan ruhani yang dahsyat dan menakjubkan. Dan, Mang Jana dalam sebuah percakapan kecil dengan penulis, menolak persepsi yang semata mengacu pada asumsi akademis yang menilai pencapaian transenden dapat dimanipulasi melalui pemahaman sains, tanpa memasuki proses logosentrisme yang menjadikan seniman berada dalam fase pemahaman empirik-kognitif (ngangsu kaweruh). Dalam perspektif inilah, Sujana hendak menegaskan bahwa proseskreatif yang hanya kukuh sebatas asumsi-asumsi akademis, berakhir dalam pemahaman formalnya sendiri: tari topeng akan lebih tampak sebagai pola- pola gerakan ritmis yang penuh citraan (images) gerak tubuh dalam filosofi makna dan tata aturan bunyi gamelan. Namun kehilangan ruh pencitraannya sendiri, yang menyebabkan gerakan-gerakan tarian tampak ringan dan mekanik. Melalui proses panjang
manunggaling lelaku dan ngangsu kaweruh, seorang penari topeng akan menemukan titik pencitraan berbagai dimensi penciptaan yang bersenyawa dengan totalitas jiwa-raga. 

Pribadi yang Tulus
     Dalam kurun waktu cukup panjang dan berliku, Sujana Arja, empu taritopeng Slangit itu, telah menyiratkan dirinya menjadi pribadi yang tulus. Ia bukan saja berdiri sebagai seorang maestro, melainkan juga guru untuk  banyak muridnya (dalam dan luar negeri) yang sungguh-sungguh telah mengabdikan serta mengabadikan kehidupannya pada seni tradisi. Meski, ia tahu, dengan sikap penuh-seluruh, terlebih lagi ia sadari tanpa jaminan hari tua dimanapun termasuk pemerintan seorang seniman justru akan terus berada dalam suasana "mencipta".


Gimana nih sahabat literasi? Hebat bukan? Nah kesimpulan dari artikel di atas, kita sebagai generasi penerus bangsa, apalagi pribumi kota udang sendiri, ayoo lanjutkan dan lestarikan tradisi seni tari topeng yang telah diwariskan para nenek moyang kita. Dengan niat dan semangat berlatih, kita semua pasti bisa mengenalkan dan membawa tradisi seni tari topeng ini hingga kanca internasional. Terus belajar ya!! 
Untuk pemaparan kali ini, sekian dulu yaa. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan sahabat literasi dimanapun berada. Oh iya, mohon maaf jikalau ada padanan kata yang kurang tepat karena masih proses belajar hehe.. Saran dan komentar nya ditunggu yaa. Terimakasih dan sampai jumpa di halaman aku selanjutnya.
Jangan lupa senyum hari ini:)


TANDA TANYA BESAR DI BALIK PESONA TARI TOPENG CIREBON?

 Hallo sahabat literasi... Kembali lagi sama aku hehe.  Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Ternyata tari topeng Cirebon memiliki pesona nya tersendiri loh.. Penasaran bagaimanakah pesona di balik nya?? langsung aja yukk scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

8. PESONA DI BALIK TARI TOPENG CIREBON



     Sudah lama tari Topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon,adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesiayang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”. Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka iamerupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakikidiam. Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Inilah teka-teki Tarian Panji dalam Topeng Cirebon. 
     Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam itu? Penduduk desa yangtersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. 
Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status “pegawai” olehGubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampaiyang amat diperlukan sesuai dengan “gaji” yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia Belanda. Begitulah penari-penari dan penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” TopengCirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”. Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.

Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan?
     Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dandipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budayaTopeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiriyang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.

Siapakah Empu pencipta tarian ini?
     Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulisdikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastra nya saja. 

Di zaman mana? 
     Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menaritopeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Taritopeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja,ibu mertua raja, ibunda raja).Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. 
     Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian iniatau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kakiGunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton. Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai diKeraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya,tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. 
     Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian dari Sang Hyang Tunggal. 

Untuk pemaparan kali ini, sekian dulu yaa. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan sahabat literasi dimanapun berada. Oh iya, mohon maaf jikalau ada padanan kata yang kurang tepat karena masih proses belajar hehe.. Saran dan komentar nya ditunggu yaa. Terimakasih dan sampai jumpa di halaman aku selanjutnya.
Jangan lupa senyum hari ini:)


Selasa, 24 Desember 2019

Ada yang unik dalam penyajian tari topeng cirebon lohh..

Hallo sahabat literasi... Kembali lagi sama aku hehe.  Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Setelah kemarin jenis tari topeng klana yang aku jelasin, untuk kesempatan kali ini aku mau ngasih tau nihh, ternyata ada hal unik dalam penyajian tari topeng cirebon lohh.. Penasaran?? langsung aja scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

7. PENYAJIAN TARI TOPENG CIREBON



     Pada awalnya, Kesenian Topeng Cirebon dipentaskan di lingkungan terbuka yang biasanya berbentuk setengah lingkaran, seperti di halaman rumah, di blandongan (tenda), atau di bale (panggung) dengan menggunakan obor sebagai penerangan.
Selanjutnya di zaman modern dan teknologi seperti sekarang ini, tari ini juga dipentaskan di dalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya. Mengenai struktur pagelaran akan selalu bergantung pada kemampuan rombongan, fasilitas, jenis penyajian serta lakon yang akan dibawakan.
   
Secara umum, struktur pertunjukan tari ini dibedakan menjadi dua kategori, sebagai berikut :

a. Topeng Alit
Struktur minimalis baik dari segi dalang, peralatan, kru dan penyajiannya. Kategori ini biasanya melibatkan lima hingga tujuh orang bersifat multiperan yang berarti babak topeng tidak hanya dibawakan oleh dalang, namun wiyaganya juga turut membantu.

b. Topeng Gede
Seperti namanya, kategori ini memiliki struktur yang lebih besar dan baku. Bisa dikatakan, struktur Topeng Gede adalah penyempurnaan dari Topeng Alit.
Dilengkapi dengan tetaluan (musik pengiring) yang lengkap, memuat lima babak sekaligus, serta dilengkapi dengan lakonan dan jantuk (nasihat) di akhir pagelaran.

Sementara itu, pagelaran kesenian tari ini juga memiliki tujuan yang berbeda-beda. Secara garis besar, tujuan penyelenggaraan suatu Tari Topeng Cirebon telah dibagi menjadi tiga, diantaranya :

1).Pagelaran Komunal
Dilaksanakan untuk kepentingan bersama. Keadaan ini memungkinkan seluruh masyarakat turut berpartisipasi sehingga acara lebih meriah. Disertai dengan arak-arakan dalang, atraksi seni dan sebagainya dengan durasi acara lebih dari satu malam.

2).Pagelaran Individual
Pertunjukannya lebih difokuskan untuk memeriahkan hajatan perorangan, seperti pernikahan, khitanan dan lain sebagainya.

3).Pagelaran Bebarangan
Ini adalah pertunjukan tari keliling kampung yang inisiatifnya datang dari sang dalang topeng. Biasanya dalang topeng datang ke wilayah-wilayah desa yang sudah panen atau wilayah yang lebih ramai (kota). Hal ini dilakukan karena desa sang dalang belum panen, mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.

