Tampilkan postingan dengan label cirebon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cirebon. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2020

Mengenal Lebih Jauh Apa itu Tari Topeng


Indonesia adalah Negara yang kaya akan kebudayaan tradisional. Negara yang mempunyai kesenian tradisional yang sangat beragam, seperti tarian-tarian daerah. Tarian pada setiap daerah memiliki keunikan sendiri-sendiri. Salah satu tarian asli dari Indonesia yang cukup unik adalah Tari Topeng.

Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java mendeskripsikan bahwa kesenian topeng Cirebon merupakan penjabaran dari cerita Panji dimana dalam satu kelompok kesenian topeng terdiri dari dalang (yang menarasikan kisahnya) dan enam orang pemuda yang mementaskannya diiringi oleh empat orang musisi gamelan.

SERBA-SERBI TARI TOPENG

1. TEMPAT PAGELARAN
Tari Topeng Cirebon pada zaman dahulu biasanya dipentaskan menggunakan tempat pagelaran yang terbuka berbentuk setengah lingkaran, misalnya di halaman rumah, di blandongan (tenda pesta) atau di bale  (panggung) dengan obor sebagai penerangannya, tetapi dengan berkembangnya zaman dan teknologi, tari Topeng Cirebon pada masa modern juga dipertunjukan di dalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya.

2. TUJUAN PAGELARAN
Tujuan diselenggarakan suatu pagelaran tari Topeng Cirebon secara garis besar dibagi kedalam tiga tujuan utama yaitu:

1. Pagelaran komunal, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk kepentingan bersama masyarakat, sehingga hampir seluruh masyarakat ditempat tersebut berpartisipasi dalam pagelaran ini, acara yang dipertunjukan pun sangat spektakuler dengan adanya arak-arakan dalang, atraksi seni dan sebagainya serta digelar lebih dari satu malam, contoh dari pagelaran komunal diantaranya adalah hajatan desa, ngarot kasinoman (acara kepemudaan), ngunjungan (ziarah kubur).

2. Pagelaran individual, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk memeriahkan hajatan perorangan, contohnya adalah pernikahan, khitanan atau khaulan (melaksanakan nazar atau janji).

3. Pagelaran bebarangan, merupakan acara pagelaran keliling kampung yang inisiatifnya datang dari dalang topeng itu sendiri,biasanya dilakukan oleh dalang topeng ke wilayah - wilayah desa yang sudah panen, wilayah desa yang ramai atau datang ke berkeliling di kota dikarenakan desanya belum panen, sedang mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.

3. STRUKTUR PAGELARAN
Struktur pagelaran dalam tari Topeng Cirebon bergantung pada kemampuan rombogan, fasilitas gong yang tersedia, jenis penyajian topeng dan lakon (cerita) yang dibawakannya. Secara umum, struktur pertunjukan tari Topeng Cirebon dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu:

1. Topeng alit, memiliki struktur yang minimalis baik dari segi dalang, peralatan, kru dan sajiannya. Jumlah rata-rata kru dalam struktur pagelaran topeng alit biasanya hanya terdiri dari lima sampai tujuh orang yang kesemuanya bersifat multi peran, dalam artian tidak hanya seorang dalang Topeng saja yang membawakan babak topeng, tetapi para wiyaganya juga ikut membantu dengan memberikan guyonan-guyonan ringan. Dialog dalam topeng alit dilakukan secara spontan berdasarkan situasi yang ada.

2. Topeng gede, memiliki struktur yang lebih besar dan baku jika dibandingkan dari penyajian topeng alit. Hal tersebut dikarenakan topeng gede merupakan bentuk penyempurnaan dari topeng alit, struktur topeng besar diantaranya, adanya musik pengiring (tetaluan) yang lengkap, adanya lima babak tarian yang berurutan seperti panji, samba, rumyang, tumenggung dan klana, adanya lakonan serta jantuk (basihat) yang diberikan pada akhir pagelaran topeng gede.

4. JENIS TARI TOPENG
Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng kelana kencana wungu merupakan rangkaian tari topeng gaya Parahyangan  yang menceritakan ratu Kencana wungu yang dikejar-kejar oleh prabu Minakjingga yang tergila-tergila padanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru ,ewakili karakter yang lincah namun anggun. Minakjingga (disebut juga kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, tempramental dan tidak sabaran. Tari ini merupakan karya Nugraha Soeradiredja.

5. TOPENG PELENGKAP
Pada era sebelum tahun 70-an, menurut Ki Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) terdapat juga topeng-topeng lainnya yang menjadi pelengkap babak dalam pagelaran tari Topeng Cirebon, mereka adalah:

1. Tembem, Patrajaya, Prasanta, Sabdapalon.
2. Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng.
3. Sentingpraya bapaknya Jinggananom (dipercaya sebagai tokoh berdarah Tionghoa).
4. Ngabehi Subakrama ayah Tumenggung Magangdiraja.

Pada era sekitar tahun 60-70-an topeng-topeng pelengkap seperti Sentingpraya masih dipentaskan pada pagelaran dinaan (pagelaran siang) tari Topeng Cirebon, pada periode tersebut menurut Ki Waryo, babak tumenggung Mangangdiraja melawan Jinggananom akan diteruskan adegannya dengan mementaskan adegan Aki-aki perangan dimana tokohnya adalah Sentingpraya, ayah dari Jinggananom, dikarenakan Sentingpraya diwujudkan sebagai seorang tokoh berdarah Tionghoa, maka pada pagelaran tari Topeng Cirebon Sentingpraya disebut juga dengan nama Babah Sentingpraya.

6. PROSES PEWARISAN
Pada tari Topeng Cirebon, yang dimaksud proses pewarisan keahlian adalah mewariskan kemampuan dari generasi yang lebih tua kepada yang lebih muda, proses pewarisan atau pengalihan pengetahuan ini erat hubungannya dengan praktik adat istiadat dalam konteks sebuah desa dan sesuai dengan lingkungan, adat, serta kepercayaan setempat. Secara garis besar proses pewarisan keahlian dalam tari Topeng Cirebon dibagi kedalam dua metode, yakni:

1. Proses pewarisan secara tradisional, proses pengalihan pengetahuan ini biasanya tidak dilakukan melalui pembelajaran yang spesifik, melainkan melalui pengalaman sehari-hari, pengamatan, dongeng-dongeng nenek moyang. Murid dalam proses tradisional ini biasanya selalu mengikuti pagelaran tari topeng yang dilakukan oleh gurunya, sehingga ia dituntut untuk mendengarkan dan melihat apa yang dilakukan gurunya diatas panggung pagelaran, pada proses ini, murid belajar dengan cara mendengarkan, melihat dan kemudian mengembangkan sendiri pola-pola gerakan tari Topengnya miliknya.

2. Proses pewarisan secara modern, proses pengalihan pengetahuan ini biasanya dilakukan di sanggar-sanggar tari milik para dalang Topeng Cirebon, murid tidak hanya mendengarkan dan melihat gurunya mementaskan tari Topeng Cirebon saja, tetapi juga diajarkan pola-pola gerakan yang didapat gurunya secara turun temurun mulai dari kuda-kuda, gerakan tangan, tatapan wajah dan lainnya, sehingga pada proses ini bisanya memunculkan pola gerakan yang kurang lebih sama antara murid yang satu dengan yang lain di dalam satu sanggar tari.

7. PERKEMBANGAN
Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang  dan rebab merupakan ciri khas lain dari tari topeng.

Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya.

Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, indramayu. Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, tetapi ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.


Senin, 06 Januari 2020

Macam-macam Gaya Tari Topeng Cirebon



Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian yang ada di wilayah kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon ini merupakan kesenian asli daerah yang berasal dari Cirebon, termasuk  Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, dan Brebes. Kesenian ini disebut dengan tari topeng karena para penarinya menggunakan topeng pada saat menari. Pada pementasan tari Topeng Cirebon, penarinya disebut sebagai dalang, dikarenakan mereka memainkan karakter topeng-topeng tersebut.

MACAM-MACAM GAYA TARI TOPENG

Pada kesenian tari Topeng Cirebon terdapat beberapa gaya tarian yang secara sah telah diakui secara adat. Gaya-gaya ini berasal dari desa-desa asli tempat di mana tari Topeng Cirebon lahir dan juga dari desa lainnya yang menciptakan gaya baru yang secara adat telah diakui lepas dari gaya lainnya. Endo Suanda seorang peneliti tari Cirebon melihat perbedaan gaya tari Topeng Cirebon antar daerah tersebut dikarenakan adanya penyesuaian selera penonton dengan nilai estetika gerak tarian di atas panggung. Berikut beberapa gaya dari tari Topeng Cirebon:

1. Tari Topeng Cirebon gaya Beber

Tari Topeng Cirebon gaya Beber adalah salah satu dari gaya tari Topeng Cirebon yang lahir di desa Beber, kecamatan Ligung, kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Sejak abad ke 17, awalnya tari Topeng yang ada di desa Beber dibawa oleh seorang seniman dari Gegesik, Cirebon yang bernama Setian, tetapi menurut para ahli Dalang Topeng Cirebon gaya Beber seperti mimi Yayah dan Ki Dalang Kardama yang pertama kali membawa tarian Topeng ke desa Beber dan yang menjadi dalang tari Topeng Cirebon gaya Beber adalah mimi Sonten dan Surawarcita yang masih berasal dari daerah Gegesik sejak itu mulai menurunkan beberapa generasi para seniman.