Selebihnya, pelaksanaan Tari Topeng Cirebon sangatlah beragam dan disesuaikan dengan gaya tarian dari masyarakat suatu desa atau daerah yang memiliki tarian topeng yang khas.

Jenis & Gaya Tari Topeng Cirebon
     Mengenai jenis tarian ini, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa baik Tari maupun Topeng Cirebon telah dibagi menjadi lima yang utama.
     Jenis-jenis ini dikenal dengan Panca Wanda atau lima rupa, diantaranya Tari Topeng Kelana, Tari Topeng Tumenggung, Tari Topeng Rumyang, Tari Topeng Samba dan Tari Topeng Panji. Kelima tarian ini mewakili perwatakan manusia.

     Adapun mengenai gaya tarian, Tari Topeng Cirebon memiliki beberapa gaya tari yang telah diakui secara adat. Gaya-gaya ini berasal dari desa-desa asli yang melahirkan tarian topeng atau juga dari desa lain yang menciptakan gaya baru yang secara adat diakui berbeda dengan gaya lainnya.


Perbedaan gaya tari di masing-masing desa umumnya disebabkan oleh adanya penyesuaian selera penikmat dengan nilai estetik gerak tarian diatas panggung. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai gaya tari dari Topeng Cirebon :

-Gaya Beber
     Tari ini lahir sejak abad ke-17 Masehi di desa Beber, Ligung, Majalengka, Jawa Barat. Menurut ahli dalang, gaya tarian ini pertama kali dibawa ke desa Beber oleh seniman dari Gegesik, Cirebon.
     Babak yang termuat dalam gaya tari ini meliputi Panji, Samba, Temenggung, Jinggananom dan Temenggung, Klana dan Rumyang. Biasanya dipentaskan malam hari dengan Tari Topeng Rumyang di pertunjukkan mendekati terbitnya matahari.

-Gaya Brebes
     Dalam Babad Tanah Losari, gaya tari ini dimulai dari pindahnya Pangeran Angkawijaya ke Losari, Brebes. Pindah dari Kesultanan Cirebon untuk menghindari konflik internal serta kehidupan keraton yang serba gemerlapan.
     Di daerah yang baru tersebut, sang pangeran mengembangkan bakat seninya, hingga terciptalah gaya tarian ini. Selain alur cerita, kekhasan tari ini adalah banyaknya pengaruh kebudayaan Jawa.

-Gaya Palimanan
     Gaya ini tersebar di sekitaran wilayah Palimanan, Cirebon. Tetaluan (tabuh gamelan) di setiap babak berbeda dalam gaya ini.
     Kembang Sungsang untuk babak Panji, Gaya-Gaya untuk babak Samba, Malang Totog untuk babak Tumenggung, Bendrong untuk babak Jingga Anom dan babak Klana Udeng. Ada juga Gonjing untuk babak Klana serta Kembang Kapas untuk babak Rumyang.
     Untuk tetaluan gaya ini lebih mirip dengan gaya Gegesik, sementara gerakan mirip dengan gaya Losari.

-Gaya Gegesik
     Daerah penyebaran gaya ini ada di sekitaran Gegesik, Cirebon. Kekhasan Tari Topeng Gaya gegesik terlihat di raut karakteristik topengnya. Terutama Topeng Panji yang berwarna putih dengan raut tenang, mata sipit merunduk tajam, hidung mancung, serta senyum terkulum.
     Perubahan gaya ini mulai kentara sejak 1980-2000. Pada masa itu, pertunjukan topeng sering dicampur dengan dangdut sehingga disebut juga Topeng-Dangdut.

-Gaya Celeng
     Gaya ini mewakili tari topeng yang berpusat di dusun Celeng, Loh Bener, Indramayu. Pertama kali dibawa oleh Ki Kartam yang seorang ahli dalang dari Majakerta.
     Meskipun tetap memiliki kekhasan tersendiri, gaya ini memiliki kesamaan dengan gaya lainnya. Termasuk lagu dan musik pengiring yang mirip dengan yang ada di gaya Gegesik dan Slangit. Kemiripan lain juga pada gerak tari yang mendekati gerakan pada gaya Pekandangan.

-Gaya Cipunegara
     Gaya ini tersebar di perbatasan Indramayu, mulai dari Pegaden hingga kebantaran sungai Cipunegara. Dikenal juga sebagai Tari Topeng Menor karena kemerduan dan kecantikan penarinya.
     Selain itu, juga dikenal sebagai Tari Topeng Jati karena salah satu pusat gaya ini ada di desa Jati, Cipunegara, Subang. Salah satu yang menarik dari gaya ini adalah pengantar menggunakan bahasa Sunda, bukan bahasa Cirebon.
     Selain yang telah disebutkan masih banyak lagi gaya Tari Topeng Cirebon, termasuk gaya Cibereng, Gujeg, Kalianyar, Kreyo, Losarang, Pekandangan, Randegan, Slangit dan lain sebagainya.

Referensi
http://digilib.uin-suka.ac.id/7361
http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/543
https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Topeng_Cirebon


Sekian dulu pemaparan tentang penyajian dari tari topeng cirebon kali ini. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan sahabat literasi yaa. Oh iya, mohon maaf jikalau ada padanan kata yang kurang tepat karena masih proses belajar hehe.. Saran dan komentar nya ditunggu yaa. Sampai jumpa di halaman aku selanjutnya dan jangan lupa bahagia:)
Termakasih


Sabtu, 21 Desember 2019

Iniloh Sejarah Tari Topeng Klana Cirebon!



Haloo..!! Sahabat literasi??? Mana suaranya yang hobi baca nihh. Tepat sekali, ini adalah halaman yang cocok untuk mengisi waktu luang kalian buat menambah wawasan nihh, terutama mengenai sejarah tari topeng klana cirebon sendiri. Untuk tidak terlalu berbasa-basi, selamat membaca dan selamat bernostalgia😍


6. SANGGAR PURBASARI-TARI TOPENG KLANA

a). SEJARAH TARI TOPENG KLANA CIREBON




     Salah satu dari jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian topeng klana ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu seperti Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan secara bersama-sama dan biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.
     Tari Topeng Klana ini merupakan rangkaian gerakan tari yang menceritakan sang Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan dari sang Ratu Kencana Wungu, sampai kemudian berusaha mendapatkan pujaan hatinya. Akan tetapi upaya pengejarannya tidak mendapat hasil. Kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikannya kemudian membeberkan segala tabiat buruknya.
Pada dasarnya, bentuk serta warna topeng akan mewakili karakter atau watak dari tokoh yang dimainkan. Klana, dengan topeng dan busana yang didominasi oleh warna merah mewakili karakter yang tempramental. Pada tarian ini, Klana yang merupakan orang yang serakah, penuh amarah, serta tidak dapat menjaga hawa nafsu yang divisualisasikan ke dalam gerakan langkah kaki yang panjang-panjang dan juga menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka dan jari-jari yang selalu mengepal.
Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang gagah, marah, mabuk, atau tertawa terbahak-bahak. Tarian ini dapat dipadukan dengan irama Gonjing yang kemudian dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya yang terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) serta bagian ngedok (tari yang memakai topeng).
     Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
     Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.
Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton.
Tepat sebelum bagian akhir tarian ini, penari biasanya berkeliling kepada tamu yang datang untuk meminta uang. Ia berkeliling dengan mengasonkan topeng yang dipakainya sebagai wadah uang pemberian penonton. Bagian ini disebut dengan Ngarayuda atau Nyarayuda, simbol dari raja kaya raya yang masih tidak merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, hingga terus merampas sebanyak-banyaknya harta rakyat kecil tanpa mempeduikan hak-haknya.
Inilah kiranya yang menginspirasi  Nugraha Soeradiredja ketika menciptakan Tari Klana.
   
     Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
     Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah.
     Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.
     Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Nahhh mungkin sampai disitu dulu yang aku bisa paparkan. Mohon maaf jikalau masih banyak padanan kata yang kurang tepat, karena masih proses belajar hehe. Saran dan komentar nya aku tunggu yaaaa. Terimakasih
Sampai jumpa...

Sabtu, 14 Desember 2019

SANGGAR PURBASARI-KHAS TARI TOPENG CIREBON


4. SERBA-SERBI KHAS TARI TOPENG CIREBON

     Penari berperan untuk mengatur musiknya terutama pola-pola ritme kendang. Namun kegiatan tidak keluar dari aturan-aturan tradisi yang ada yaitu bahwa setiap tarian topeng mempunyai koreografi yang berdasarkan tingkatan. Tempo gending seperti, dodoan, unggah tengah (sedang), dan deder (cepat). Dalam hal ini Masunah mengulas sebagai berikut. Aturan-aturan trasidisi Tari Topeng Cirebon antara lain setiap tarian memiliki struktur koreografi yang berdasarkan tingkatan tempo gending. Tingkatan tersebut terdiri dari: tempo lambat, tempo sedang dan tempo cepat. Istilah umum yang dipergunakan oleh seniman Cirebon berkaitan dengan tingkatan tempo tersebut adalah dodoan, unggah tengah, dan deder (Masunah, 1997: 32).

     Dari semua itu gerakan tari yang ada dalam Tari Topeng Cirebon khususnya gaya Gegesik. Topeng Panji sebenarnya adalah inti dari gerakangerakan tari topeng lainnya. Hanya saja dalam tarian pokok lain, gerakan merupakan bumbu yang sekaligus juga merupakan ciri khas dari pertunjukan tersebut. Dengan kata lain, bahwa setiap gerak dalam Tari Topeng Cirebon ada yang mengandung makna tertentu atau disebut gerak maknawi, istilah lainnya adalah gesture. Tetapi ada juga yang tidak mempunyai makna (improvisasi penari). 1. Pra Pertunjukan Untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai struktur tarian Tari Topeng Gegesik ini, penulis mendatangi sebuah sanggar seni yang bernama Panji Sumirang pimpinan Ibu Karnati, dalang topeng yang terkenal dari Gegesik. Sebelumnya sanggar ini dipimpin oleh ayahnya yaitu Bapak Sujana, setelah beliau meninggal kemudian diwariskan kepada putrinya yaitu Ibu Karnati.  Seperti lazimnya penyajian topeng hajatan atau dinaan, istilah topeng disini bukan menunjukan pada penutup muka, tetapi pada bentuk pertunjukan tari topeng. Hal pertama yang harus dilakukan oleh dalang topeng menurut Ibu Karnati yaitu menyiapkan sesajen. Sesajen tersebut dipersiapkan oleh yang empunya hajat, yang antara lain terdiri atas nasi uduk atau tumpeng, kendi air yang ditutupi oleh telur ayam kampung, bubur nasi merah dan putih, beras, bakakak ayam, kelapa rujak, pisang, wedang jahe, kopi, bajigur dan pembakaran kemenyan atau disebut parukuyan (wawancara dengan Karnati, September 2010). Selain itu, ada beberapa jenis makanan atau buah-buahan maupun minuman segar yang digantung memanjang ke samping antara dua tiang tenda belandongan sebagai hiasan tepat di atas kotak. Menurut Ibu Karnati itu menandakan angin-angin, artinya segala keinginan dan nafsu manusia (wawancara dengan Karnati, September 2010). Pertunjukan dimulai dengan tatalu lagu permulaan yang tanpa taritariannya yang bermaksud untuk menarik perhatian penonton. Alunan musik yang cepat dan semakin keras ditujukan bagi masyarakat setempat agar menjadi tahu kalau di daerah tersebut akan dilakukan pertunjukan topeng. Setelah berlangsung lima menit kemudian tempo irama beralih menjadi lebih tenang. Sebelum dan selama tatalu, dalang komat-kamit mengucapkan mantera sambil membakar kemenyan dan dengan sesajen yang telah dipersiapkan di depannya. Pada saat pembacaan mantera dalang nyambat Sunan Panggung yang dipercayai sebagi guru besar dan pelindung dalang agar minta diberkahi keselamatan dan kesuksesan dalam pertunjukan tersebut.