Babak tarian tari topeng gaya Beber

Pembagian babak pada tari topeng Cirebon gaya Beber menurut Ki Andet Suanda dilakukan dengan berdasarkan pada para interpretasi tentang sifat dan kesadaran manusia itu sendiri.
1. Topeng Panji, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang halus.
2. Topeng Samba, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang sedang tumbuh.
3. Topeng Temenggung, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang sudah dewasa.
4. Topeng Jinggananom + Temenggung, merupakan sebuah penggambaran dari pertarungan antara jiwa yang memiliki nafsu baik dan nafsu jahat
5. Topeng Klana, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang penuh dengan hawa nafsu dan emosi
6. Topeng Rumyang, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang sudah bisa melepaskan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang harum.

2. Tari Topeng Cirebon gaya Brebes

Tari Topeng Cirebon gaya Brebes merupakan jenis tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah kecamatan Losari, kabupaten Brebes  yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa.

Babak Tarian

Tari Topeng Cirebon gaya Brebes menceritakan legenda Joko Bluwo, seorang pemuda petani desa yang berwajah buruk rupa berkeinginan untuk mempersunting putri raja yang cantik jelita bernama Putri Candra Kirana. Dikisahkan, keinginan Joko Bluwo akhirnya dikabulkan sang raja, setelah Joko Bluwo memenuhi syarat yang diajukan Raja.
Namun, di tengah pesta pernikahan, seorang raja dari kaum raksasa yang juga berkeinginan menikahi putri Candra Kirana datang dan membuat kekacauan. Dia mengajak bertarung pada Joko Bluwo untuk memperebutkan sang putri. Joko Bluwo akhirnya berhasil mengalahkan raja raksasa dan hidup bahagia bersama putri Candra Kirana.

3. Tari Topeng Cirebon gaya Celeng

Tari Topeng Cirebon gaya Celeng merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang penyebarannya berpusat di blok (bahasa Indonesia: dusun) Celeng, desa Loh Bener, kecamatan Loh Bener, kabupaten Indramayu.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Celeng

Asal usul gaya Celeng dipercaya dibawa oleh Ki Kartam (seorang ahli dalang wayang dan dalang topeng) dari wilayah Majakerta yang merupakan kakak dari Ki Panggah (yang melestarikan tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara di kabupaten Subang), sementara kedekatan gerak tarian antara gaya Celeng dengan gaya Pekandangan disebabkan mimi Rasinah yang aslinya berasal dari desa Pamayahan,kecamatan Loh Bener, kabupaten Indramayu belajar seni dalang topeng kepada ibu (bahasa Cirebon dialek Dermayu: emak) Suminta, ibu dari Ki Dalang Haji Rusdi dan nenek (bahasa Cirebon dialek Dermayu: Mak tuwa) dari budayawan Cirebon asal Indramayu Ady Subratha, kemudian mimi Rasinah pindah ke desa Pekandangan, kecamatan Indramayu, kabupaten Indramayu dan mempopulerkan tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan, inilah yang menyebabkan ada beberapa gerak tarian yang terkesan mirip antara gaya Celeng dengan gaya Pekandangan

4. Tari Topeng Cirebon gaya Cibereng

Tari Topeng Cirebon gaya Cibereng merupakan ragam tari Topeng Cirebon yang ada di desa Cibereng, kecamatan Trisi, kabupaten Indramayu.
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Cibereng
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Cibereng yang terkenal salah satunya adalah Ki dalang Carpan.

5. Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara

Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang wilayah penyebarannya berada di sekitar kecamatan pegaden hingga ke bantaran sungai Cipunegara yang merupakan perbatasan dengan kabupaten indramayu  Perkembangan kebudayaan di wilayah Cipunegara (termasuk di sebagian besar daerah dataran rendah kabupatem subang) tidak terlepas dari kontribusi masyarakatnya. Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara ini oleh masyarakatnya disebut sebagai tari Topeng Menor, karena kemerduan suara dan kecantikan para penarinya.
Bahasa pengantar yang digunakan dalam pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara ini adalah bahasa Sunda, keunikan yang terjadi semata-mata dikarenakan alkulturasi budaya antara budaya Cirebon dengan budaya Sunda dikarenakan dalam pementasan tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara tersebut juga didatangi oleh masyarakat Sunda yang kurang paham dengan bahasa cirebon  sehingga bahasa Sunda digunakan sebagai bahasa pengantar pementasan agar pesan-pesan yang berusaha disampaikan dalam setiap babak tariannya dapat dengan mudah dimengerti oleh masyarakatnya.

Musik pengiring

Pada tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara, musik pengiringnya justru menggunakan musik-musik Bajidoran yang merupakan seni khas kebudayaan Sunda di kabupaten subang dan kabupaten karawang.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara

Dalang-dalang topeng yang berada diwilayah Pegaden dan Cipunegara bisa dikatakan seluruhnya merupakan keturunan dari Dalang Panggah. Dalang Carni dan Dalang Ratem merupakan dua orang dalang dari wilayah Cipunegara yang hingga kini masih terbilang aktif melestarikan gaya Cipunegara.

6. Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik

Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik memiliki daerah penyebaran di sekitar kecamatan Gegesik, kabupaten Cirebon. Pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yang paling terlihat berbeda adalah raut karakteristik topengnya. Topeng Panji pada gaya Gegesik digambarkan dengan karakteristik wajah berwarna putih dengan raut tenang, mata sipit dengan tatapan yang selalu merunduk tajam, hidung mancung dan senyum yang terkulum.
Perubahan yang terjadi pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik kebanyakan dipengaruhi oleh struktur masyarakat urban serta berperannya sekolah kesenian, modernisasi, peristiwa, politik dan perubahan pandangan pewaris topeng. Perubahan tari Topeng Cirebon gaya Gegesik terutama terjadi pada cara dan bentuk penyajiannya, sehingga pada masa itu pertunjukan topeng dicampur dengan dangdut atau yang oleh masyarakat disebut sebagai topeng-dangdut.

Musik pengiring

Lagu atau musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gegesik berikut nama-nama musik pengiringnya :
1. Tetaluan, dikenal juga dengan nama gagalan merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
2. Kembang Sungsang, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Panji.
3. Singa Kawung, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Samba.
4. Tumenggungan, atau dikenal dengan nama bendrong merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Tumenggung atau Patih.
5. Kembang Kapas, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Rumyang.
6. Gonjing, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Klana.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Gegesik

Di wilayah kecamatan Gegesik juga terdapat banyak dalang topeng, para dalang tersebut kebanyakan berasal dari keturunan para maestro tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yaitu Mutinah, Lesek dan Jublag. Keturunan dalang Mutinah yang bisa ditelusuri adalah dalang Juniah, sementara keturunan dalang Lesek adalah dalang Sumarni dan yang terakhir keturunan dalang Jublag adalah dalang Baerni dan Baedah yang keduanya masih dapat dikatakan aktif walau sudah sangat jarang diundang tampil di masyarakat.

7. Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan

Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan tersebar disekitar kecamatan Palimanan dan sekitarnya.

Musik pengiring

Musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan diantaranya adalah ;
1. Kembang sungsang, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Panji
2. Gaya-gaya, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Samba, kata Gaya-gaya diambil dari gerakan watak Samba yang lincah dan banyak tingkah.
3. Malang totog, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Tumenggung. kata Malang totog berarti Belalang yang sedang menotog yang diambil dari ekspresi dalam gerakan dalang Topeng yang sedang meniru gerakan Malang (Belalang).
4. Bendrong, merupakan tetaluan  yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Jingga Anom dan babak akhir yaitu Klana Udeng.
5. Gonjing, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Klana
6. Kembang kapas, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Rumyang
Sesepuh tari Topeng Cirebon gaya Palimanan berasal dari wilayah timur kabupaten Cirebon  tepatnya di wilayah kecamatan Astana Japura, kabupaten Cirebon.

Babak tarian

Babak tarian yang dibawakan pada gaya Palimanan hampir serupa dengan yang ada pada gaya Beber dan Randegan namun dengan penambahan babak Klana Udeng sebagai akhir dari pagelarannya.
Klana udeng, gerak tarinya perpaduan semua gerak tari lima wanda (babak Topeng) namun dengan menambahkan gerakan yang belum sempat ditarikan di topeng lima wanda tersebut, babak Klana Udeng dipentaskan dengan tidak menggunakan sobra namun dengan menggunakan Udeng (bahasa Indonesia: iket kepala)
Selain lima babak yang ada biasa ditampilkan, menurut Ki Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) pada masa lalu di dalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu yang dibuktikan dengan keberadaan topeng ini yang tersimpan pada dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
Gerakan tari Sunti
Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan memiliki ciri khas pada berbagai macam posisi berdiri yang diciptakan oleh dalang Wentar, posisi-posisi tersebut disesuaikan dengan postur tubuh dan kepantasan penarinya, ditambah dengan penafsiran yang berbeda dalam meresapi watak dalam cerita topeng, membuat gerakan tarian Topeng gaya Palimanan ini berbeda.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan

‌Para dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan sebagian besar merupakan keturunan dari dalang Wentar, Ki Dalang Wentar mempunya beberapa orang anak diantaranya Mimi Mini, Mimi Ami, Ki Dalang Saca, Mimi Nesih dan Mimi Soedji, di antara keturunan dari Wentar yang terkenal adalah Tursini anak dari dalang Soedji seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan. Beberapa keturunan dalang Wentar tidak hanya berdiam di kecamatan Palimanan saja. namun menyebar ke wilayah lainnya terutama kabupaten Majalengka. Dalang Sukarta yang kini tinggal di desa Bongas, kecamatan Sumber Jaya, kabupaten Majalengka, merupakan salah satunya, dalang Sukarta merupakan keturunan Ki Wentar dari jalur Mimi Mini, anak Mimi Mini yaitu Mimi Ina yang kemudian menikah dengan Ki dalang Entang dari desa Balad, kecamatan Dukupuntang, kabupaten Cirebon merupakan ibu dan ayahnya, sehingga Ki Dalang Sukarta sekaligus menjadi cucu bagi Ki dalang Saca (anak dalang Wentar) dan dalang Soedji yang merupakan saudara neneknya yaitu dalang Mini. dalang lain yang terkenal dari gaya Palimanan adalah Ki dalang Ade Irfan.
