     Dalam salah satu tulisannya Murgiyanto mengutip keterangan mengenai pertunjukan topeng sebagai berikut. Berdasarkan tradisi Jawa, pertunjukan topeng itu diciptakan oleh Sunan Kalijaga, Putra Bupati Tuban yang sangat gemar akan kesenian dan akhirnya menjadi salah seorang wali penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Ketika pusat pemerintahan berpindah dari Jawa Timur ke Jawa Tengah dan para raja memeluk Islam, pertunjukan topeng terlempar dari dalam istana dan kembali dipelihara oleh rakyat jelata yang belum sepenuhnya melepaskan kepercayaan asli mereka. Dengan melihat kenyataan ini, Sunan Kalijaga memanfaatkan pertunjukan topeng (dan wayang kulit) yang digemari rakyat sebagai alat memberikan penerangan dan penyebaran agama Islam kepada rakyat banyak itu. Di Cirebon para dalang (penari) topeng menganggap dirinya keturunan Pangeran atau Sunan Panggung, putra Sunan Kalijaga yang bukan saja menaruh perhatian terhadap seni topeng tetapi juga menarikannya sendiri (Murgiyanto, 1980: 52-53) Nama Pangeran Panggung juga terdapat dalam mantera (doa) saat dalang hendak menarikan Topeng Panji, sebagi berikut: Kula titip maring Adulmuthalib Cuan lamun ora dijaga bendung Kenang bendunge Allah Ta ala Allahuma Bisrokhman Mil suci saking umat Kanjeng Nabi Muhammad Allhuma Sotiamin Nyuwun ning Pangeran Bonang Pangeran Panggung minta diraksa Sajabane sejerone pangguung, Artinya: Saya titip kepada Abdulmutholib Awas kalau tidak dijaga celaka terkena murka Allah swt Allah Yang Maha Pengasih Yang suci dari umat Baginda Nabi Muhammad Ya Allah Minta kepada Pangeran Bonang Pangeran Panggung minta dijaga di luar dan di luar panggung (Suanda, 1989: 76) Pada saat tatalu selain bertujuan untuk menarik perhatian penonton tetapi juga pemberitahuan bahwa para dedemit (roh baik dan roh jahat) semua berdatangan ke tempat pertunjukan. Selama tatalu roh baik seperti Sunan Panggung dapat mengusir roh jahat supaya pertunjukan berjalan dengan lancar. Menurut H. Mansyur orang-orang baru berdatangan untuk melihat pertunjukan setelah selesai tatalu, kalau tidak mereka bisa diganggu oleh para dedemit itu (wawancara dengan H. Mansyur, September 2010). Namun, ada pula yang beranggapan bahwa tidak enak untuk datang segera, karena pepatah goong-clok, setelah bunyi goong yang pertama dipukul terus saja duduk di tempat termasuk pantangan. Sebelum dalang topeng muncul, gamelan tetap dibunyikan secara perlahan-lahan. Setelah itu tampak beberapa orang yang menari-nari di atas arena pertunjukan. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dalang topeng keluar dari kamar rias lalu berjalan menuju kotak dan duduk di sana. Sekilas tampak Ibu Karnati begitu gagah denga kostum yang dipakainya, ia memakai baju biru terbuat dari kain satin dan kain batik mega mendung khas Cirebon. Pakaian tersebut dipakai sedemikian rupa hingga menutupi kakinya tetapi tidak mengurangi kebebasan geraknya. Sementara itu suara gamelan berhenti, tampak sang dalang bercakap-cakap sebentar dengan para nayaganya sambil mengenakan sobrah di kepalanya. Kemudian pertunjukan pun segera dimulai. Pertunjukan tersebut dilakukan di arena yang luasnya sekitar 10 m 2. Hal itu cukup untuk sebuah sanggar seni Tari Topeng Gegesik yang diberi nama Langen Purwa. Bangunan ini ditata sedemikian rupa khusus untuk belajar tari topeng sekaligus untuk pertunjukannya. Dilengkapi dengan kamar rias, tempat parkir, arena pertunjukan yang sekaligus tempat berlatih tari dan ruang lainnya yang semuanya belum selesai dibangun. Di sana tampak pula di tengah area ada sebuah kotak dan di atasnya ada tekes atau sobrah untuk penutup kepala dengan rawis terjuntai ke bawah. 2. Pertunjukan Lagu Kembang Sungsang mulai ditabuh, dalang memulai tariannya dengan duduk di depan kotak dan membelakangi penonton. Dengan kepala menekung atau telungkup tangan dilipat di atas kotak yang sekaligus penyangga. Pada saat ini dalang membacakan mantera untuk keselamatan pertunjukan dan sebagainya. Sikap yang sebenarnya adalah semedi dan pada saat ini penonton hanya meilhat panggung penari yang ditutupi oleh kerodong, setelah selesai dalang mulai berdiri perlahan. Gerak demi gerak berlangsung tanpa ada suatu penekanan yang berarti. Sekalipun suara gamelan baegitu bergemuruh namun tidak mempengaruhi tariannya yang tetap halus dan lembut. Tampak dalang melakukan gerak-gerik tariannya dengan sangat hati-hati dan perlahan, hingga berkesan seperti diam. Di sini tampak keseriusan dalang saat dia belum mengenakan kedok, sangat tenang dan khidmat, terlihat dari tatapan mata dan wajah yang menunduk, begitu dingin. Pada saat penari mengenakan kedok, seorang nayaga melakukan monolog atau disebut nyandra dan istilah Cirebonnya adalah Mertawara. Isi dari mertawara ini diantaranya menyebutkan, Jangan gugup, telah datang seorang sinatria yang bernama Raden Panji,. dan seterusnya. Menurut H. Mansyur mertawara ini merupakan kesamaan suatu adat masyarakat di daerah bila ada bayi yang baru lahir selalu di gebrag (dikageti dengan membunyikan apa saja) dengan tujuan agar jantungnya sehat dan tidak cepat kaget (wawancara dengan H. Mansyur, September 2010). Gamelan mulai naik lagu Lontang Besar, gerak dan ngola tangan dengan hitungan satu gong, bergantian kiri kanan, kemudian gamelan naik lagi dengn lagu Bata Rubuh, gerak gleong dan cantel dalam hitungan satu gong. Kemudian diteruskan gerak tumpang tali seblak soder lalu ngola sikut. Sekalipun gamelan terus naik irama dan kecepatannya, namun hal itu tidak mempengaruhi gerak dalang yang tetap dalam kelembutan dan kehalusan. Kemudian gamelan naik lagi lagu Owet-owetan, gerak berkisar pada gerak ngola tangan, lembean, temple jamang, ngola bahu, dan sesekali dalang membetulkan kain. Setelah itu dilanjutkan lagu Deder atau lagu Singa Kawung Kering dan gerak-geriknya ngola sumping, ngola sikut, silang sumping yang dikahiri oleh lontang kembar lalu penarinya membuka kedoknya.

     Menurut H. Mansyur selama berlangsungnya tarian ini hanya beberapa orang penonton saja yang kelihatannya benar-benar menyimak. Hal itu pun terbatas pada orang tua saja, ada beberapa anak-anak yang duduk lesehan di depan terlihat serius menonton tarian ini. Terlebih lagi pada saat ini jumlah penonton belum begitu banyak dan biasanya penonton akan bertambah pada saat tarian yang kedua muncul, yaitu Topeng Pamindo (Wawancara H. Mansyur, September 2010). Pasca Pertunjukan Setelah dalang membuka kedok ini berarti tarian topeng Panji telah selesai. Kemudian dalang kembali menuju kotak, duduk sebentar, membuka sobrahnya kembali dan menyiapkan kedok ayang akan dipakai. Hampir selalu seperti itu sampai akhir tarian Topeng Klana. Selama itu dalang topeng tidak merasa lelah setiap menari lagi, seakan-akan tenaganya baru kembali. Padahal, setiap tarian memerlukan stamina yang bagus untuk bisa tampil prima apalagi biasanya kelima tarian pokok ini ditarikan sepanjang hari. Lama tariannya dari pagi hingga sore hari dengan lama tiap tarian hamper memakan waktu dua jam, khususnya Panji. Begitu pun yang terlihat pada Karnati, saat dia masih menari atau di atas arena pertunjukan, dia begitu bersemangat, tidak terlihat pegal atau kehabisan tenaga. Setelah dalang mengganti kostum tarinya dan kembali berkumpul bersama penulis, dia mengaku bahwa, rasa capek itu ada setelah dia selesai menari, setelah ganti kostum (wawancara dengan Hj. Juni, September 2010). Hal tersebut dikarenakan mantera yang dibacakannya saat pertama dia menari. Selain itu untuk menjadi dalang topeng harus melewati proses maseuk diri, yaitu proses seperti puasa tidak makan makanan yang dibungkus oleh daun dan tidak boleh banyak tidur dan mengosongkan perut sambil terus berlatih yang kesemuanya itu bertujuan agar sukses di atas arena pertunjukan (wawancara Hj. Juni, September 2010).

     Aspek Musik-musik pengiring adalah sajian komposisi musik yang difungsikan sebagai iringan tari. Setiap topeng berbeda komposisi musiknya, sesuai dengan struktur dan karakteristik tarian yang dimainkan. Untuk mengiringi tari topeng gamelan yang digunakan dalah gamelan yang berlaras Prawa. Pada waktu tari topeng baru dikembangkan para Wali Sanga dan juga digunakan sebagai media dakwah penyebaran agama Islam, menurut Nawi (2003: 5) gamelan yang digunakan sebanyak 6 jenis yaitu: 1. Saron satu disebut penurut 2. Saron dua disebut penimbal 3. Bonang 4. Kendang 5. Engklong 6. Gong Pada masa-masa selanjutnya masih menurut Nawi (2003: 5) gamelan mengiringi tari topeng tersebut dilengkapi dengan:
1. Penerus
2. Jengglong
3. Kebluk atau Tutukan
4. Gender
5. Suling
6. Kemanak
7. Beri atau Kecrek
8. Klenang
9. Peking atau Titil
10. Kemyang atau Rincik Makna
dari jumlah gamelan tersebut adalah jumlah gamelan yang enam yaitu Rukun Iman Islam. Sedangkan jumlah gamelan yang sepuluh adalah disesuaikan dengan arah mata angin, Timur, Barat, Utara, Selatan, Teggara, Barat Daya, Barat Laut, Timur Laut dan ditambah Atas dan Bawah (Langit dan Bumi). Menurut dalang H. Mansyur pada masa sekarang ini gamelan yang digunakan untuk mengiringi Tari Tari Topeng Gegesik bukan hanya berlaras Prawa, namun juga digunakan gamelan yang berlaras Pelog (wawancara dengan H. Mansyur, 5 Oktober 2010). Perbedaan laras Prawa dan Pelog terdapat pada patut-nya. Pada gamelan Prawa berisi patut laras, patut miring, patut sanga, patut sepuluh dan patut panjrang. Sedangkan pada gamelan Pelog disamping kelima patut tersebut ditambah dengan patut bungur.

     Dalam pertunjukan Tari Topeng Gegesik, tata letak setiap wanditra gamelan ditempatkan dan diatur secara khusus oleh para pangrawit (nayaga). Kotak topeng selalu disimpan di tengah-tengah panggung dan dijadikan titik pusat. Di sebelah kiri kanan kotak ditempatkan beri dan klenang, sedangkan keprak atau kecrek dikaitkan ke bibir kotak topeng sebelah kanan. Di belakang kotak topeng ditempatkan berturut-turut, kendang, saron pembarep, saron penimbal, dan kedemung, serta gong. Wanditra (alat gamelan) ini ditempatkan berdekatan sedemikian rupa untuk memudahkan komunikasi antarpenabuh. Pengendang perlu dekat dengan penyaron sebagai pembawa lagu. Demikian pula para penabuh lainnya yang berada di belakangnya, yaitu titil, bonang, dan jenglong. Sesuatu yang khusus adalah arah hadap penabuh gong yang senantiasa berlawanan dengan arah penabuh lainnya. Ia duduk sendiri mengahadap ke arah belakang panggung, sementara yang lainnya ke depan panggung. Keunikan arah hadap penabuh gong itu salah satunya terkait dengan fungsi dia untuk mengawasi stuasi yang terjadi di belakang panggung.

SANGGAR PURBASARI-LATAR BELAKANG PENYEBARAN TARI TOPENG CIREBON

                                   



3. LATAR BELAKANG PENYEBARAN TARI
TOPENG CIREBON

     Meluasnya budaya Tari Topeng Cirebon menurut Masunah dan Karwati disebabkan oleh peranan seniman yang mengadakan pertunjukan bebarang/barangan. Mereka pergi bekelana berhari-hari lamanya. Perjalanan ditempuh mulai dari berjalan kaki, menggunakan gerobak dorong, hingga kendaraan roda empat. Kepindahan seniman-seniman itu didasari atas tuntutan ekonomi yang sangat sulit. Keahlian yang mereka kuasai hanyalah mempergelarkan kesenian yang dimiliki (Masunah dan Karwati, 2003: 25). Mereka tidak cukup mempunyai lahan yang baik untuk tempat tinggal maupun lahan untuk garapan pertanian. Jangankan untuk rumah, untuk makan sehari-hari pun sangat sulit. Keadaan musim sangat mempengaruhi pola kehidupan seniman tari topeng. Musim paceklik adalah musim yang sangat sulit untuk mendapatkan pangan. Keadaan ini mendorong seniman untuk berusaha mengadakan pertunjukan secara keliling, mencari orang yang bersedia menonton mereka. Saat barangan adalah saat dimana mereka harus pergi jauh ke luar daerah asal dan mungkin tidak kembali. Para seniman tari topeng seringkali mengadakan pertunjukan barangan dan pada akhirnya sering tidak kembali ke tempat semula melainkan memilih hidup dan bertempat tinggal di tempat yang baru. Di tempat baru ini akhirnya mereka menetap sekaligus mengembangkan pola-pola yang semula mereka anut di daerah asal yang disesuaikan dengan kondisi/situasi daerah atau yang menurut Suanda disebut sebagai local colour setempat. Tari Topeng Cirebon mempunyai wujud baku secara teknik dan penampilan, mempunyai isi dan makna yang terkait dengan fungsi dan perandalam masyarakat. Topeng selain mempuyai perbendaharaan teknis yang mantap mau tidak mau mengalami dinamika baru, mengalami perubahan dan perkembangan dari topeng semula. Perubahan ini meliputi perubahan fungsional dan bentuk sebagai akibat kebutuhan dan kreatifitas manusia pelakunya. Tidak jarang, dalam wilayah baru yang ditempati, muncul beragam gaya/pola penari atau pun pertunjukan, akan tetapi pada arti tempat, arti wilayah juga lokasi yang dihuni seniman tari topeng. Menurut Suanda perbedayaan gaya akibat migrasi seniman akan semakin beragam dan sulit dibedakan lagi bila disertai perkawinan di antara seniman yang berbeda daerah atau pun gaya petunjukan. Para seniman yang mengembara, sering dalam perjalanan atau di daerah yang baru dihuni melakukan pernikahan dengan seniman dari kelompok berbeda gaya yang lain. Ketika mereka berumah tangga, gaya pertunjukan dari kedua insan yang berbeda membentuk semacam dialog atau peleburan dimana terjadi penyesuaian satu sama lain (Suanda, 1995: 54). Dalam proses semacam itu, keduanya akan saling memberi dan menerima dan akan tampak yang satu lebih dominan disbanding dengan yang lainnya. Hal inilah yang terkadang menjadi masalah di dalam membicarakan pola umum Tari Topeng Cirebon. Lebih lanjut Suanda mengemukakan bahwa: Hal yang paling sukar dalam membicarakan pola umum Tari Topeng Cirebon adalah bahwa tiap daerah, dan bahkan penari punya gaya atau pola yang berbeda. Pemetaan gaya atas dasar wilayah pun sering tidak dimungkinkan karena banyak seniman yang pindah dari suatu daerah yang gayanya berbeda (Suanda, 1995:2). Perpindahan seniman dari satu tempat ke tempat lain mengakibatkan kesenian bersifat heterogen. Kesepakatan garap dan peristilahan tidak dipandang sebagai hal yang penting. Mereka lebih banyak bersifat terbuka dan luwes menyadari lingkungan. Musik yang digunakan dalam suatu acara hajatan akan berbeda dengan musik yang dipakai barangan. Musik barangan tampak lebih sederhana dibandingkan dengan musik hajatan, begitu pun dalam hal tarian. Masalah penyingkatan rangkaian gerak tarian dan waktu pertunjukan adalah hal yang sering dilakukan oleh mereka. Termasuk di dalamnya susunan tarian. Demikian juga dengan peristilahan, keadaan ini banyak menjadikan keanekaragaman istilah. Ada istilah berbeda digunakan untuk sesuatu yang sama atau sebaliknya hal yang sama memiliki beberapa istilah. Dalam kondisi seperti itu terjadi unsur-unsur pertunjukan yang hilang atau diganti dengan hal baru. Adanya unsur-unsur yang berkurang atau bertambah tersebut menjadikan Tari Topeng Cirebon bersifat kompleks. Pada masa awal kemunculannya Tari Topeng Cirebon dipertunjukan di keraton. Penari dan dalangnya merupakan seniman-seniman yang berasal dari desa. Para seniman yang awalnya turut serta dalam kegiatan kebudayaan di keraton akhirnya keluar karena keraton tidak sanggup membiayai kegiatan kebudayaan, karena kekuasasan telah beralih ke tangan penjajah. Akhirnya para seniman kembali ke desa dan mengembangkan kesenian tari topeng di daerahnya masing-masing. Setelah beberapa periode, kesenian tari topeng pun menjadi milik lingkungan masyarakat desa yang diwariskan secara turun-temurun dan tersebar di beberapa tempat daerah Cirebon seperti, Losari, Slangit, Gegesik, Kalianyar, Palimanan, Majalengka, dan Indramayu.