Sabtu, 04 Januari 2020

TARI TOPENG CIREBON BERTAHAN DARI KEPUNAHAN

Hallo sahabat literasi... Selamat datang di halaman aku. Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Hal penting menyangkut sejarah tari topeng Cirebon. Point penting nya, ternyata tari topeng Cirebon telah bertahan dari masa kepunahan loh. Hebat bukan? Dan kira-kira apa ya upaya yang menjadi daya tahan tari topeng menghadapi kepunahan nya itu? Penasaran kan?? langsung aja yukk scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

 10. TARI TOPENG CIREBON BERTAHAN DARI KEPUNAHAN




     Tradisi yang ada pada tari topeng sudah tidak sama dengan waktu ketika Pak Sujan menari dulu. Selain banyak orang yang hanya asal bisa menarikan dan tuntutan masyarakat agar tari topeng diubah atau dimodifikasi, ternyata ada banyak tata cara dan tradisi yang harus dihilangkan mengikuti arahan pemerintah. Ada tiga hal yang harus diubah oleh Sujana beserta kelompok tarinya, yaitu ketentuan tidak boleh ngamen dari rumah ke rumah atau lazim dikenal dengan istilah bebarang, tidak boleh pakai kaus kaki ketika menari, dan harus mengganti baju berwarna hitam dengan baju yang lebih meriah. Menyebarkan agama.

     Pada awalnya, tari topeng digunakan untuk menyebarkan agamadengan datang ke rumah seseorang dengan mengharapkan pemilik rumah bisa membawakan doa syahadat. Namun dalam perkembangannya, pembacaan syahadat memang tidak dikembangkan lagi, tapi diganti dengan bebarang ketika musim panen padi tiba. Bila musim panen tiba,Sujana dan kelompok tarinya datang dari rumah ke rumah untuk mengamen. Ketika itu, merekadibayar dengan padi sistem bakdeng, satu bedeng atau sekitar 30 kilogram padi untuk satu babak. Selain itu, pemakaian kaus kaki putih juga dilarang. Pasalnya, pemerintah menganggap kaus kaki putih adalah simbol orang-orang penganut komunis. Padahal, kaus kaki tersebut merupakan simbol kesucian seseorang, lebih dari sekedar aksesoris. Seorang dalang yang akan menari harus suci hati dan pikirannya. Dalam hal ini disimbolkan dengan kaus kaki berwarna putih. Sedangkan aturan baru lainnya adalah perihal baju yang harus dibuat lebih berwarna, tidak polosan dengan warna hitam. Padahal awalnya, warna polos itu menyimbolkan kesederhanaan bagi dalangnya agar nantinya para penonton tari tersebut dapat meniru cara hidup sederhana. "Saya waktu itu sampai sekarang ikut saja. Padahal, saya tahukalau diubah, pastinya ada pesan tertentu yang akan hilang. Tapi mau bagaimana lagi namanya juga orang takut," ujar Sujana Arja. Akan tetapi, gagasan perubahan yang digulirkan tidak sejalan dengan nasib tari topeng Cirebon.


Akhir-akhir ini, sajian tari topeng Sujana beserta kelompok tari Panji Dharma mulai ditinggalkan masyarakat. "Terakhir kali menerima order bayaran Rp 30 juta. Tapi sekarang uangnya sudah habis karena harus dibagi rata dengan personel lainnya yang jumlahnya sekitar 30orang. Kalau sudah begitu, saya terpaksa utang tetangga karena sudah tidak ada yang tersisa dari saya untuk membiayai hidup sehari-hari," katanya. Harus bersaing Menurut Inu Kertapati-dalang tari topeng lainnya-berbeda dengan dulu, setiap hari selalu saja ada orang yang memintanya untuk menarikan taritopeng. Baik khitanan, pernikahan, maupun selamatan rumah, biasanya tari topeng selalu hadir dan diminati masyarakat. 
    " Kami sangat sadar kalau sekarang kami harus bersaing dengankesenian yang kata orang lebih baru seperti modern dance atau organ tunggal.Tapi apakah suatu kesalahan bila kami ingin tetap pertahankan tradisi turun-temurun ini" ujar Inu, anak ketiga dari Sujana Arja. Selain itu, menurut Inu,kepunahan tari topeng bisa saja lebih cepat terjadi. Pasalnya, selama ini tari topeng Cirebon hanya ditampilkan pada waktu tertentu. Akibatnya minat dan pengetahuan masyarakat terhadap tari topeng semakin berkurang. 
     Tari topeng biasanya hanya muncul saat even kejuaraan dan acara yang diselenggarakan pihak Keraton di Cirebon. Di luar itu, tari topeng masih sulitditemukan. Biaya yang mahal dan adanya kesenian lain yang lebih modern membuat masyarakat mulai meninggalkan tari topeng Cirebon. Kesenian di Jawa Barat setidaknya memiliki 35 rumpun seni, yang terdiri dari 391 jeniskesenian. Dari jumlah itu, 100 jenis kesenian berkembang di masyarakat, 39 diantaranya sangat berkembang. Kesenian yang sangat terkenal di Jabar adalah Jaipongan. Kesenian ini berkembang, antara lain di kota Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Majalengka dan Bekasi. 
     Kesenian lain yang menjadi ciri khas Jabar adalah tembang sunda,tayub, wayang golek, reog, calung, angklung/arumba, dan sintren. Di wilayah Cirebon terkenal dengan kesenian topeng Cirebon, tarling, gembyung, danwayang kulit. Sementara untuk daerah Kuningan dan Indramayu jenis kesenian seperti sandiwara, sintren, kuda lumping juga berkembang baik. Sementara di Sukabumi, potensi seni yang ada antara, lain uyeg, cador, kliningan, kecapi suling, calung, debus, dan ketuk tilu. Adapun kesenian yang berkembang di Karawang dan Subang, antara lain bajidoran, dombret, dan kesenian sisingaan. Jumlah seniman di Jabar sebanyak 49.023 orang dan hingga kini masih aktif. 

Nahh gimana nih sahabat literasi sekarang paham kan? 
Semoga pemaparan tadi menambah ilmu pengetahuan kita semua ya. Untuk itu jangan bosan untuk membaca ya. Karena dari membaca kita menjadi tau lohh. 
Sekian dulu pemparan kali ini ya, semoga bermanfaat untuk kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangannya. Saran dan komentar nya aku tunggu ya. Terimakasih dan sampai jumpa sahabat literasi. Semoga hari-hari kalian selalu manis:)



Serupa Namun Tak Sama, inilah 5 Perbedaan Tari Topeng di Nusantara




Assalamuaalaikum wr.wb teman-teman semuanya!

Balik lagi nih sama saya kali ini saya akan membahas artikel tentang perbedaan tari topeng dari berbagai daerah. Oke langsung saja ya, selamat membaca!

Indonesia merupakan surga bagi budaya dan setiap jengkal dari Indonesia memiliki adat istiadat yang unik dan berbeda-beda setiap daerahnya loh!. Nah, dari adat istiadat dan budaya tersebut terurai kembali jadi ragam seni yang sangat memukau. Seni Tari adalah salah satunya. Sudah bukan rahasia lagi jika negara ini punya banyak sekali tarian yang memiliki gerakan-gerakan memukau. Terlihat sederhana tapi penuh makna.

Tari Topeng – Indonesia adalah Negara yang kaya akan kebudayaan tradisional. Negara yang mempunyai kesenian tradisional yang sangat beragam, seperti tarian-tarian daerah. Tarian pada setiap daerah memiliki keunikan sendiri-sendiri. Salah satu tarian asli dari Indonesia yang cukup unik adalah Tari Topeng.

Salah satu tari yang jadi ciri khas Indonesia adalah tari topeng. Eits, jangan salah, di antara tari-tari yang lain bisa dibilang tari topeng nusantara ini paling punya variasi yang sangat beragam. Terganung dari siapa dan dari mana sang penari berasal. Tari topeng yang berasal dari Jakarta akan jauh berbeba dengan tari topeng yang berasal dari Bali. Begitu juga tari topeng yang berasal dari Cirebon akan jauh berbeda dengan tari topeng yang berasal dari Magelang. Kekayaan itu lah yang mesti kita pelajari. Setidaknya kalau kita tak sempat belajar menari, kita bisa mengerti perbedaan-perbedaan tari topeng dari satu daerah dan daerah lain. Nah, karena itulah saya akan coba sajikan beberapa macam tari topeng nusantara dari berbagai daerah di indonesia, supaya kamu dapat membedakan tari topeng yang satu dan yang lain.

1. Tari Topeng Betawi

Kita mulai dari Ibukota Jakarta dahulu ya. Masyarakat Betawi memang memiliki kesenian tari tradisional yang cukup termasyhur di Indonesia. Selain kesenian Lenong, kesenian Tari Topeng juga masuk ke dalam list budaya unggulan orang-orang betawi. Tari Topeng Betawi biasanya dimulai dengan alunan musik yang dimainkan. Setelah itu para penari masuk dalam keadaan sudah mengenakan topeng. Topeng-topeng ini disematkan diwajah dengan cara digigit. Mereka menari sesuai dengan tema yang dibawakan. Mulai dari legenda, kritik sosial, sampai dengan kehidupan masyarakat. Tari ini memang seperti memiliki cerita.  Kini Tari Topeng Betawi banyak dipentaskan sebagai pertunjukan budaya. Keunikan dan kekayaan gerakan membuat tarian ini tetap digemari oleh masyarakat sekitar.