     Tari topeng meski tersebar di beberapa daerah tetapi secara umum bentuk fisiknya tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam hal itu terdapat ukurannya. Pada aspek gerak tariannya atau pun penerapan nomor tariannya tiap daerah memiliki warna dan corak yang berdiri sendiri dengan ciri khas daerahnya masing-masing. Perbedaan tersebut diakibatkan gerak penarinya atau pun dari versi dalangnya yang menjadikan ciri khas daearahnya masing-masing. Menurut Elang Komarahadi (44) Pembina kesenian Keraton Kacerbonan menyebutkan, Karena awalnya satu bibit, walaupun berbeda tariannya kesenian Tari Topeng Cirebon mempunyai satu misi yaitu menerangkan karakteristik manusia. Bentuk topeng atau penutup mukanya secara umum setiap daerah sama karena ada pakem dalam pembuatannya. Kalau pun ada sedikit perbedaan, itu disebabkan perbedaan kemampuan pengrajin dalam teknik mengukir pembuatan topengnya atau pun kretivitas dari pengrajinnya. (Wawancara dengan Elang Komarahadi, September 2010)

     Di Gegesik kesenian tari topeng sangat popular, hal ini terbukti dengan banyaknya kelompok tari topeng atau sanggar-sanggar tari topeng. Sanggar-sanggar tersebut diantaranya yaitu Sanggar Panji Sumirang pimpinan Ibu Karnati, Sanggar Among Prawa pimpinan Hj. Juni, Sanggar Sungging Prabangkara Pimpinan Parastika, dan Sanggar Langen Purwa pimpinan H. Mansyur. Dalam Tari Tari Topeng Gegesik dikenal lima topeng pokok yang ditarikan secara berurutan sesuai dengan karakternya masing-masing. Kelima topeng pokok itu adalah Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Patih Tumenggung dan Klana. Selain kelima topeng itu ada pula topeng bodor yang ditarikan disertai lawak yaitu Jinggananom, Pentul, Tembem (Enyo), Jungkring dan Aki-aki.