2. Tari Topeng Bali

Lalu kita beranjak ke pulau Dewata. Pulau seribu wisata ini juga menyimpan banyak sekali keanekaragaman budaya. Salah satunya Tari topeng Bali. Tari topeng Bali adalah salah satu daya pikat bagi provinsi yang beribukota di Denpasar itu. Nah, Tari Topeng Bali ini mirip dengan pagelaran drama, yakni ada jalan ceritanya. Meski begitu semua dilakukan dengan menggunakan gerakan. Terlebih, Tari Topeng Bali ini memang memiliki alur cerita tersendiri. Biasaya ada seorang narator yang menjabarkan tentang lakon cerita tari topeng Bali ini. Seorang yang berperan menjadi narator juga harus mengenakan topeng. Tapi ada perbedaan antara topeng yang digunakan oleh narator dengan topeng yang digunakan oleh penari, bedanya topeng yang dipakai oleh narator ini adalah topeng separuh wajah saja. Nah, Tari Topeng Bali ini dimainkan dengan menggunakan latar belakang alat musik gamelan. Penggunaan topeng dalam tarian khas Bali ini adalah sebagai wujud dari pemujaan untuk para leluhur masyarakat Bali. Setiap kali tari topeng bali ini dipentaskan, maka jaminannya adalah banyaknya penonton yang hadir untuk menikmati acara pementasan tari topeng Bali ini.

3. Tari Topeng Cirebon

Kota udang ini juga memiliki kesenian dalam bidang pementasan tarian yang menggunakan properti topeng. Bahkan bisa dibilang kesenian tari topeng menjadi tontonan budaya andalan yang ada di Kota paling timur Jawa Barat ini. Tari Topeng Cirebon memang memiliki banyak sekali variasi. Mulai dari variasi daerah sampai dengan variasi topeng. Ya, gerakan tarian topeng ini ditentukan dari topeng apa yang akan dipakai. Ada lima macam topeng yang biasanya dikenakan yaitu:  Topeng Panji, Topeng Patih, Topeng Rumiyang, Topeng Samba dan tentu saja yang paling terkenal adalah Topeng Kelana. Kelima topeng tersebut memiliki filosofinya masing-masing. Filosofi itu akan masuk pula dan memengaruhi gerakan pada tarian. Kesenian tari Topeng Cirebon juga pernah di tulis oleh Thomas Stamford Rafflesh dalam bukunya yang berjudul The History of Java.

4. Tari Topeng Magelang

Kota Magelang juga punya karya tarinya tersendiri juga, salah satunya adalah tari topeng yang menjadi bagian dari kota Magelang yang tidak bisa dilepaskan. Tari Topeng Magelang atau biasa orang menyebutnya juga Tari Topeng Ireng adalah tarian yang dilakukan dengan beramai-ramai, bisa sampai 10 orang atau lebih. Salah satu daya pikat dari tari topeng ini adalah kostum yang dipakai oleh para penari. Benar-benar di luar pakaian atau kostum Jawa. Kostum yang dipakai ini justru lebih identik dengan pakaian dari adat suku Dayak di Kalimantan. Nah, Tari Topeng Magelang ini adalah sebagai sarana hiburan bagi masyarakat sekitar. Jika tari ini sudah mulai menetas, maka keriuhan akan terjadi. Dalam tarian ini, mulut para penari akan berteriak-teriak dengan kencang. Kaki mereka para penari yang sudah disematkan benda seperti gelang akan terus dihentakkan sehingga timbul suara gemerincing yang berisik. Belum lagi tepukan tangan dari para penonton sebagai apresiasi. Tari Topeng Magelang ini memang selalu seru untuk ditonton pertunjukannya.

5. Tari Topeng Malang

Kota Apel ini juga memiliki kesenian khas tari bertopeng. Kota yang terletak di Jawa Timur ini memiliki kesenian Tari Topeng Malangan. Tari topeng ini juga memiliki alur cerita seperti halnya dengan tari topeng yang berasal dari Bali. Tapi, jika dilihat tari ini juga mirip dengan kesenian adat Jawa lain yaitu wayang orang. Ya, dalam Tari Topeng Malangan, terdapat seorang dalang yang mengatur jalan cerita. Selain itu, ada empat sesi untuk mementaskan tarian ini. Sesi pertama adalah Gending Giro. Sesi ini adalah sesi di mana alat musik seperti gamelan dimainkan. Gending giro dilakukan untuk mengundang masyarakat untuk menyaksikan. Kedua ada salam pembukaan. Sesi ini dilakukan untuk menceritakan sinopsis dari lakon yang akan dimainkan oleh para penari. Ketiga ada sesajen. Hal ini adalah ritual permohonan agar acara bisa berjalan dengan baik. Dan yang keempat adalah acara inti dari pagelaran. Meski unik dan terbilang cukup epic, Kesenian asli Malang ini kini mulai sepi pementasan dan terancam akan punah. Karena itu, sudah selayaknya sebagai masyarakat asli Indonesia kita turut melestarikan dan menjaga agar segala budaya kita dapat terus abadi.

Nah... Gimana nih teman-teman sudah tau kan perbedaannya.. terimakasih sidah membaca..

Wassalamualaikum wr.wb

Jumat, 03 Januari 2020

Mari mengenal sosok Maestro hebat dibalik lestarinya Tari Topeng Cirebon

Hallo sahabat literasi... Kembali lagi sama aku hehe.  Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Ternyata dibalik lestari nya tari topeng, ada pencipta-pencipta hebat dibalik nya lohh. Atau masyarakat biasa menyebutnya "Maestro". Nahh betul bangett, kali ini aku mau mengajak sahabat literasi untuk lebih mengenal dengan salah satu Maestro hebat Cirebon nihh. Penasaran bagaimanakah sosok di balik nya?? langsung aja yukk scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

8. BELAJAR DARI MAESTRO TARI TOPENG CIREBON



     Setiap kali ada seseorang yang hingga akhir hayatnya tetap kukuh memilih dunianya menjadi bagian dari "ritus kehidupan", setiap kali ada seseorang yang selama hayatnya meletakkan hampir seluruh kreativitasnya menjadi representasi dari segenap "totalitas kehidupan", setiap kali pula seseorang itu, tanpa pamrih, dengan tulus mengajarkan serta merelakan dirinya hanya untuk kesenian dan berdiri sebagai seniman yang dengan karya-karyanya sebuah bangsa, di antara sekian karya yang lain, ditahbiskan berbudaya dan memiliki spirit peradaban. Adakah kita bisa meletakkan kembali penghormatan dengan secercah ketulusan yang sama?Saya kira, kita --siapa pun kita pada konteks maknanya yang diperluas dalam posisi sebagai pejabat negara, politisi, pengusaha atau apa pun--kesulitan untuk menjawab esensi pertanyaan tadi dengan baik. Bahkan ada berbagai pertanyaan serupa yang sama sekali kita tidak bisa memberi jawaban tepat. Seperti halnya pertanyaan berikut, apakah peran seniman memang senantiasa berada di luar hiruk-pikuk kebijakan negara? Apakah karya-karya seni tidak menjadi bagian signifikan dalam subsistem wacana kebudayaan suatu pemerintahan? Seniman, terlebih pada mereka yang memilih genre seni tradisi lengkap dengan membawa khazanah lokal yang menjadi bagian substantif di dalamnya,  tampak mengalami dilema di sana-sini dalam menghadapi perubahan zaman. Sejumlah seni tradisi yang merupakan "ikon" dan "akar"  dalam konstruk budaya tradisional masyarakat, kita tahu, berada pada posisi marginal dan feriferal. Dan, ironisnya, justru seni-seni tradisi yang semula menjadi simbol dalam penyeimbang (equilibrium) seni-seni yang dinilaisebagai sentral (adiluhung).

Kematian yang Sunyi
     Sujana Arja, atau akrab dipanggil Mang Jana, adalah maestro penaritopeng yang Senin (10/4/2006) baru saja wafat dengan usia di atas 70 tahun. Suatu kematian yang sunyi yang menyisakan jejak panjang silsilah dari salahsatu dinamika, stilistika, maupun estetika tari topeng Cirebon: bagaimana taritopeng "gaya Slangit" membentuk dirinya dan mempertahankan eksistensinya sekaligus. Bahkan dengan keteguhan seperti itu, ia tidak peduli apakahnegaranya memberi perhatian terhadap salah satu warisan seni tradisi bangsanya atau tidak; apakah pemerintah daerahnya memahami atau tidak, bagaimana seharusnya menyusun grand strategy apa yang diklaim para birokrat sebagai "pelestarian" seni tradisi. 
     Sujana dengan kehidupan yang sangat sederhana mampu bertahan untuk tidak bergeser sedikit pun dari pengabdian hampir seluruh gerak dirinya pada khazanah seni tradisi tari topeng yang diwariskan keluarga besar maestro penari topeng Arja. Sejak 1973, Sujana berlatih, mengajarkan lima wanda taritopeng dan menempati sanggar tari Panji Asmara yang berada di pengujung utara desa Slangit yang kiri-kanannya masih berupa semak perdu, rumpun bambu, jalan setapak, dan hamparan sawah. Kecuali menari, ia tidak pernah memilih profesi selainnya, apalagi sekadar untuk menyelesaikan yang primer dan sekunder dalam kehidupannya selama ini. Sujana telah melanjutkan proses regenerasi dan genealogi dari cikal- bakal tari topeng Cirebon. Bersama dengan beberapa tokoh tari topeng segenerasinya seperti, Sawitri (gaya Losari), Tarwi (Kreo), Sudji dan Dasih(gaya Palimanan) mengukuhkan tari topeng Cirebon dengan gaya masing-masing. Sehingga meninggalnya almarhum Sujana, menandai berakhirnya generasi kedua tari topeng Cirebon yang kini, mau tidak mau, diteruskan anak-cucu mereka. Tradisi tari topeng seperti seni-seni tradisi lain, mungkin agak mirip dengan perguruan shaolin yang memiliki keniscayaan untuk melahirkan sejenis "pendekar" sebagai generasi penerus yang eksploratif, andal, kukuh, teguh dalam menerima seluruh estafet dari dalam pepakem seni tradisi tersebut. Setidaknya, jika generasi tari topeng Slangit pasca-Sujana tidak segera menata berbagai instrumen dalam perjalanannya ke depan akan menghadapi tantangan budaya global yang mereduksi pandangan publiknya sedemian rupa. Dikhawatirkan tari topeng Cirebon yang tumbuh dengan latar serta beragama gaya yang bertolak dari eksplorasi maupun improvisasi tokohnya akan kehilangan generasi (lost generation). Sehingga beberapa gaya tari topeng Cirebon yang pernah tumbuh pada beberapa daerah dengan beragam gaya,sebut saja Kalianyar, Gegesik, Palimanan, Babakan, Kreo, dan Gujeg, tampak "ditinggalkan" generasi penerusnya. Tari topeng "gaya Slangit" --diambil dari muasal nama desa tempat proses kreatif keluarga besar maestro tari topeng Arja (ayahanda dan pendahulu Sujana) sebagai Generasi Pertama-- menjadi tonggak penting bagisembilan anak-anaknya; Sutija, Suwarti, Suparta, Sujaya, Sujana, Rohmani, Roisi, Durman, dan Keni, yang semuanya berhasil menjadi penari topeng. Meski dari ke sembilan anaknya, Sujana yang kelak tampil dan dikenal publik luas sebagai seorang maestro. Sujana memulai proses kreatifnya untuk menjadi maestro sejak berusia 10 tahun yang mengikuti
bebarang (ngamen) bersama ayahnya. Kemudian atas prakarsa Pangeran Patih Ardja dari Kesultanan Kanoman, sekitar tahun 1940-an, keduanya tampil dalam berbagai perhelatan ritual tradisi dilingkungan keraton. Pada usia 17, Sujana dilepaskan secara mandiri untuk menerima tanggapan (order hajatan) dan melakukan bebarang hingga ke luar daerah (Indramayu, Majalengka Sumedang, Bandung, Garut, Cianjur, Banten)sebagai bagian dari proses manunggaling lelaku (menyatukan jiwa-ragadengan filosofi tari topeng dalam konteks kehidupan) --yang tidak dapat ditempuh melalui intellectual exercises dari wilayah dan norma-norma akademis. Karena itu, kita yang pernah menyaksikan pementasan Sujana, Sawitri, Sudji, Dasih atau Mimi Rasinah maestro penari topeng dari Pekandangan Indramayu tampak kekuatan tarian yang melampaui fase-fase "batasnalar" dari kelincahan gerak penari yang memasuki usia uzur. 
     Energitas dan kreativitas menyatu dengan spiritualitas ruh penciptaan. Begitu juga totalitasdan sinergitas menemukan ruang batin: di mana ekstase menyusun makna nya yang transenden dan tidak lagi samar-samar tersembunyi. Hampir para maestro yang membuka ruang batinnya untuk selalu berada pada kosmos pergulatan kreatif akan memperlihatkan puncak dimensi penciptaan ruhani yang dahsyat dan menakjubkan. Dan, Mang Jana dalam sebuah percakapan kecil dengan penulis, menolak persepsi yang semata mengacu pada asumsi akademis yang menilai pencapaian transenden dapat dimanipulasi melalui pemahaman sains, tanpa memasuki proses logosentrisme yang menjadikan seniman berada dalam fase pemahaman empirik-kognitif (ngangsu kaweruh). Dalam perspektif inilah, Sujana hendak menegaskan bahwa proseskreatif yang hanya kukuh sebatas asumsi-asumsi akademis, berakhir dalam pemahaman formalnya sendiri: tari topeng akan lebih tampak sebagai pola- pola gerakan ritmis yang penuh citraan (images) gerak tubuh dalam filosofi makna dan tata aturan bunyi gamelan. Namun kehilangan ruh pencitraannya sendiri, yang menyebabkan gerakan-gerakan tarian tampak ringan dan mekanik. Melalui proses panjang
manunggaling lelaku dan ngangsu kaweruh, seorang penari topeng akan menemukan titik pencitraan berbagai dimensi penciptaan yang bersenyawa dengan totalitas jiwa-raga. 

Pribadi yang Tulus
     Dalam kurun waktu cukup panjang dan berliku, Sujana Arja, empu taritopeng Slangit itu, telah menyiratkan dirinya menjadi pribadi yang tulus. Ia bukan saja berdiri sebagai seorang maestro, melainkan juga guru untuk  banyak muridnya (dalam dan luar negeri) yang sungguh-sungguh telah mengabdikan serta mengabadikan kehidupannya pada seni tradisi. Meski, ia tahu, dengan sikap penuh-seluruh, terlebih lagi ia sadari tanpa jaminan hari tua dimanapun termasuk pemerintan seorang seniman justru akan terus berada dalam suasana "mencipta".


Gimana nih sahabat literasi? Hebat bukan? Nah kesimpulan dari artikel di atas, kita sebagai generasi penerus bangsa, apalagi pribumi kota udang sendiri, ayoo lanjutkan dan lestarikan tradisi seni tari topeng yang telah diwariskan para nenek moyang kita. Dengan niat dan semangat berlatih, kita semua pasti bisa mengenalkan dan membawa tradisi seni tari topeng ini hingga kanca internasional. Terus belajar ya!! 
Untuk pemaparan kali ini, sekian dulu yaa. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan sahabat literasi dimanapun berada. Oh iya, mohon maaf jikalau ada padanan kata yang kurang tepat karena masih proses belajar hehe.. Saran dan komentar nya ditunggu yaa. Terimakasih dan sampai jumpa di halaman aku selanjutnya.
Jangan lupa senyum hari ini:)


TANDA TANYA BESAR DI BALIK PESONA TARI TOPENG CIREBON?

 Hallo sahabat literasi... Kembali lagi sama aku hehe.  Kali ini aku mau ngasih tau nihh. Ternyata tari topeng Cirebon memiliki pesona nya tersendiri loh.. Penasaran bagaimanakah pesona di balik nya?? langsung aja yukk scrool ke bawah yaa.. Selamat membaca sahabat literasi... 

8. PESONA DI BALIK TARI TOPENG CIREBON



     Sudah lama tari Topeng Cirebon mengundang tanda tanya akibat daya pesonanya yang tinggi, tidak saja di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Tari Panji, yang merupakan tarian pertama dalam rangkaian Topeng Cirebon,adalah sebuah misterium. Sampai sekarang belum ada koreografer Indonesiayang mampu menciptakan tarian serupa untuk menandinginya. Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”. Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka iamerupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakikidiam. Bagi mereka yang kurang peka dalam pengalaman seni, tarian ini akan membosankan. Inilah teka-teki Tarian Panji dalam Topeng Cirebon. 
     Bagaimana penduduk desa mampu menciptakan tarian semacam itu? Penduduk desa yangtersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. 
Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dulu memeliharanya. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status “pegawai” olehGubernur Jenderal Daendels, dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi, maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para abdi dalem Keraton terpaksa dibatasi sampaiyang amat diperlukan sesuai dengan “gaji” yang diterima Raja dari Pemerintah Hindia Belanda. Begitulah penari-penari dan penabuh gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” TopengCirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”. Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.

Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan?
     Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dandipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budayaTopeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiriyang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.

Siapakah Empu pencipta tarian ini?
     Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulisdikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastra nya saja. 

Di zaman mana? 
     Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menaritopeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Taritopeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja,ibu mertua raja, ibunda raja).Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. 
     Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian iniatau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kakiGunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton. Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai diKeraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya,tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. 
     Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian dari Sang Hyang Tunggal. 

Untuk pemaparan kali ini, sekian dulu yaa. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan sahabat literasi dimanapun berada. Oh iya, mohon maaf jikalau ada padanan kata yang kurang tepat karena masih proses belajar hehe.. Saran dan komentar nya ditunggu yaa. Terimakasih dan sampai jumpa di halaman aku selanjutnya.
Jangan lupa senyum hari ini:)


Selasa, 24 Desember 2019

NILAI ESTETIK TARI TOPENG




Assalamualaikum wr.wb halo teman-teman semuanya! Kali ini kita bakal ngebahas apa aja sih nilai estetika dari tari topeng ini...
mau tau? Yuk kita baca...