Jumat, 13 Desember 2019

SANGGAR PURBASARI-TRADISI TARI TOPENG GEGESIK CIREBON


2. TRADISI TARI TOPENG GEGESIK CIREBON

Gegesik merupakan salah satu daerah di Cirebon yang memiliki tradisi topeng. Menurut sumber, Gegesik diambil dari nama leluhur yaitu Pangeran Gesang. Topeng Gegesik memiliki mempunyai gaya tersendiri yang berbeda dengan Topeng Cirebon lainnya.
Karakteristik Topeng Gegesik:
- Topeng Panji
Berwarna putih dengan raut muka yang memancarkan keagungan dan ketenangan. Bentuk mulutnya renyah dengan senyum yang terkulum, matanya sipit dan hidungnya mancung. Sorot matanya terkesan selalu merunduk tajam, serta memiliki bentuk muka yang memancarkan kewibawaan. Topeng ini jika dipakai untuk menari, tatapannya akan menyudut 45 derajat. Topeng Panji berkarakter halus, kerap disamakan dengan tokoh Arjuna dalam cerita Mahabharata atau tokoh Rama dalam Ramayana.
Macam-macam Wanda pada Topeng Panji:
* Sabuk Inten
* Si Mangfu
* Si Rentang
* Si Madu
* Si Pekik
* Si Geger
* Geger Gandul
Gerakan dalam Topeng Panji seringkali dihubungkan dengan cerita Panji dan dianggap sebagai perwujudan dari tokoh Panji Inukertapati, terkadang disebut pula Panji Asmarabangun atau Panji Gagak Pernala. Gerakan-gerakan dalam Topeng Panji memiliki beberapa interpretasi, antara lain:
* Gerakan tangan temple bahu diartikan sebagai tiruan pada jalannya Dewi Anggraeni.
* Cantel diartikan bahwa Raden Panji akan berhasil menikah dengan Dewi Anggraeni.
* Gerakan tangan di samping telinga diartikan sebagai saat-saat Raden Panji sedang memanggil-manggil Dewi Anggraeni.
Terdapat pula versi yang menyatakan bahwa Topeng Panji tidak berkaitan dengan cerita Panji. Disebutkan bahwa Panji diartikan sebagai yang pertama, berasal dari kata ‘siji’ yang artinya satu. Siji memiliki arti bahwa dalam tradiri Topeng Cirebon ini, Topeng Panji menjadi pengawal tarian atau urutan pertama dari tari topeng. Simbolisasi gerakan Topeng Panji dimaknai sebagai gerakan bayi karena cenderung kecil dan lebih banyak diam. Kepercayaan masyarakat pada latar belakang cerita merupakan bagian dari variasi kearifan lokal masing-masing daerah yang berbeda satu dengan lainnya.
- Topeng Pamindo atau Samba
Topeng Pamindo umumnya berwarna putih dan memiliki raut wajah ceria, tatapan mata yang lurus ke depan dan sorot mata yang lincah. Terdapat hiasan rambut dan hiasan yang melengkung pada sisi pipi kiri dan kanan, disebut pilis. Di atas hidung terdapat hiasan Kembang Tiba yang menjadi pusat lengkungan hiasan pilis. Karakter Topeng Pamindo adalah banyak gaya, diartikan sebagai tokoh yang lincah atau ganjen. Topeng Pamindo yang berwarna merah muda dikaitkan dengan watak manusia yang rendah hati dan setia kawan.
Wanda pada Topeng Pamindo atau Samba, yaitu:
* Cibrak
* Wisunah
* Si Jimat
* Gondrong
Pamindo sendiri berasal dari kata “mindo” yang berarti kedua. Topeng Pamindo umumnya ditarikan pada kesempatan kedua dalam pertunjukan Topeng Cirebon. Gerakan-gerakan Topeng Pamindo digambarkan sebagai seorang remaja yang ingin tahu. Bentuk gerakannya cenderung lincah, berirama cepat dan patah-patah.
- Topeng Rumyang
Topeng Rumyang berwarna merah muda tanpa hiasan rambut, karakter yang dimiliki pun menyerupai Topeng Pamindo yang lincah.
Wanda dalam Topeng Rumyang, yaitu:
* Semang
* Golek
* Cibrak
Rumyang berasal dari kata ramyang-ramyang, artinya mulai terang. Bahasa Sunda menyebut ramyang-ramyang sebagai carancang tihang, suatu keadaan menjelang pagi yang masih samar atau remang-remang. Topeng Rumyang merepresentasikan kondisi ketika seseorang sudah mulai terang dalam melihat kehidupan di sekelilingnya. Topeng Rumyang umumnya ditarikan pada tarian ketiga, namun di beberapa daerah ditarikan sebagai tarian terakhir.
- Topeng Tumenggung-Patih
Berwarna kembang terong muda atau dadu kelang, ada pula yang berwarna merah muda. Paranya gagah berani dengan kumis dan mata terbelalak. Topeng Tumenggung memiliki kumis yang terbuat dari kulit, sementara Topeng Patih kumisnya terbuat dari rambut. Terdapat pula hiasan tlenggong, tlingus dan pepasu.
Tari Tumenggung merupakan satu-satunya tarian yang mengandung unsur-unsur literer. Hal ini terlihat dari dialog antara Tumenggung Magangdiraja dengan Jingga Anom.
Tarian ini mengisahkan Tumenggung Magangdiraja yang hendak menaklukkan Jingga Anom yang tidak mau tunduk terhadap kekuasaan Raja Bawarna. Jingga Anom menolak untuk tunduk sehingga timbul peperangan. Membedakan Topeng Tumenggung dan Patih dapat diamati dari perbedaan bentuk kumisnya, juga terdapat perbedaan pada wanda:
Patih
* Tatag
* Perkicil
* Pelor
* Mimis
Tumenggung
* Slasi
* Drodos
* Sanggan
- Topeng Jingga Anom
Berwarna jingga atau kuning kemerahan dengan karakter tari Buta (Danawa) yang berwatak kasar serta nakal.
Wanda pada Topeng Jingga Anom:
* Garjita
* Si Kekes
* Si Moreg
* Barong
- Topeng Klana atau Rowana
Topeng Klana memiliki warna merah tua dengan raut muka yang galak, mata membelalak, mulut menyeringai, kumis melingkar, berjambang dan berjenggot. Karakter Topeng Klana disebut gagah perkasa atau gagah kasar. Topeng Klana kerapkali disamakan pula dengan tokoh pewayangan Burisrawa atau Rahwana.
Wanda pada Topeng Klana antara lain:
* Barong
* Wringut
* Drodos
* Golek
Topeng Klana menggambarkan seseorang yang sedang dilanda angkara murka, serakah dan zalim. Tarian Topeng Klana sering dikaitkan dengan cerita Panji. Unsur cerita dalam Topeng Klana mengisahkan seorang raja yang gagah perkasa bernama Klana Budanegara yang tergila-gila pada putri dari Bawarna yang bernama Dewi Tunjung Ayu, anak dari Prabu Lembu Amiluhur. Ragam gerak yang muncul dalam tarian ini terlihat dari gerakan depole atau pasir muih (pasir memutar).

SELAMAT DATANG DI SANGGAR PURBASARI


   SELAMAT DATANG DI SANGGAR PURBASARI
 
      Sanggar Purbasari terletak ditengah kota Cirebon dan dipimpin oleh salah seorang putri dari dalang wayang ternama sekaligus dalang Topeng cirebon, diwilayah Gegesik kabupaten Cirebon yang bernama Dalang PURBA atau lebih dikenal dengan sebutan dalang JUBLAG almarhum, ,dia bernama BAEDAH,A.Md.
Alamat Sanggar Purbasari ini di PADEPOKAN ABDUL ADJIB ,Jl.Sukasari gang 4 No.30 Cirebon 45122.Contact Person : +62 81221 432 73
Sanggar Purbasari ini mengelola tari Topeng Cirebon versi gegesik yang merupakan budaya Cirebon warisan leluhur yang perlu kita lestarikan.
Baedah juga merupakan menantu dari sang maestro tarling Cirebon yaitu Almarhum Drs.H.Abdul Adjib.atau istri dari putra sang maestro tarling Cirebon yaitu INSAN S ADJIB.i
Sanggar purbasari ini juga tak hanya tari topeng yang ada didalamnya namun juga terdapat tari kreasi tradisional.

   Dalam kesempatan kali ini, yang saya bahas adalah tari topeng gegesik khusunya yang dipegang erat oleh pimpinan sanggar purbasari itu sendiri.