Topeng merupakan benda yang dipakai di atas wajah. Pada umumnya topeng dipakai untuk mengiringi musik kesenian daerah yang melambangkan nilai-nilai penghormatan, sesembahan atau memperjelas watak serta karakter dalam mengiringi kesenian. Topeng telah ada di Indonesia sejak zaman prasejarah. Secara luas digunakan dalam tari topeng yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur.
Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Pada masa modern saat ini topeng merupakan salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, namun sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit diterjemahkan dengan bahasa logika.
Sama halnya dengan topeng Cirebon Jawa barat, terbuat dari kayu hasil bumi hutan Cirebon seperti kayu pule dan kayu sengon yang memiliki kriteria lunak dalam pengerjaannya awet dan kuat, akan tetapi harus membutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta waktu yang cukup dalam proses penciptaannya. Secara turun temurun kerajianan khas topeng Cirebon yang merupakan hasil kebudayaan Kota Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok, topeng atau penutup wajah. Sejarah menunjukkan kemunculan seni karya Topeng Cirebon di mulai pada masa kesultanan Cirebon yang bermuatan seni bernafaskan ajaran agama islam dan dipergunakan untuk kepentingan dakwah.
Menurut literatur, Topeng Cirebon merupakan gambaran sangat puitik mengenai hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangan berbeda-beda sifatnya.
Topeng Cirebon pada awalnya berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon dengan cepat mengalami transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaan yang terjadi pada saat ini, yakni berkembangnya berbagai gaya Topeng Cirebon seperti, Losari, Selangit, Kalianyar, Kreo, Palimanan serta berkembang di pelosok-pelosok Kecamatan Klangenan, Plumbon, serta Arjawinangun.
Topeng Cirebon dikenal sebagai Panca Wanda (Lima Rupa) yang merupakan alat bantu Tarian Topeng Cirebon. Berdasarkan kepercayaan dari sejarah dan budaya Cirebon, Topeng Babakan Lima Wanda memiliki fakta-fakta yang dapat diukur dengan pendekatan spiritual dan sifat-sifat manusia di Cirebon, sehingga di dalamnya memiliki muatan makna keilmuan yang dimiliki oleh peradaban budaya asli Cerebon seperti yang pernah kita bahas sebelumnya... pada masing - masing topeng memiliki arti dan makna yag berbeda - beda.
Simbol yang kuat dalam karekter penciptaan Topeng Cirebon adalah bentuk nyata dari ragam penciptaan semesta berdasarkan kepercayaan Indonesia purba dimasa peradaban Hindu-Budha-Majapahit, yang mampu memahami segala bentuk dari ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal, yang telah menyempurnakan umat manusia di muka bumi ini. Secara khusus, Topeng Cirebon membangun pahamisme dari diri manusia itu sendiri tentang gambaran yang sangat puitik, dari hadirnya alam semesta serta umat manusia. Kemudian ditangkap oleh akal manusia bahwa, Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya, bergerak lambat dan pasti mampu menghasilkan kolaborasi seni dari rupa berkarakter unsur kemanusiaan, yang tersusun dari kerajianan seni berbentuk topeng yang dikenal saat ini dengan penggambaran yang sangat menarik.

Implementasi nyata yang dikembangkan dalam dimensi Topeng Cirebon yang dikomunikasikan kepada masyarakat adalah dengan menggunakan media pendukung seperti olah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu, diiringi oleh tetabuhan atau bunyi-bunyian, dan disebut musik sebagai pengiring gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan oleh para penari. Ekspresi tari yang terbalut dengan karakter penokohan topeng menjadi alat utama komunikasi untuk menyampaikan pesan sakral dan yang mampu menjiwai diseluruh benak para penikmat seni olah gerak tari topwng ini.

Rekontruksi Topeng Cirebon dilihat dari kacamata sejarah dan budaya, tidak terlepas dari unsur kesenian tari. Dapat dipastikan bahwa, serpihan-serpihan tarian yang saat ini ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Artinya gerakan tari bermuatan dari unsur karakter penokohan yang terdapat dalam penjiwaan bentuk topeng tersebut sehingga, simbol yang memadukan unsur tari dan seni musiknya tidak terlepas dari dimensi keharmonisasian wajah topeng yang di komunikasikan kepada publik diatas pentas seni khasa kecirebonan.

Tari Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sangat sakral. Bukanlah sebuah hiasan semata saja ataupun sekedar tontonan maupun hiburan rakyat tapi, berdasarkan catatan kitab-kitab lama seperti Babatan Jawa menjelaskan bahwa dimana ketika seni tari di pertunjukanan didalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya di kalangan bangsawan kerajaan, dan untuk menarikan topeng ini diperlukan pula laku puasa, pantangan, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

Sejak terciptanya Tari Topeng Cirebon, dimasa lalu menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh kalangan bangsawan atau kerajaan.

Namun, di zaman modernisassi saat ini, kesenian khas kota Cirebon terwariskan secara alamian dan tu.topeng Cirebon ini, telah mampu membangun sistem ekonomi kelompok seni yang telah menguasai seni keceribonan secara menyeluruh dan diperkuat dengan adanya tingkat kesadaran masyarakatnya yang tinggi akan menjunjung harkat derajat serta martaban dari peradaban seni budaya lokal khas Cirebon ini. Hingga kini seni Tari Topeng Cirebon mulai dikenal diseluruh penjuru tanah Pasundan, khususnya wilayah Utara Jawa Barat. Pengembangan seni budaya terus digiatkan oleh sinergi berkuatan dari Pemerindah Daerah (pemda) Kota Cirebon (Agus Sukmadi).

Wassalamualaikum wr.wb
Terimakasih telah membaca teman-teman :)

Sabtu, 21 Desember 2019

Iniloh Sejarah Tari Topeng Klana Cirebon!



Haloo..!! Sahabat literasi??? Mana suaranya yang hobi baca nihh. Tepat sekali, ini adalah halaman yang cocok untuk mengisi waktu luang kalian buat menambah wawasan nihh, terutama mengenai sejarah tari topeng klana cirebon sendiri. Untuk tidak terlalu berbasa-basi, selamat membaca dan selamat bernostalgia😍


6. SANGGAR PURBASARI-TARI TOPENG KLANA

a). SEJARAH TARI TOPENG KLANA CIREBON




     Salah satu dari jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian topeng klana ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu seperti Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan secara bersama-sama dan biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.
     Tari Topeng Klana ini merupakan rangkaian gerakan tari yang menceritakan sang Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan dari sang Ratu Kencana Wungu, sampai kemudian berusaha mendapatkan pujaan hatinya. Akan tetapi upaya pengejarannya tidak mendapat hasil. Kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikannya kemudian membeberkan segala tabiat buruknya.
Pada dasarnya, bentuk serta warna topeng akan mewakili karakter atau watak dari tokoh yang dimainkan. Klana, dengan topeng dan busana yang didominasi oleh warna merah mewakili karakter yang tempramental. Pada tarian ini, Klana yang merupakan orang yang serakah, penuh amarah, serta tidak dapat menjaga hawa nafsu yang divisualisasikan ke dalam gerakan langkah kaki yang panjang-panjang dan juga menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka dan jari-jari yang selalu mengepal.
Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang gagah, marah, mabuk, atau tertawa terbahak-bahak. Tarian ini dapat dipadukan dengan irama Gonjing yang kemudian dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya yang terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) serta bagian ngedok (tari yang memakai topeng).
     Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
     Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.
Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton.
Tepat sebelum bagian akhir tarian ini, penari biasanya berkeliling kepada tamu yang datang untuk meminta uang. Ia berkeliling dengan mengasonkan topeng yang dipakainya sebagai wadah uang pemberian penonton. Bagian ini disebut dengan Ngarayuda atau Nyarayuda, simbol dari raja kaya raya yang masih tidak merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, hingga terus merampas sebanyak-banyaknya harta rakyat kecil tanpa mempeduikan hak-haknya.
Inilah kiranya yang menginspirasi  Nugraha Soeradiredja ketika menciptakan Tari Klana.
   
     Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana. Yang pasti, tari ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.
     Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada perempuan dalam lingkungan kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Karenanya, dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah.
     Sejalan dengan perkembangannya, kini perempuan juga banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari ini cenderung energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.
Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana raja-raja di Pulau Jawa sebelum kemudian berkembang di daerah Cirebon.
     Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari ini menjadi sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Nahhh mungkin sampai disitu dulu yang aku bisa paparkan. Mohon maaf jikalau masih banyak padanan kata yang kurang tepat, karena masih proses belajar hehe. Saran dan komentar nya aku tunggu yaaaa. Terimakasih
Sampai jumpa...

Selasa, 17 Desember 2019

SEJARAH TARI TOPENG KLANA



Assalamualaikum wr.wb
Hallo teman-teman! Kali ini kita bakal bahas tentang apasih tari topeng kelana itu? Berhubung di SANGGAR PURBASARI ini lebih sering menampilkan tari topeng kelana. Yuk kita baca...

Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Cirebon, termasuk Indramayu, Losari, Jatibarang, dan Brebes. Tarian ini salah satu tarian di tatar Parahyangan. Di Cirebon, tari topeng ini banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan ataupun cerita yang ingin disampaikan oleh para penari. Terkadang tari topeng akan dimainkan oleh satu penari dengan tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa penari.

Salah satu dari jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon  yang paling sering dimainkan adalah Tari Topeng Klana. Tari topeng klana ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu seperti Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan secara bersama-sama atau digabungkan dan biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.

Tari Topeng Klana ini merupakan salah satu gerakan tari yang menceritakan sang Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan dari sang Ratu Kencana Wungu, sampai kemudian sang prabu minakjingga (klana) mulai berusaha mendapatkan sang pujaan hatinya Sang Ratu Kencana Wungu. Akan tetapi upaya untuk pengejarannya tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya. Sang Prabu minakjingga ( klana ) ini pun sangat marah dan kecewa. Kemudian kemarahan yang tidak bisa lagi disembunyikannya dan dibendung memutuskan untuk membeberkan segala tabiat buruk dari Sang Ratu Kencana Wungu.

Pada dasarnya tari topeng klana ini bentuk serta warna topeng akan mewakili sebuah karakter atau watak dari tokoh yang dimainkannya. Klana, dengan topeng dan busana yang didominasi oleh warna merah mewakili karakter yang sangat tempramental. Pada tarian ini, Klana yang merupakan orang yang memiliki watak serakah, penuh amarah, serta tidak dapat menjaga hawa nafsu yang dimilikinya akan divisualisasikan ke dalam gerakan - gerakan tubuh seperti langkah kaki yang panjang-panjang dan juga menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka dengan jari-jari yang selalu mengepal.

Sebagian dari gerak tari klana ini menggambarkan seseorang yang sangat gagah, mudah marah, seseorang yang mabuk, atau seseorang yang tertawa terbahak-bahak. Tarian ini dapat pula dipadukan dengan irama Gonjing yang kemudian dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya yang terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) serta bagian ngedok (tari yang memakai topeng).
Beberapa dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang. Bagian kedua, adalah Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.


Sejarah Tari Topeng Kelana
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali menciptakan tari topeng kelana ini. Yang pasti, tari topeng klana ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Singasari. Hal tersebut salah satunya dibuktikan oleh adanya catatan dalam sejarah Kerajaan Singasari yang terdapat pada Kitab Negara Kertagama yang menggambarkan Raja Hayam Wuruk yang sedang menari dengan menggunakan topeng yang terbuat dari emas.

Dahulu tari topeng kelana diyakini sebagai tari yang hanya dapat dipentaskan di dalam lingkungan kerajaan saja. Tari ini dibawakan oleh raja dan hanya dipertontonkan kepada para perempuan dalam lingkungan sekitar kerajaan, seperti para istri raja, mertua, hingga ipar perempuan raja. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu tari topeng kelana dinilai lebih bersifat spiritual daripada sebagai sarana hiburan. Secara umum, tari topeng kelana terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian baksarai dan ngedok. Baksarai merupakan pementasan tari ketika para penari belum mengenakan topeng, sedangkan ngedok merupakan bagian saat para penari sudah mengenakan topeng. Tari topeng kelana biasanya dipentaskan oleh seorang laki-laki, tapi pakem tersebut telah berubah. Sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, tari topeng klana pun juga mengalami perkembangan dari zaman ke zamannya, kini perempuan juga diperbolehkan mempelajari tari topeng klana dan  banyak yang mementaskan tarian topeng kelana. Tari topeng kelana biasa dipentaskan oleh 4-6 orang penari. Gerakan dalam tari topeng klana ini cenderung lebih energik dan bersemangat, tapi tetap memerlukan keluwesan tubuh untuk bisa mementaskannya. Dilihat dari gerakan dan topeng yang dikenakan, tari ini merupakan penggambaran dari seseorang yang berperilaku buruk, serakah, arogan layaknya tokoh Rahwana dalam pewayangan.

Banyak yang percaya bahwa tari topeng kelana ini merupakan tari yang sudah ada di kalangan istana, para raja di Pulau Jawa sebelum kemudian mulai berkembang di daerah Cirebon.

Di kalangan masyarakat Cirebon, tari topeng kelana merupakan tari yang boleh dipentaskan oleh siapa saja. Fungsi tari topeng klana ini sebagai sarana hiburan. Dengan iringan musik gojing yang meriah dan bersemangat, tari topeng kelana menjadi pementasan yang ciamik untuk ditonton masyarakat sekitar.

Tari topeng Klana sering pula disebut dengan topeng Rowana. Sebutan itu mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh wayang Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji. Di Cirebon, topeng Klana dan Rowana kadang-kadang diartikan sebagai tarian yang sama, namun bagi beberapa dalang topeng, misalnya Sujana dan Keni dari Slangit; Sutini dari Kalianyar dan Tumus dari Kreo; membedakan kedua tarian tersebut, hanya kedoknya saja yang sama. Jika kedok Klana yang ditarikan itu memakai kostum irah-irahan atau makuta Rahwana di bagian kepalanya dan di bagian punggungnya memakai badong atau praba, maka itulah yang disebut topeng Rowana. Kostumnya jauh berbeda dengan topeng Klana dan kelihatan sangat mirip dengan kostum tokoh Rahwana dalam wayang wong.

Dalam pertunjukan topeng hajatan, yakni setelah tari topeng tersebut selesai, penari biasanya melakukan nyarayuda atau ngarayuda, yakni meminta uang kepada para penonton, tamu undangan, pemangku dan panitia hajat, para pedagang, dan lain-lain. Ia berkeliling seraya mengasong-asongkan kedok yang dipegang terbalik–bagian dalamnya terbuka dan bagian wajahnya menghadap ke bawah–dan kedok berubah fungsi menjadi wadah uang. Mereka memberikan uang seikhlasnya tanpa merasa ada suatu paksaan. Setelah merasa cukup, penari kembali ke panggung dan sebagai rasa terima kasih, ia kembali mempersembahkan beberapa gerakan tari topeng Klana, sebagai tarian ekstra.

Nyarayuda atau ngarayuda adalah sebuah pesan moral atau simbol yang mengingatkan kita tentang bagaimana sebaiknya beretika di masyarakat. Klana adalah seorang raja yang kaya raya, yang tak kurang suatu apapun, namun ia masih merasa kekurangan, merasa segalanya belum cukup, sehingga ia tetap berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya harta tanpa memperdulikan apakah itu hak atau batil. Itulah sebenarnya pesan yang ingin disampaikan nyarayuda, yang artinya bukan semata-mata mengemis. Hidup, sebaiknya lebih banyak memberi daripada lebih banyak meminta. Itulah pesan yang ingin disampaikan pada tari topeng klana ini.

Terimakasih sudah membaca! Wassalamualaikum wr.wb

Minggu, 15 Desember 2019

PROSES PEMBUATAN TOPENG



Assalamuaalaikum wr.wb
Hallo teman – teman balik lagi nih sama kita jangan bosen – bosen yah! Kali ini kita bakal bikin artikel tentang proses pembuatan topeng itu sendiri yuk kita baca...

Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang  sangat tepat,  serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya loh.  Bahkan ada juga seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga memakan waktu sampai  satu hari, menurut keterangan dari Ki Kandeg (ahli pembuat topeng Cirebon) pada masa lalu kayu yang biasa digunakan untuk pembuatan topeng adalah kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga dan kayu Lame. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok ( bahasa Indonesia : topeng ) diantaranya adalah kesenian tari Topeng khas Cirebon. Topeng Cirebon ini dibuat oleh seorang ahli kedok yang cukup mumpuni, biasanya keahlian para ahli kedok berkembang seiring dengan perkembangan kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok tersebut dimana keahliannya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu ahli pembuat kedok atau topeng yang terkenal diantaranya adalah Ki Waryo putera dari maestro kesenian Cirebon Ki Empek.

Filosofi topeng Cirebon

Topeng dalam filosofi kebudayaan Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok atau topeng  dalam artian penutup wajah, namun topeng juga dipandang sebagai hiasan yang dipasang menempel pada bagian depan sorban atau biasa disebut juga sebagai penutup kepala,  hal tersebut terbukti dengan adanya ungkapan di masyarakat Cirebon yang berbunyi ketop-ketop gopeng yang memiliki arti hiasan pada bagian depan sorban yang dibenarkan oleh mimi Wangi Indriya (maestro tari Topeng Cirebon gaya Tambi).

Sejarah topeng Cirebon

Pada masa awal munculnya kesenian topeng khas Cirebon terutama pada masa kesultanan Cirebon kesenian yang berkaitan dengan topeng atau kedok merupakan kesenian yang bernafaskan Islam karena digunakan sebagai sarana dakwah dalam penyiaran agama Islam.
Topeng pada masa kesultanan Cirebon
Pada masa kekuasaan Sunan Gunung Jati di kesultanan Cirebon kesenian topeng dikaitkan dengan sarana dakwah Islam,  Sunan Gunung Jati melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif dengan masyarakat daerah sekitar  salah satunya adalah dengan kesenian Topeng Cirebon.
Pada masa yang sama atau pada tahun yang sama, Sunan Kalijaga juga membantu penyebaran dakwah Islam dengan menggunakan kesenian tari  topeng Cirebon,  menurut para ahli budayawan Cirebon Toto Suanda, Sunan Kalijaga mengajarkan kepada murid-muridnya yaitu Pangeran Bagusan, Ki buyut Trusmi dari desa Trusmi, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon dan Pangeran Losari tentang kesenian topeng Cirebon, dari merekalah kemudian kesenian tari topeng Cirebon menyebar ke berbagai wilayah seperti wilayah Indramayu, Majalengka dan wilayah-wilayah lainnya yang kemudian berkembang menjadi pelengkap penampilan dari gaya-gaya tari Topeng Cirebon.

Cara Pembuatan topeng khas Cirebon



Langkah-langkah pembuatan topeng Cirebon adalah sebagai berikut:

1. Kayu gelondongan atau kayu yang masih utuh dan sudah dipotong – potong dibentuk menjadi bentuk segitiga  dan dihaluskan permukaannya
2. Mulai dipahat sedikit demi sedikit terutama untuk peletakan bagian - bagian wajah seperti mata, pipi, dan bibir. Jangan lupa  bagian hidung harus lebih timbul dari bagian lainnya.
3. Setiap permukaan wajah mulai dibentuk dengan menggunakan alat ukir seperti pahat
4. Setelah bentuk mulai  cukup rapih, kemudian seluruh permukaan wajah diolesi oleh cat dasar,  kemudian diamplas.
5. Diamkan cat hingga cat mulai mengering, jika cat  mulai kering,  langkah selanjutnya adalah mulailah bentuk wajah topeng itu  dan didandani dengan menggunakan cat warna.  Tentu saja disesuaikan dengan jenis topeng yang ingin dibuatnya.

Semua jenis topeng yang di buat ini akan dikenakan pada saat pementasan tari topeng khas daerah Cirebonan yang diiringi dengan alat musik  gamelan.

Jenis –jenis Topeng Cirebon yang paling pokok atau paling utama ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda yaitu sbb:

1. Topeng Panji
Topeng Panji yang berwarna putih bersih ini melambangkan kesucian bayi yang baru lahir.
2. Topeng Samba (Pamindo)
Topeng Samba ini  menggambarkan topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah
3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang ini wajahnya menggambarkan seorang remaja
4. Topeng  Tumenggung atau Patih
Topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab
5. Topeng Kelana ( Rahwana )
 Topeng Kelana ini topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah
Menurut Hasan Nawi, salah seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.