1. SEJARAH KESENIAN TARI TOPENG GEGESIK CIREBON
     Awalnya, kesenian ini merupakan bagian dari kehidupan dan nilai-nilai Islam yang terus hidup dan berkembang pada sebagian masyarakat yang terdapat di Gegesik. 4.1.1 Keadaan Geografis dan Administratif Kecamatan Gegesik Pembahasan tentang keadaan geografis Kecamatan Gegesik dimaksudkan dan dikembangkan dalam rangka untuk mengetahui kaitan antara kondisi geografis dengan keberadaan kesenian tradisional Topeng Gegesik. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cirebon, tepatnya di Kecamatan Gegesik. Kecamatan Gegesik adalah sebuah kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Cirebon. Luas wilayah Kecamatan Gegesik 37,08 km2 terdiri dari sembilan desa, merupakan wilayah dengan kondisi daerah dataran rendah dan beriklim panas dengan suhu rata-rata mencapai 25ºC 34ºC. Wilayahnya sebagian besar adalah wilayah persawahan dengan luas 53,53 km² yang merupakan 63% dari seluruh luas wilayah Kecamatan Gegesik. Sebagian besar mata pencahariannya adalah buruh tani. berikut : Sedangkan untuk batas wilayah Kecamatan Gegesik adalah sebagai Sebelah Barat : Kecamatan Kaliwedi Utara : Kabupaten Indramayu Timur : Kecamatan Kapetakan dan Kecamatan Panguragan Sebelah Selatan : Kecamatan Arjawinangun.
     Sejalan dengan pendapat tersebut Elang Komarahadi (44), Pembina Kesenian Keraton Kacerbonan, mengatakan bahwa semua kesenian yang berkembang di masyarakat Cirebon pada awalnya berasal dari kesenian keraton yang fungsinya sebagai hiburan untuk tamu-tamu raja maupun untuk kegiatan upacara di keraton (Wawancara dengan Elang Komarahadi, 20 September 2010).
      Pada saat berkuasanya Sunan Gunung Jati sebagai pimpinan Islam di Cirebon, maka datanglah percobaan untuk meruntuhkan kekuasaan Cirebon di Jawa Barat tokoh pelakunya adalah Pangeran Welang (yang belum masuk Islam) dari daerah Karawang. Tokoh ini ternyata sangat sakti dan memilki pusaka sebuah pedang bernama Curug Sewu. Penguasa Cirebon beserta para pendukungnya tidak ada yang bias menandingi kesaktian Pangeran Welang. Dalam keadaan kritis diputuskan bahwa untuk menghadapi musuh yang demikian saktinya harus dihadapi dengan diplomasi kesenian. Setelah disepakati bersama antara Sunan Gunung Jati, Pangeran Cakrabuana dan Sunan Kalijaga, maka terbentuklah tim kesenian dengan penari yang sangat cantik adalah Nyi Mas Gandasari, dengan sarat menarinya harus memakai kedok/topeng. Mulailah kelompok kesenian ini mengadakan pertunjukan di setiap tempat lazimnya sekarang disebut ngamen. Dalam waktu singkat terkenalah kelompok ini dengan Pangeran Welang ingin menyaksikan kesenian tari topeng setelah menyaksikan sendiri kebolehan si penari, ketika itu pula ia jatuh cinta. Nyi Mas Gandasari pun berpura-pura menyambut cintanya dan pada saat Pangeran Welang melamar, maka Nyi Mas Gandasari memninta dilamar dengan pedang pusaka Curug Sewu. Pangeran pun tanpa berpikir menyerahkan pedang pusaka tersebut, dan pada saat itu pula hilang semua kesaktian Pangeran Welang. Dalam keadaan lemah lunglai tak berdaya, Pangeran Welang menyerah total kepada Nyi Mas Gandasari dan memohon ampun kepada Sunan Gunung Jati agar tidak dibunuh. Sunan Gunung Jati memberikan ampun dengan syarat harus masuk Islam. Pangeran Welang setelah masuk Islam diangkat sebagai pemungut cukai dan dia berganti nama menjadi Pangeran Graksan. Sedangkan pengikut Pangeran Welang yang tidak mau masuk Islam tetap ingin tinggal di Cirebon oleh Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk menjaga keraton dan sekitarnya. Melihat keberhasilan misi kesenian topeng bias dijadikan penangkal serangan dari kekuatan-kekuatan jahat, maka pihak penguasa Cirebon menerapkan kesenian topeng ini untuk ngeruat suatu daerah yang dianggap angker dan sebagai kelanjutannya, hingga kini kesenian topeng ini masih digunakan di desa-desa untuk upacara adat seperti ngunjung, nadran, sedekah bumi, dan lain-lain. Setelah masyarakat menerima tradisi ngeruat itu, disamping harus ada pegelaran wayang kulit juga harus ada topeng di Cirebon, maka sangat suburlah tumbuhnya penari topeng di Cirebon (Proyek Pendataan KesenianCirebon, 2001: 203). Berdasarkan beberapa keterangan dan hasil studi pustaka yang penulis lakukan, ternyata keberadaan Tari Topeng Cirebon berhubungan dengan adanya raket dan wayang wong yang berkembang pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 di Jawa Timur. Wayang wong dan raket adalah pertunjukan drama tari tanpa menggunakan topeng yang mengambil sumber cerita Ramayana dan Mahabarata. Wayang Topeng atau drama tari topeng sebagai hasil peleburan tradisi Hindu dengan Islam pada abad ke-15. Untuk mengembangkan kesenian topeng yang sangat popular pada waktu itu Sunan Kalijaga menciptakan topeng mengikuti model wayang gedhog, pertunjukan wayang kulit yang mengambil sumber cerita Panji, tetapi susunan tariannya ditafsirkan sebagai gambaran perkembangan jiwa manusia dari lahir sampai dewasa dan gambaran akhlak manusia yang baik dan yang buruk. Dari data yang dikemukakan oleh beberapa tokoh seniman topeng dan data kepustakaan yang telah dipaparkan di atas. Terlihat betapa besarnya peranan tokoh Islam tokoh Islam seperti Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga dalam upaya penciptaan penyebaran seni Tari Topeng Cirebon. Dengan berperannya para wali maka keberadaan topeng di wilayah budaya Cirebon menjadi berakar dalam sistem kehidupan masyarakat pendukungnya dan bertahan dari generasi ke generasi melalui para penggarapnya secara turun-temurun. Hal tersebut diperkuat dengan adanya peninggalan lima topeng kuno yang tersimpan di museum keraton Kanoman dan diperkirakan digunakan oleh pemerintah Sunan Gunung Jati sebagai media dakwah untuk penyebaran Islam di Cirebon pada abad ke-15. Dalam perkembangan selanjutnya topeng menjadi salah satu seni pertunjukan (jenis tarian) yang memiliki bentuk penyajian tersendiri yang disebut topeng babakan atau topeng dinaan yang para penarinya memakai kedok (topeng) sebagai penutup muka. Biasanya kedok yang ditampilkan pada satu kali pertunjukan terdiri dari topeng Panji, Pamindo (Samba), Rumyang, Tumenggung, dan Klana (Rowana). 4.2.2 Lahirnya Kesenian Tari Topeng Gegesik Dalam perkembangannya, Tari Topeng Gegesik tidak terlepas dari sejarah Tari Topeng Cirebon, karena Tari Topeng Gegesik merupakan salah satu dari sekian banyak gaya atau aliran Tari Topeng Cirebon. Tari Topeng Cirebon menyebar tidak hanya di daerah Cirebon atau kawasan budaya Cirebon saja, melainkan juga menyebar ke daerah-daerah lain di luar budaya Cirebon. Dalam hal ini Suanda pernah mengulas Cirebon sebagai daerah budaya besar. Berikut ini pernyataannya. Berbicara mengenai Cirebon sebagai wilayah budaya besar, akan termasuk di dalamnya, wilayah-wilayah Kabupaten dan Kodya Cirebon, Indramayu, sebagian dari Majalengka, Kuningan, Sumedang, Subang, Karawang, Tangerang, Bekasi, dan Banten. Malahan tergantung dari lingkup mana kita melihatnya, bisa juga memasukkan beberapa wilayah di Jawa Tengah, seperti Brebes dan Banyumas (Suanda, 1995: 18)