Selain lima topeng yang ada biasa ditampilkan, menurut Ki Waryo (seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan ) pada masa lalu didalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu yang dibuktikan dengan keberadaan topeng ini yang tersimpan pada dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan.

Proses pembuatan topeng Kencana Wungu:
Proses Awal pembuatan topeng Kencana Wungu oleh Ki Waryo ( seorang ahli pembuat topeng sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan ) dengan bahan baku dari kayu Jaran.

Pewarisan keahlian
Pewarisan keahlian dari pembuatan topeng khas Cirebon ini biasanya dilakukan secara turun temurun dari generasi tua ke generasi muda yang sudah berjalan selama ratusan tahun dan ada pula proses pewarisan keahlian yang dilakukan dengan cara bertahap seperti  pembelajaran dari guru kepada muridnya.

Tukang kedok

Ki Sujana Priya salah satu seorang seniman dari beberapa tukang kedok (bahasa Indonesia : ahli pembuat topeng) di Cirebon, beliau mengatakan jika  keterampilan membuat kedok beliau pelajari dari Ki Kandeg sekaligus sebagai seorang pelaku Wayang Wong gaya khas daerah Cirebon.
Ki Waryo, putera dari Ki Empek ( atau yang biasa disebut maestro kesenian daerah Cirebon ). Ki Waryo mewarisi bakat dari keluarganya sebagai seorang seniman multitalent kesenian di Cirebon,  salah satu dari keahlian Ki Waryo adalah membuat kedok khas daerah Cirebon.

Tentunya membuat sebuah karya seni seperti topeng butuh keahlian dan ketelitian yang sangat dibutuhkan dalam proses pembuatannya. Jadi teamn – teman tidak sembarang orang yang dapat melakukan pembuatan topeng ini yah.. perlu keahlian khusus.

Bagaimana nih ... informasi dari artikel yang kita sajikan ini? Cukup menarik bukan ... sekian dulu yang dapat kita informasikan mengenai topeng khas daerah cirebon ini yah... mohon maaf jika ada salah- salah dalam penulisan atau hal – hal yang tidak sesuai. Terimakasih telah membaca! :)

Wassalamualaikum Wr.Wb

FILOSOFI TOPENG DI CIREBON


               FILOSOFI TOPENG DI CIREBON

Assalamualaikum wr.wb teman-teman! Balik lagi nih sama blog kita, Kali ini kita bakal ngebahas tentang aneka ragam jenis Topeng pada Tari Tradisional tari topeng ini. Selamat membaca!..

Kesenian Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu warisan budaya dan sejara di Kawasan atau daerah sekitaran pintura. Di Cirebon tari topeng memiliki dua varian, yaitu Topeng Babakan Lima Wanda dan Topeng Lakon. Lazimnya berbagai daerah di Nusantara, Cirebon juga memiliki tarian tradisional yakni tari topeng yang memiliki berbagai jenis dengan keunikannya dan makna yang terkandung di dalmanyya pada setiap masing-masing tarian.
Topeng sendiri sebenarnya memiliki makna atau simbol dari perjalanan hidup manusia jadi jenis-jenisnya itu maknanya sbegai perjalanan hidup
Berikut ini ragam jenis Topeng pada Tari Topeng Cirebon yang kini mulai langka loh…
1. Topeng Panji
Topeng Panji ( Mapan Ingkan Siji ) atau yang berarti  senantiasa bergantung pada sang pencipta hingga kematian seseorang itu tiba ) .
Tarian ini melambangkan kesucian anak yang baru lahir, putih, bersih, tabularasa ibarat bayi yang baru lahir. Warna pada topeng panji ini adalah putih polos serta hanya terdapat mata, hidung, mulut tanpa guratana lainnya hingga pakaian juga berwarna serba putih, seperti kata pepatah yang mengatakan jika semua orang atau manusia terlahir bagai selembar kertas putih, bersih tanpa noda sekecil apapun.  Gerakan pada tari topeng ini sangatlah hemat, sederhana dan tenang meskipun tarian tari topeng panji ini diiringi denagn suara alat musik yang penuh dengan dinamika. Tari topeng panji ini juga memiliki makna juga loh yaitu tarian yang menunjukan manusia yang sangat suci dan tidak mudah dapat tersentuh oleh hiruk pikuk masalah duniawi yang mengarah pada hal-hal yang negative atau mengarah kepada hal yang buruk. Tari topeng panji ini terkadang sedikit membosankan karena waktunya yang sangat lama dan gerakannya yang tidak banyak dan sangat sederhana hanya Gerakan “ adeg-adeg ”  tapi... jangan salah loh, tari topeng Panji ini justru memiliki makna yang sangat dalam jika kita mampu memahaminya.
2. Topeng Samba
Topeng Samba ( Saban Dina ) atau yang memiliki arti menyembah atau ibadah setiap hari. Untuk jenis topeng samba ini, kehidupan masyarakat Cirebon ini digambarkan memasuki fase biologis anak-anak yaitu kelincahan. Ini terlihat dari tarian pada Topeng samba yang menunjukan tanda-tanda dari keceriaan dan selalu hidup berbahagia. Tari topeng samba ini menarikan dengan gaya yang sangat centil, lucu, genit, lincah dalam mengikuti irama musiknya dan sangat kekanak-kanakan yang menunjukan kesegaran ekspresi dari topeng samba itu sendiri, Tapi masih sangat ragu dan kurang luwes. Topeng Samba ini berwarna kuning gading agak putih bersih tetapi ada sedikit aksen atau hiasan di wajah atas seperti gambar rambut. Untuk kostum topeng samba ini berwarna hijau daun.
3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang ( Arum Ingkang Hyang lan Ramyang – Ramyang ) atau yang berarti sifat labil dari seseorang yang menginjak pada fase remaja dan sedang mencari jati dirinya yang sesuai tuntunan dari Tuhan dan Agama yang dianutnya.
Tari topeng tradisional yang menggunakan topeng rumyang ini menggambarkan atau simbol dari masyarakat Cirebon yang memasuki pada fase remaja atau akhil baligh yang mulai mencari jati dirinya sendiri. Topeng rumyang ini juga berwarna merah jambu yang sangat manis sebagai simbol dari keremajaan masyarakat Cirebon. Dari gerakan tari topeng rumyang ini mulai menunjukan ketegasan dan terstruktur dengan baik tetapi masih ‘ labil’ terlihat dari gerakannya yang berulang-ulang. Tari topeng ini memiliki ukiran yang sangat sederhana, dengan warna dasar pink atau merah muda.
4. Topeng Tumenggung

 Topeng Tumeggung ( Ratu Hyang Agung ) atau yang memiliki arti prinsip hidup untuk memilih dan     memilah mana yang benar atau yang salah, pemimpin yang adil dan sangat bijaksana.
Tarian topeng Tumenggung ini menggambarkan manusia yang sudah memasuki masa dewasa dan sudah menemukan jati diri yang sebenarnya. Diantara Lima Wanda babakan topeng Cirebon, topeng tumenggung merupakan satu-satunya topeng yang menggunakan atribut topi. Topeng tumenggung ini menggambarkan masyarakat Cirebon yang sudah memasuki fase dewasa dan mapan yang memiliki gerak tenang, mantap, tegas, berkepribadian, bertanggung jawab, memiliki jiwa korsa yang paripurna dan sangat dewasa. Pada struktur gerak, topeng tumenggung ini seperti bagian dari tayubdan sangat jauh berbeda dengan topeng yang lainnya, topeng yang digunakan memiliki kumis serta guratan – guratan yang berwibawa dan berwarna merah kecoklatan. Untuk kostum tari topeng tumenggung ini biasanya penari menggunakan warna baju hitam. Bila dilihat di dalam struktur kerajaan tumenggung memiliki arti sebagai patih atau panglima perang kerajaan.
5. Topeng Kelana
Topeng Kelana ( Kala Ing Kana) yang memiliki arti prinsip hidup untuk berbagi selagi kita ada.
Topeng kelana ini menggambarkan perwatakan dari  seorang raja yang memiliki hawa nafsu dan nafsu tersebut harus dikendalikan atau diarahkan pada kebaikan dan tidak membuat kerusakan. Pada fase terakhir jenis-jenis topeng ini adalah topeng kelana. Sebagian besar orang memaknai topeng kelana ini sebagai simbol kerakusan manusia dan angkara murka. Topeng kenala ini menjadi daya Tarik tersendiri untuk para seniman, budayawan dan para pengamat seni topeng. Bentuk dari topeng kelana ini adalah yang paling rumit juga banyak ikatannya diatas topen. Topeng kelana  berwarna serba merah dengan kumis tebal dan tatapan mata yang sangat tebal serta sangat gagah dan kostum penarinya biasanya menggenakan kostum berawarna merah pekat. Pada gerakannya sendiri tari topeng kelana ini lebih mengutamakan kepada mengaktualisasikan diri, agresif, enerjik dan ekspresif yang merupakan akumulasi dari semua gerakan tari topeng sebelumnya,  namun Gerakan pada tari topeng kelana ini sejatinya menggambarkan sebagai manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu atau amarah. Bahkan ada sebuah pendapat yang mengatakan bahawa jenis topeng yang ada di tari tradisional khas Cirebon ini menjelaskan simbol sedulur papat lima pancer atau empat nafsu dalam diri manusia. Nah teman-teman, pada topeng kelana ini menjelaskan simbol dari tingkatan orang yang paripurna tapi bukan dalam konteks angkara murka, melainkan orang yang sudah sampai pada tingkat aktualisasi diri atau ekspresif.

Sekian dulu informasinya yah teman – teman semuanya ! sampai jumpa di artikel kami yang selanjutnya, mohon maaf jika ada penulisan kata atau hal – hal yang kurang berkenan lainnya  terima kasih sudah membaca artikel kami teman-teman. Sekian, Terimakasih

Wassalamualaikum wr.wb